AES03 pencuri buku
innocentiaine
Saturday July 3 2021, 8:57 PM
AES03 pencuri buku

The Book Thief atau Pencuri Buku dibuat berdasarkan novel karangan Markus Zusak dengan judul yang sama. Film yang indah secara penggambaran, pemeranan, pengungkapan. Dan untuk aku, sarat pesan. Mulai dari pesan mengenai dampak kejinya perang dan perbedaan ideologi, pesan mengenai bentuk-bentuk kasih sayang yang bisa sangat beragam namun selalu mengharukan, pesan mengenai pentingnya membangun hasrat belajar membaca, peran buku, keindahan kata-kata, dan bagaimana orangtua menanamkan hal itu pada anak sehingga memperkaya kehidupan dan kepribadian si anak. Juga pesan mengenai persahabatan, kesetiakawanan, pentingnya menepati janji. Meski banyak hal kemudian berbenturan dengan realita dan perjalanan hidup yang terasa absurd.

Tokoh utamanya seorang gadis pembelajar yang gigih, bernama Liesel Meminger. Hans Hubermann, ayah yang sangat memahami dan penuh kasih, sosoknya menginspirasi. Rosa, seorang ibu dengan bentuk kasih yang dibalut sikap dan kata-kata yang keras dan galak. Rudy Steiner, teman terbaik yang menyenangkan dan bersemangat dalam mengejar cita-citanya. Dan Max Vanenberg pemuda Yahudi yang disembunyikan oleh keluarga Hubermann.

Dengan setting Jerman di masa perang dunia ke-2, film ini berfokus pada jalan kehidupan seorang anak perempuan bernama Liesel Meminger. Adik laki-lakinya meninggal karena sakit parah, dan ibunya ditangkap sebagai penganut komunis. Liesel yang belum bisa membaca atau menulis di usia 12 tahun diadopsi oleh Hans dan Rosa, yang tinggal di sebuah kota kecil di Jerman. Pertama kali Liesel belajar membaca bersama Hans, ayah angkat yang sabar dan penyayang. Dengan lembut dan sabar ia mengajak Liesel membaca satu-satunya buku yang mereka miliki. Buku panduan penggali kubur yang ia dapat saat adiknya dimakamkan. Setelah menyelesaikan buku pertama tersebut, dengan antusias Liesel mengajak Hans membaca ulang. Alih-alih membaca lagi, Hans mengajak Liesel ke ruang bawah tanah. Aku suka sekali gagasan pada bagian ini.. Hans membuatkan Liesel kamus raksasa pada dinding-dinding ruang tersebut. Seluruh abjad, dan kata-kata yang sudah mereka baca dari buku tersebut. Namun buku bukan sesuatu yang mudah didapat pada masa itu. Terbayang emosinya saat ia perlu mengikuti upacara pembakaran buku sementara kesukaan membaca sedang bertumbuh subur dalam dirinya. Bagaimana kemudian Liesel mendapatkan buku-buku untuk ia baca, ia tuliskan pada kamus besarnya, ia bacakan untuk Max yang terbaring sakit ketika bersembunyi di rumahnya, dikemas dalam plot yang apik. Demikian pula persahabatan dengan Rudy, yang kemudian menjulukinya dengan pencuri buku.

Rudy : “You are stealing books? Why?”

Liesel : “When life robs you, sometimes you have to rob it back.”

Kehadiran Max yang perlu dirahasiakan menambah tantangan bagi keluarga Hubermann. Di sisi lain, rasa senasib kehilangan ibu membuat mereka segera akrab. Liesel menjadi mata bagi Max yang tidak bisa keluar rumah. Max meminta Liesel bercerita tentang cuaca di luar. Tentang hari yang kelabu, matahari yang tertutup awan seperti tiram perak. Tanpa disadari Max mendorong Liesel menjadi pengamat dan pencerita yang baik. Setelah merayakan natal dengan bermain salju dan membuat orang-orangan salju di ruang bawah tanah, Max memberi hadiah sebuah buku jurnal untuk Liesel.

Max : “Write. In my religion we’re taught that every living thing, every leaf, every bird, is only alive because it contains the secret-word for life. That’s the only difference between us and a lump of clay. A word. Words are life, Liesel.”

Tak lama setelah itu Liesel mulai menghadapi perpisahan dengan orang-orang yang ia sayangi, hingga akhirnya kehadiran kembali malaikat maut dalam kehidupannya. Satu hal lagi, buat aku mendengar malaikat maut sebagai narator dalam film ini memberi kesan antara eerie dan melankolis. Singkatnya, film yang menarik, menginspirasi. 

You May Also Like