AES002Purnama
yulitjahyadi
Sunday August 22 2021, 12:30 AM
AES002Purnama

Bulan purnama yang sempat kusinggung dalam blog kemarin seperti menyapa lagi saat kudapati deretan kue bulan yang berjejer di meja panjang sebuah supermarket siang ini. Pertanda bahwa Festval Kue Bulan telah tiba, sebuah perayaan hari raya panen bagi orang Tiongkok yang menandai pertengahan musim gugur.

Seolah diingatkan, lalu kulihat kalender bulan lewat aplikasi di telepon genggamku, dan benar saja, 22 Agustus, bulan kembali purnama.

Purnama memang selalu istimewa, meski jika ia terhalang mendung sekalipun, energinya tetap ada dan senyata air laut yang tetap pasang manakala bulan mencapai penuhnya itu.

Antara yang terlihat dan yang tak kasat mata namun terasa, keduanya seperti selubung dan isinya. Kadang isi menjadi terlihat karena selubungnya, tapi oleh karena selubung pula, isi menjadi ada. 

Bayangkan sebuah balon dan udara yang mengisinya, si udara tak akan tampak nyata tanpa si kulit balon, sementara si kulit tak akan bernama balon tanpa isinya.

Seperti itulah pula jasad dan jiwa, tubuh dan napas.

Aku sering mengambil analogi balon jika sedang bicara tentang napas. Mengantar kesadaran dengan memisahkan napas sebagai isi dan tubuh sebagai selubung. Lalu aku pun sering bermain dengan analogi itu untuk terus memandu seseorang bernapas dengan kesadaran.

"Bayangkanlah tubuhmu yang terisi oleh napas, mengembang dan mengempis bergantian saat bernapas. Rasakanlah kekosongannya bila napas pergi meninggalkanmu, dan rasakan pula saat tubuhmu menjadi penuh oleh napas yang datang", dan seterusnya...

Lalu kembali ke purnama, seorang teman bercerita bahwa ia serasa serigala tiap kali purnama tiba. Berubah ganas dan mudah mendidih. Di kisah lain seseorang menjadi sangat sensitif hingga begitu perasa sampai mudah mewek, atau menjadi sangat aktif hingga begitu kreatif sampai susah tidur. 

Bulan purnama berarti energi bulan berada pada puncaknya dan itu saatnya bulan terekspresi secara penuh pula. Mungkin bisa diamati apa yang terjadi dalam 1-2 hari ini, barangkali terdapati hal-hal yang membantu pengenalan diri. Begitu juga dengan napas, jika analogi balon tadi bisa jadi alat bantu kesadaran akan napasnya, barangkali ada pengenalan diri yang baru karenanya.

Tanpa kesadaran, kita hanya akan memakai 1/3 dari kapasitas paru-paru untuk bernapas dan mengaktifkan sebagian kecil saja dari kemampuan otot-otot pernapasan kita.

Jika memang demikian, berarti kita belum sepenuhnya memanen manfaat dari napas yang diberi secara cuma-cuma ini. Mungkin  pula itu bisa berarti, pemberian gratis dari Sang Pencipta lainnya berupa potensi diri atau talenta, belumlah terekspresi secara purna juga.

You May Also Like