Buat teman-teman yang sempat menyaksikan filem Semesta - filem keren yang beberapa tahun lalu diputar di layar lebar, ada satu komunitas yang diliput di bagian akhir filem tersebut. Bumi Langit Institute - didirikan oleh pak Iskandar Waworuntu saya lupa beberapa tahun yang lalu setelah beliau kembali dari Sumatera. Beliau membeli lahan berbatu di perbukitan Imogiri di sana dan mulai sedikit demi sedikit membangun tempat itu dan menerapkan prinsip-prinsip kehidupan berbasis pendekatan Permakultur.
Saya sendiri sudah sempat dua kali berkunjung ke Bumi Langit Institute. Salah satu tempat yang sangat membawa kesan dan pemaknaan yang mendalam buat saya pribadi - maupun dalam konteks Rumah Belajar Semi Palar.
Tempat ini sebetulnya cukup terpencil, ada di perbukitan berbatu ke arah Selatan Jogjakarta. Dari Pendopo Bumi Langit, laut selatan bisa terlihat. Pemandangan yang luar biasa dari sana. Saya sempat menikmati panorama terbenamnya matahari di sana.
Sebelum aktivitas saya di Jogja, setiap pagi saya dapat kesempatan untuk melihat berbagai hal yang dikerjakan oleh warga Bumi Langit. Mulai dari kebun, rumah makan, bangunan, pengolahan limbah dan pengomposan, pembibitan, kandang sapi, dan berbagai tahapan-tahapan pengolahan tanah - untuk mengembalikan kehidupan ke dalam tanah dan lain sebagainya. Ini yang luar biasa bagaiman pak Is dan warga Bumi Langit bisa mentransformasi bukit kering berbatu menjadi kawasan yang hijau, subur dan penuh kehidupan.
Dalam perjalanan pulang ke Bandung di kereta api, entah apa penyebabnya saya sempat meneteskan air mata - sementara mata saya menerawang ke luar jendela, pikiran saya melayang ke mana-mana, batin saya sangat bersyukur mendapat pengalaman beberapa malam tinggal di Bumi Langit Institute, berbincang dengan pak Is, berjumpa dengan warganya. Apakah ini bisa disebut pengalaman spiritual saya juga tidak tahu, tapi itu yang terpikirkan, karena ini salah satu perjumpaan yang sangat mendalam maknanya bagi saya. Setelah kembali dari Bumi Langit inilah saya berkeyakinan bahwa KPB harus bisa kita wujudkan. Dulu saya sempat berangan juga bahwa anak-anak KPB bisa belajar di Bumi Langit. Sejauh ini setahu saya baru Rico yang sempat mampir ke Bumi Langit - saat dia magang - belajar di desa Kandangan, Temanggung.
Kalau balik ditanya kenapa terasa begitu bermakna, jawaban sederhananya hanya satu - di sana saya melihat, merasakan dan mengalami apa yang bisa diistilahkan dengan Kehidupan yang Holistik. Sepuluh tahun perjalanan menekuni pendidikan holistik - saya diantar kak Dhila, kakak yang sempat memfasilitasi di Smipa untuk berjumpa dengan satu ruang kehidupan yang bisa diistilahkan ideal. Ideal dalam pemahaman saya mengenai konteks kehidupan holistik tentunya - di mana manusia hidup dekat dengan alam, warganya terkoneksi langsung dengan apa yang dikonsumsinya sehari-hari. Makan - minum dari apa yang dikelola - ditanam sendiri di kebun. Hidup dalam suasana kedekatan antar warganya sangat akrab - walaupun warganya hadir dari berbagai latar belakang kehidupan. Hidup yang tampak sederhana - tapi terasa sangat utuh dan membahagiakan.
Di bawah ini foto saya di meja sarapan bersama warga Bumi Langit yang saat itu ada di sana. Ini ceritanya nyambung setelah obrolan saya dengan Mr. Shafiq yang duduk di depan saya. Saya sudah menulis tentang ini dan tautan ke ceritanya ada di sini.
Di sebelah kanan Shafiq ada mas Anam - saya menginap di kediaman beliau saat tinggal di Bumi Langit. Mas Anam sendiri juga sudah sempat mampir ke Semi Palar, beliau seorang praktisi Permakultur. Di sebelah kirinya duduk Kaede - seorang mahasiswa dari Jepang yang sedang difasilitasi - belajar bagaimana kembali hidup di pedesaan. Menarik ya. Nah di sebelah kiri - duduk di sebelah saya adalah Ishmail. Dia orang Perancis - kelahiran Algeria. Ini juga menarik kisahnya, seperti Shafiq - dia ingin pindah ke Bumi Langit.
Luar biasa ya. Ini pengalaman sarapan pagi yang sangat ajaib buat saya. Kok bisa di perbukitan berbatu di pelosok Imogiri sana saya bisa sarapan pagi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Tempat apa ini? Spontan pemikiran ini muncul dalam benak saya. Sangat - sangat berkesan dan tidak terlupakan. Tidak kalah spesial, semua makanan yang kita santap adalah hasil tanam Bumi Langit.
Saya cukup banyak dapat kesempatan untuk berbincang langsung dengan pak Iskandar. Kesempatan yang sangat saya syukuri. Kita berbincang tentang banyak hal - mulai dari Google, agama, kapitalisme dan lain sebagainya. Seru banget. Kita biasa makan malam di meja kayu ini - di dapur kediaman pak Iskandar. Dapur yang cukup besar karena cukup banyak warga Bumi Langit yang tinggal di sini dan sepertinya kerap makan malam bersama.
Setelah makan malam, biasanya obrolan berlanjut sampai sekitar jam sepuluh malam - dan kamipun kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat. Pagi-pagi warga Bumi Langit bekerja di kebun dan mengelola kesibukan mereka masing-masing. Selama tiga malam di sana, ritual semacam itulah yang hadir dalam keseharian warga Bumi Langit.
Kehidupan yang utuh dan membahagiakan semestinya jadi angan-angan kita semua. Mudah-mudahan bukan hanya angan-angan tapi juga pencarian kita semua. Peradaban moden sudah membawa kita ke pola kehidupan yang serba terfragmentasi dan tidak terkoneksi. Bahkan mendiskoneksi diri kita dengan kedirian kita yang sejati. Kehidupan modern memang sangat-sangat mendistraksi dengan segala teknologi yang terus hadir bertubi-tubi. Kehidupan berjalan semakin cepat - kita semakin sulit untuk memaknai apa yang dianugerahkan Tuhan lewat hidup dan pengalaman kehidupan yang bisa kita dapatkan.
Beberapa teman yang kerap berdiskusi dengan saya tahu bahwa saya punya angan-angan untuk hidup di desa - mendirikan sekolah di desa - supaya apa yang kita konsepsikan sebagai sesuatu yang holistik bisa lebih nyata dialami dan dirasakan. Supaya kita (dan anak-anak kita) sadar bahwa ada pilihan untuk hidup yang lebih utuh, bermakna dan membahagiakan. Jadi mudah-mudahan lewat cerita ini bisa lebih dipahami pemikiran-pemikiran di belakangnya. Salam.
Ini nyambung juga dengan posting di website Semi Palar tahun 2014 : Berkenalan dengan Bumi Langit Institute