AES 1081 The Wait Is Over
joefelus
Friday May 10 2024, 12:09 PM
AES 1081 The Wait Is Over

Where is the moment we needed the most?
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to gray
They tell me your passion's gone away
And I don't need no carryin' on

[Verse 2]
You stand in the line just to hit a new low
You're faking a smile with the coffee to go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces every time
And I don't need no carryin' on

[Chorus]
Because you had a bad day, you're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know, you tell me, don't lie
You work at a smile and you go for a ride

You had a bad day, the camera don't lie
You're coming back down and you really don't mind
You had a bad day
You had a bad day

Di atas adalah 2 verses dan chorus dari salah satu lagu yang saya sukai, dinyanyikan oleh Daniel Powter. Lagu ini selalu menghibur saya dan pada dasarnya mengatakan bahwa dalam hidup sesekali memang kita mengalami saat-saat yang buruk, tapi semua itu pada saatnya akan berubah menjadi baik.

Saya saat ini tidak sedang mengalami hal-hal yang buruk, justru sebaliknya. Saya sedang merasakan banyak hal yang menarik, yang membuat saya bersemangat, yang membuat saya begitu gembira. Sesuai dengan judul dari tulisan ini, saat-saat penantian sudah lewat, sudah berakhir.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk satu-satunya orang yang sudah menemani saya selama lebih dari 35 tahun. Ibu dari anak-saya satu-satunya, yang besok akan, walaupun belum betul-betul resmi karena masih ada 1 hal besar lainnya yang harus dia lakukan, diwisuda sebagai seorang doctor of philosophy!

Saya belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih dalam berusaha meraih cita-citanya. Seseorang yang jatuh bangun dalam menghadapi berbagai rintangan yang tidak mudah. Bahkan ketika berada di saat-saat kritis dimana maut menghadang, dia masih terus gigih dalam berusaha. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan bagaimana saya begitu kagum dengan kualitas dia sebagai seorang pribadi yang luar biasa.

Mungkin terdengar sangat subjektif dalam menilainya. Tapi saya harus mengakui bahwa saya tidak akan pernah menjadi saya seperti sekarang ini jika tidak pernah bertemu dengan dia. Jadi memang apa yang saya ungkapkan sekarang ini sangat subjektif, dan memang sudah seharusnya begitu karena sesungguhnya saya satu-satunya orang yang mengenal dia luar dalam.

Kenapa saya memberi judul cerita hari ini sebagai akhir dari sebuah penantian? Karena memang begitu adanya. Petualangan kami berdua dimulai sejak tahun 1997 beberapa tahun sejak kami bersama. Saat itu saya sedang jatuh sakit, baru saja berhenti bekerja dan dalam kondisi mental dan fisik yang sangat tidak baik.

"Kamu tuh tidak sakit! Cuma stress! Buang itu obat-obatan dari dokter! Orang stress kok dibom obat thypus!" Ini kata dokter Wied di Borromeus, Bandung saat itu. Saya dimarahi dan disuruh pulang. Tubuh saya masih lemah, masih merasa sakit. Tapi karena saya bukan dokter dan yang memarahi saya itu dokter spesialis, ya saya manut saja. Pulang naik angkot ke Buah Batu diantar oleh ibu saya.

Tiba di rumah saya langsung kembali berbaring di atas. Rumah kami di Jalan Buah Batu adalah perumahan dosen, berseberangan dengan gereja dipisahkan sebuah jalan kecil. Tak lama kemudian telepon genggam saya berbunyi. Saya memang menggunakan telepon genggam Ericson yang baterainya sangat berat bisa digunakan untuk menghaluskan cabe untuk membuat sambal hahahaha..

"Jo, aku dapet beasiswa dari Asian Development Bank dan East West Center. Bulan Agustus ke Hawaii." Kata Nina.

"Haaaaa?" Itu reaksi saya satu-satunya karena tidak tahu harus mengatakan apa. Saya bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Nina berminat untuk kembali kuliah untuk mengambil gelar master.

