Dibilang anjing, iya. Disebut kucing, iya. Bukan anjing juga. Bukan kucing juga. Pertanyaannya, ekornya dimana?
Oh iya, itu dua ujungnya kepala. Hanya mampu mencecap dan mencecar. Mencerna jelas tidak bisa, pembuangan sisa tidak ada.
Pada pertemuan dua kepala, satu badan itu bisa jadi bukan bagian terintegrasi. Itu ada di situ karena tidak bisa tidak ada di situ.
Seperti begini kira-kira rasanya tidak terpahami yang seringkali terucap dari para alumni. Bukan soal memahami anjing & kucing ini.
Malahan soal dipahami anjing & kucing ini. Seringkali, bukan soal kita memahami karya. Justru, soal karya yang memahami kita.
Jadi, memang tidak perlu pemaparan. Pembayaran saja cukup. Karena selalu salah adalah keniscayaan.
Dibilang anjing, iya. Disebut kucing, iya. Bukan anjing juga. Bukan kucing juga. Pertanyaannya, ekornya dimana?
Apapun jawabannya, niscaya selalu salah. Karena yang mengungkap kekurangan akan dikurang-kurangi. Sampai, nanti pergi.