AES#019 Pelajaran Kesadaran dari Kucing (1)
Murdeani
Thursday August 7 2025, 10:00 AM
AES#019 Pelajaran Kesadaran dari Kucing (1)

Pagi tadi sehabis mengantarkan Boni, aku melihat kucing melintas di komplek. Pemandangan yang biasa banget, karena memang di komplek kami banyak yang punya kucing. Kucing-kucing ini pakai kalung yang menandakan ada pemiliknya, dan bukan kucing liar. Entah kenapa momen tadi membuka suatu aliran pemahaman tentang dinamika bertetangga dengan pemilik kucing. Jadi ceritanya begini. Kami berdua, seringkali dibuat mumet dan kesal dengan perilaku kucing tetangga yang suka pup dan pipis di halaman rumah kami. Kanopi car port kami dari kaca dan jelas sekali ada pup kucing bertengger di situ, membuat geram deh pokoknya. Kalau di rumput mah sudah terlalu sering, sampai2 ada bagian rumput yang kami ganti dengan bebatuan. Beres pengerjaan itu, sorenya udah ada pup kucing di batu. Buka pintu di pagi hari berharap menghirup udara segar, eh yg tercium semilir bau pup kucing, wajar kami murka. Sony lebih murka lagi, karena motor kesayangannya suka jadi tempat pipis kucing.

Di tengah kekesalan, kami suka berdiskusi, tentang harusnya ada aturan tidak membiarkan kucing peliharaan dilepas ke luar rumah. Tapi kupikir mungkin ya sulit juga, karena bagaimanapun kucing butuh bersosialisasi, eh maksudnya dibiarkan hidup di luar. Kucing juga bisa jd predator bagi hewan seperti tikus dan ular. Tapi itu hanya obrolan kami saja, dan kami mencoba cara-cara lain seperti semprot-semprot aroma yg kucing tidak suka, menutup motor, dsb. Kecuali menaruh botol-botol berisi air, wlaaupun cara itu banyak dilakukan orang lain. Simply karena halaman rumah jadi terlihat silly 😅. Ada loh, tetangga lain yang halaman rumahnya dihiasi bukan hanya botol, tapi galon bekas berisi air. Mungkin sudah frustrasi juga dengan pup kucing.

Apa yang baru aku sadari tadi pagi adalah… bahwa kejadian kucing pup di halaman rumah bukan cuma soal kesalahan si kucing atau pemiliknya, namun undangan bagi kami untuk mengenali rasa yang belum selesai di dalam. Bukan cuma mencari cara agar kucing tidak pup di halaman rumah kami, tapi menyadari kekesalan, kemarahan kami terhadap situasi tersebut. Padahal, situasi apapun yang mentrigger emosi kita, itu adalah pembawa pesan semesta untuk kita. Saat itulah pendaman emosi dan luka-luka naik ke permukaan, yang tujuannya agar kita melihat luka itu dan merasakan sensasi rasa yg hadir di tubuh kita. 

Kucing mungkin sekedar mengikuti nalurinya, tapi ia bisa hadir di realita kami sebagai cermin hidup, membawa aroma yang tidak nyaman bagi penciuman kami, agar kami bisa melihat sesuatu yang belum selesai di dalam: kebutuhan akan batas, keinginan untuk merasa aman, rasa ingin dihormati, atau luka-luka lama yang muncul lewat bentuk baru. Ketika kita menyadari dan menerima semua ini, kita akan diajak untuk betul-betul merasakan, mengalami sensasi yang hadir di tubuh. Semua itu adalah jejak energi yang terjebak di tubuh dan dengan menerimanya, energi tersebut akan bertransmutasi. Sampai suatu saat, ketika rasa di dalam itu sudah dipeluk sepenuhnya (dipeluk = diterima = dicintai = dibiarkan hadir = dirasakan total), kucing bisa tetap datang dan pup, atau mungkin tidak datang lagi, tapiii energinya yang tidak lagi mengganggu, karena sudah tidak ada lagi yang beresonansi di dalam.

Dari state itu, jika kami memutuskan untuk bicara ke tetangga, atau menggunakan suatu cara untuk mengusir kucing, atau tak melakukan apa-apa pun itu bisa saja dilakukan, tapi apapun yang kami lakukan, bukan dari kemarahan atau kejengkelan, tapi dari kesadaran dan kasih.

Saat kita hadir utuh, dalam kedalaman kita, tanpa terburu menyelesaikan atau memperbaiki apapun, maka kita akan lebih jernih memandang sesuatu (tidak terselubungi oleh filter emosi, asumsi dsb), dan dari kejernihan itu tindakan lahir bukan dari reaktif, melainkan dari kesadaran atau Diri sejati. Tindakan akan mengalir dari siapa yang hadir.

---

Bersambung ke post berikutnya:  https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7804/aes020-pelajaran-kesadaran-dari-kucing-2

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7709/aes018-cinta-tanpa-syarat