Pernah dengar atau mungkin nonton film tentang Witch Hunter? Sebelum era patriarki dan agama institusional menguasai daratan Eropa dan sekitarnya, perempuan yang paham siklus bulan, herbal, penyembuhan, dan siklus darah tubuh perempuan dianggap sebagai penjaga pengetahuan suci. Mungkin seperti tabib atau healer ya, aku agak kurang nyaman menyebutnya dukun, karena konotasinya sudah bergeser. Namun saat patriarki dan sistem kolonial menyebar, perempuan yang memegang pengetahuan tentang kebijaksanaan tubuh dan alam ini dianggap sebagai ancaman. Tubuh perempuan jadi simbol sesuatu yang tidak bisa “dikendalikan”, maka perlu dijinakkan.
Maka di awal abad ke-15, terjadilah perburuan terhadap perempuan yang tahu siklus haid dan bulan, menguasai pembuatan ramuan herbal penyembuhan, mendampingi kelahiran dan kematian, hidup sendiri atau tak tunduk pada tatanan patriarki sering diberi label sebagai “penyihir’. Darah menstruasi juga dikesankan sebagai darah yang “kotor” atau bahkan “berbahaya”, padahal sebelumnya banyak budaya menganggapnya darah yang “sakral”. Menurut catatan sejarah ada 40.000 - 60.000 perempuan dieksekusi selama perburuan penyihir di Eropa dari awal abad ke-15 hingga abad 18.
Yang dihabisi bukan hanya sekedar tubuh, tapi juga adalah ingatan kolektif manusia tentang kebijaksanaan tubuh, hubungan sakral antara tubuh dan alam, kemampuan perempuan untuk menyembuhkan tanpa sistem. Kini, banyak perempuan kehilangan rasa percaya terhadap tubuhnya sendiri, banyak remaja terjerumus ke pergaulan bebas yang tak menghormati rahimnya, darah haid jadi tabu, dan perempuan mulai menjauh dari siklus alamiahnya sendiri. Lihat bagaimana iklan pembalut mengesankan agar gerak dan produktivitas perempuan tak dibatasi oleh menstruasi. Nyeri haid? Tinggal minum obat. Minta cuti haid? Dianggap lemah. Serba salah.
Di sini aku bukannya menyarankan agar perempuan menghentikan kegiatannya sama sekali saat haid. Memang dunia modern sudah berbeda dan kita tak bisa begitu saja mengikuti apa yang dilakukan oleh leluhur kita. Kita bisa integrasikan kebijaksanaan tubuh ini dengan jalan tengah dan paling sesuai situasi kita. Be gentle to ourselves.
Menstruasi bukan sekedar proses biologis. Ia adalah bagian dari sejarah perempuan yang pernah ditekan, ditakuti, dibungkam, dan mungkin sekarang pelan-pelan sedang kita sembuhkan?
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7709/aes018-cinta-tanpa-syarat
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7692/aes016-menstruasi-dan-perempuan-1