Layer selanjutnya. Di antara kami berdua, Sony lah yang paling murka ketika ada pup atau pipis kucing. Karena mungkin, aku jelas menolak membersihkannya 🙈. Jadi aku kesal, tapi lalu aku meminta orang lain untuk membersihkannya. Dan tentunya Sony yg ujung-ujungnya ngurusin itu. Maka dialah yang paling ketrigger. Mari kita lihat lapisan-lapisannya pembelajarannya.
Agar menjadi bahan renungan dan bisa menginternalisasi pemahaman ini, coba ubah semua cerita ini bukan tentang kucing yg pup sembarangan, tapi tentang anak kita sendiri, yang dalam keseharian memang seringkali menekan tombol-tombol emosi kita. Ini juga tentang pengemudi di jalanan yang bikin kita naik darah, atau mungkin pasangan kita yang ngga ngerti-ngerti dibilangin berkali-kali kalau handuk basah itu harus dijemur, bukan dibiarkan di atas tempat tidur.
Semua yang terjadi di realita kita, bukan tentang orang lain, tapi tentang diri kita sendiri. Penderitaan muncul bukan semata karena pengalaman itu sendiri, tapi justru karena kita menolak pengalaman itu. Begitu mungkin kira-kira yang dimaksud dengan filosofi Jawa “Nrimo Ing Pandum”. Menerima bukan berarti pasrah, tapi membuka ruang agar kita hadir utuh seapaadanya di tengah pengalaman yang datang dan pergi, karena yang ingin disentuh adalah bagian dalam diri yang menanti untuk dipeluk.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7840/aes021-menemukan-bintangku-catatan-dari-selametan-tp-21
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7803/aes019-pelajaran-kesadaran-dari-kucing