AES#016 Menstruasi dan Perempuan (1)
Murdeani
Wednesday May 21 2025, 3:15 PM
AES#016 Menstruasi dan Perempuan (1)

Sudah lama aku ingin menuliskan ini.. sebagai perempuan yang mulai memasuki masa perimenopause, dan memiliki anak perempuan remaja. Dulu aku tak pernah merasa menstruasi ini begitu penting, karena yang diterima olehku dari pendidikan di sekolah, dari ajaran di keluarga, juga dari televisi dan bacaan di majalah, ia hanya soal fisik. Memang tubuh manusia diciptakan berbeda dengan laki-laki karena ia punya fungsi untuk hamil dan melahirkan anak. Menstruasi tiap bulan, ya dijalani saja. Aku mengalami nyeri haid yang level 0 hingga level 5 bahkan sampai ke IGD karena tak tahan ingin minta disuntik. Dan yang paling sering membuatku malu dan repot adalah karena aku sering sekali tembus. Dan dulu, menstruasi perempuan dianggap bahasan yang tabu.

Menarcheku (menstruasi pertama) saat aku berusia 14 tahun, di kelas 2 SMP. Jadi jika Boni hingga saat ini berusia 14 tahun dia belum menarche, mungkin memang belum saatnya. Karena akupun dulu baru mens setelah teman-teman perempuanku sudah duluan. Ada kekhawatiran di diri Boni mengapa tinggal ia sendiri yang belum mens di kelasnya. Dari observasiku, tidak ada yang mengkhawatirkan karena tanda-tandanya sudah ada. Jadi lebih banyak kupergunakan waktu tunggunya untuk menceritakan seluk beluk soal menstruasi, tak hanya dari sisi fisik, juga dari sisi batiniah dan sejarahnya juga. Bagiku, ini penting agar ia sebagai perempuan bisa lebih memahami tubuhnya, dan menerimanya sebagai sesuatu yang sakral dan patut dihormati.

Jaman modern sekarang, perempuan sudah banyak tercerabut dari kebijaksanaan tubuhnya. Kita sekarang bergerak di dunia yang sangat maskulin, yang bergerak cepat, produktif, dan ini membuat perempuan melupakan bahwa tubuhnya memiliki irama. Bulan sebagai simbol energi feminin pun memiliki fase-fasenya sendiri. Rahim perempuan itu bukanlah sejedar organ fisik, apalagi dianggap mesin, melainkan sebuah ruang sakral yang punya waktu sendiri. Ia bagai portal antara dua dunia: dunia fisik dsn dunia yang lebih “halus”, tempat di mana kehidupan manusia bersemi, berkembang, dan menerima energi dari dua alam sekaligus, yaitu alam batin dan alam fisik.

Cobs kuceritakan dulu sejarah bagaimana kebijaksanaan ini mulai terlupakan. Duluu sekali di jaman kuno, para perempuan tahu bahwa rahim adalah tempat penyimpanan memori jiwa dan garis keturunan. Rahim juga dianggap tak hanya sebagai sarana melahirkan anak, tapi tempat untuk melahirkan ide, intuisi, karya, keputusan.

Sebelum ada kalender masehi, perempuan menghitung waktu dnegan tubuhnya sendiri. Siklus haid diselaraskan dengan fase bulan. Mereka ovulasi saat bulan purnama, dan menstruasi pada bulan baru. Ini karena masa jaman tersebut bumi belum dipenuhi oleh cahaya buatan, suara mesin, dan polusi ritme sosial. Tubuh perempuan saat itu masih sangat selaras dengan siklus alam, terutama bulan.

Dalam kegelapan malam yang alami, tubuh perempuan cenderung berovulasi saat terang bulan (wow kebayang ya, jadi perayaan untuk membuat keturunan 😁), dan menstruasi ketika bulan baru, saat gelap total. Dan karena dulu kekerabatannya sangat erat sesama perempuan, siklus pun jadi tersinkronisasi. Jadi banyak perempuan memang mengalami siklus yang sama, dan saat menstruasi mereka berkumpul di ruang terpisah, di “Red Tent”. Bukan untuk dikucilkan karena dianggap “kotor” dan “tabu”, tapi karena dijaga. Perempuan yang sedang menstruasi dianggap berada di gerbang antara dunia. Jadi mereka diistimewakan agar bisa melambat, berkontemplasi, menerima mimpi, dna mendengar suara batin mereka sendiri. Mereka ditarik dari tugas hariannya agar bisa beristirahat.

(Bersambung ke bagian 2)

---

Post berikutnya: Bagian 2 https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7693/aes017-menstruasi-dan-perempuan-2

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7690/aes015-duduk-bersama-emosi

You May Also Like