Jika suatu saat kamu tak merasa dicintai oleh dunia, oleh orang tuamu, oleh pasanganmu, oleh anakmu, oleh orang yang kamu cintai ..
Ingatlah ini: Kamu tak harus jadi "lebih baik" atau "lebih rajin" atau "lebih sabar" atau "lebih pintar" atau "lebih rupawan" atau dengan terms and condition apapun untuk layak dicintai. Ini adalah cinta tanpa syarat dari dalam dirimu sendiri.. Yang melihatmu saat kamu jatuh, yang memelukmu meski kamu gagal memenuhi ekspektasi.. Yang tetap hadir setia saat kamu merasa tak berharga..
Karena memang, cinta dari orang lain, bahkan yang paling dekat, bisa jadi datang dengan syarat. Syarat bahwa kamu harus berubah jadi lebih baik. Harus lebih rajin. Harus lebih konsisten. Harus rapi. Harus kuat. Harus sabar. Dan kalau tidak, kamu merasa tak layak dicintai. Karena memang, dunia terkondisikan seperti itu. Kita belajar cara mencintai dengan syarat.
Tapi maukah kamu, memulai mencintai dirimu sendiri tanpa syarat? Mungkin dunia pun perlahan akan belajar mencintaimu dengan cara yang sama. Atau jika tidak pun, kamu tetap utuh. Karena kamu sudah berada di pelukan yang paling penting. Tapi yang jelas, dunia akan perlahan belajar tentang cinta tanpa syarat yang mereka rasakan darimu.. Ketika kamu mulai mencintai dirimu sendiri. Karena kamu akan memancarkan Cinta itu ke sekelilingmu. Dan mereka mulai ingat keberadaan Cinta itu, Cinta yang sama, dalam diri mereka... Yang selama ini tertutup oleh luka-luka, ilusi, dan bayangannya sendiri.
Kamu sudah utuh, bahkan dalam keberantakan. Dan dari keutuhan itu, kamu selalu cukup dicintai.
Dan jika kamu bertanya-tanya, apakah cinta tanpa syarat akan membiarkan seseorang stuck dan tidak melakukan perbaikan diri, maka biar kubisikkan sesuatu... Cinta tanpa syarat justru akan menciptakan ruang aman untuk pertumbuhan, bukan tekanan untuk perbaikan. Bisa kau rasa bedanya? Yang satu memungkinkan untuk pertumbuhan otentik, yang satu berdasar pada standar dari luar.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7803/aes019-pelajaran-kesadaran-dari-kucing
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7693/aes017-menstruasi-dan-perempuan-2