Usai ujian tengah semester minggu lalu seorang anak di kelasku berpamit, ia memutuskan untuk menyudahi perkuliahan dan pindah ke universitas di kotanya. Aku yang pernah berbincang panjang sebelumnya tetap merasa kaget dengan keputusannya itu, meski saat kali terakhir ia sudah menyebutkan solusi alternatif yang akan diambilnya. Bekerja sambil kuliah-lah yang menjadi alasan terbesarnya untuk pindah karena ia merasa sangat kesulitan membagi waktu.
Sebetulnya pertemuan kami ini adalah kali kedua dalam dua semester yang berbeda. Pada semester sebelumnya ia tak banyak bercerita, baru semester inilah dia cerita tentang pekerjaan yang digelutinya, yaitu sebagai konselor di rumah rehab. Keren sih menurutku, maksudnya dia pasti harus punya stok sabar yang sangat banyak sekali untuk mendengarkan mereka. Meski aku sendiri gak bisa membayangkan secara pasti suasana disana, aku hanya menebak dari apa yang ia ceritakan ketika harus berhadapan dengan mereka yang memberi perlawanan.
Aku teringat satu analogi tentang hidup yang katanya seperti sedang menaiki kereta. Kemana pun kereta itu berjalan tujuan manusia kan tetap satu. Dalam perjalanan itu kita akan terus bertemu dengan manusia lain, ada yang lama bersama dalam perjalanan, ada juga yang hadirnya hanya sekejap. Layaknya perpisahan, tentu ada kesempatan dipertemukan kembali di ruang yang lain. Perjalanan itulah yang akan selalu menjadi teman, memberi pengalaman baru dan keseruan.
Bagiku bertemu dengannya pasti ada maksudnya, selain dari adanya kesan tersendiri. Namun, selain itu, ternyata ada catatan penting dari belajar jarak jauh, terkadang aku jadi bisa mengenal keseharian mereka. Ya, gak semua juga sih, beberapa ada yang tetap jaga jarak seperti laju kendaraan. Itulah yang membentuk mereka, seperti manusia-manusia dalam analogi kereta, ada yang hanya aku lihat sekejap saja, ada yang bisa aku ajak bicara dan ada yang ternyata pernah bertemu dan dipertemukan kembali. Tentu, jika dipertemukan kembali harapannya akan selalu baik, dan tetap menyisakan hal baik.