Dokter Wied ternyata benar. Saya hari itu sembuh karena stress saya hilang begitu mendengar kabar gembira tadi. Tahun itu Nina pergi ke Hawaii dan beberapa bulan kemudian saya menyusul. 2 tahun kemudian dia meraih gelar master dan ada sebuah kejutan baru di tahun 1999, dia mendapat perpanjangan bea siswa untuk meraih gelar doktor. Rencana kami untuk tinggal di Hawaii yang awalnya hanya untuk kurun waktu 2 tahun menjadi 5 tahun, Beberapa tahun kemudian Kano lahir, lalu yang rencana awal hanya 2 tahun, kemudian menjadi 5 tahun akhirnya mulur hingga hampir 11 tahun karena Kano memiliki masalah jantung. Pada saat yang sama Nina sudah berada di masa-masa akhir dan melakukan riset untuk gelar doktornya sekaligus juga master untuk Urban Planning. Ini masa-masa sulit karena kondisi kesehatan Kano dan berbagai hal lain sehingga kami memutuskan untuk pulang dan berusaha menyelesaikan study dari Indonesia. Ternyata di Indonesia tantangan jauh lebih berat, apalagi urusan biaya kuliah dan perjalanan yang tidak terjangkau. Cita-cita akhirnya terhenti.

Beberapa tahun di tanah air tidak menghalangi Nina untuk terus berusaha belajar dan meraih cita-citanya. Kesempatan itu kembali muncul ketika Nina memberitahu saya bahwa dia mendapat bea siswa dari Fullbright. Dan petualangan baru pun dimulai lagi.

Banyak hal seru yang saya almi selama lebih dari 25 tahun mengejar cita-cita. Nna harus menggunakan kursi roda 2 kali. Sekali di Hawaii sekali lagi di Fort Collins. Saya mendampingi Nina naik ambulans beberapa kali. Pertama karena kecelakaan di asrama sehingga lutut Nina cidera. Saya harus menyewa kursi roda dari kota lain dan naik bus kota dengan penuh perjuangan. Bus kota di Hawaii tidak memperbolehkan penumpang membawa barang besar, koper tidak diijinkan. Nah bagaimana saya bisa membawa kursi roda? Ya harus kreatif! Saya naiki hahahaha... Ambulans kedua ketika Kano kejang-kejang, dia masih bayi. Lagi-lagi naik ambulans. Rumah sakit menjadi rumah kedua karena Kano harus bolak balik ke dokter 3 kali seminggu untuk perawatan jantung dia. Ya banyak lagi pengalaman seru yang kalau saya ceritakan bisa jadi novel berseri hahahaha..

Di Fort Collins saya harus beberapa kali ke ruang gawat darurat. Nina punya urusan batu empedu, lalu operasi. Kemudian operasi lutut yang kiri, disusul lutut kanan. Lalu kena sepsis, masuk ruang gawat darurat lagi, bahkan ICU hingga melalui masa sangat kritis. Dan terakhir lutut yang sudah hampir 100% sembuh dioperasi lagi karena ada infeksi. Itu bagian-bagian seram dari perjuangan kami.

Fun fact: tahun 1999 ketika Nina wisuda untuk gelar master, dia baru saja kecelakaan. Saat sidang thesis, dia menggunakan kursi roda, dan saat wisuda dia berjalan menggunakan tongkat. Di tanah air wisudawan kalau pria mengenakan jas lengkap, atau baju keren kalau bukan kebaya untuk wanita. Nina di Hawaii mengenakan celana pendek ketika wisuda hahahaha.. Nah besok, Nina juga akan menggunakan tongkat ketika di wisuda karena minggu lalu baru saja dioperasi! Fun fact berikutnya, selama saya mengenal Nina puluhan tahun, lebih dari 75% waktu yang kami lalui bersama dia gunakan untuk belajar! Dia lebih banyak belajar dari pada waktu dia untuk mengajar, sebagai dosen. Hahahaha.. Fun fact terakhir: lebih dari 50% usia pernikahan kami yang sudah melewati kepala 3 dihabiskan di rantau! Semua itu terjadi karena Nina tidak pernah berhenti berjuang mengejar cita-citanya. Dia adalah seorang pelopor dalam keluarganya, generasi pertama yang menjadi sarjana, generasi pertama yang meraih gelar master, bahkan lebih dari 1 master yang dia sandang sekarang dan juga generasi pertama yang meraih gelar doktor. Besok saya akan menyaksikan dia diwisuda, saya akan mengenakan kaus spesial yang saya siapkan jauh-jauh hari, kaus berwarna hitam dengan tulisan, "I survived my wife's doctorate program"! Hahahaha

Foto credit: amazon.com

You May Also Like