Selametan Smipa tanggal 16 Agustus 2025 lalu mengusung benang merah tema TP-21 ini yaitu spiritualitas. Terus terang elemen spiritualitas ini yang membuatku resonan ketika pertama kali mengenal Smipa, 15 tahun silam ketika aku mengundang kak Andy sharing di SBM ITB, meski saat itu pemahamanku tentang spiritualitas masih sebatas teori. Bagiku spiritualitas itu ranah yang seringkali tidak terjamah dalam pendidikan. Apalagi dalam sistem pendidikan yang ada saat ini. Dalam kerangka holistik pun kadang luput, tergantikan oleh elemen beragama. Beragama dan berspiritual tentu saja dua hal yang berbeda secara halus. Kalau kita ibaratkan sebuah gelas berisi air, agama adalah wadah gelasnya, dan spiritualitas adalah airnya. Agama adalah bentuk luar, sedangkan spiritualitas adalah inti dalamnya. Kita bisa minum air dari sumbernya, katakanlah sungai, secara langsung tanpa gelas, tapi gelas akan membantu bagi yang membutuhkannya. Ironinya adalah, kadang orang jadi malah sibuk pada bentuk gelas, dan lupa pada air yang menghidupkan.
Acara puncak Selametan diisi dengan menyatukan jaring yang dibuat terpisah oleh masing-masing kelompok, lalu sambil diiringi oleh puisi syahdu kak Adhimas yang sangat menyentuh batin, dan langkah berwibawa mas Imam pembawa bendera Merah Putih, sebuah bintang muncul di antara jaring tersebut, di antara para peserta yang duduk di dalam jaring. Ini mungkin akan terlihat lebih jelas jika dilihat dari atas. Puncaknya adalah kehadiran anak-anak jenjang SMP dan KPB yang membawa kain bertuliskan “Menemukan Bintangku”. Kenapa frasa ini dimunculkan di puncak acara? Karena inti spiritnya di situ. Dulu, frasa ini mungkin berbicara padaku sesuai dengan pemahamanku saat itu. Tentang bakat dan potensi yang unik pada masing-masing anak yang akan menjadi bekal masa depannya. Kini, ada lapisan makna lain yang terbuka seiring dengan pertumbuhan pemahamanku.
Menemukan bintang dalam filosofi Smipa bukan seperti mencari sesuatu yang hilang. Juga bukan berarti menemukan sesuatu yang belum ada dan baru akan ada kelak di masa depan. Menemukan di sini lebih kepada proses mengingat, menyadari kembali cahaya yang sejak awal memang merupakan bagian dari diri kita. Kenapa perlu ditemukan? Karena ketika kita lahir, kita memang dibuat lupa akan cahaya itu. Dan selama bertumbuh, kita akan menambah lapisan demi lapisan yang menyelimutinya sebagai bagian dari interaksi dan dinamika kita dengan dunia. Menemukannya adalah dengan menyingkap lapisan-lapisan tersebut, menyadari bahwa diri sejati kita bukanlah itu semua melainkan esensi di dalamnya. Kita tidak melekat dengan semua itu.
Cahaya ini adalah cahaya kesadaran yang benar-benar menyalakan rasa hidup di dalam diri dalam proses belajar dan berkembang, bukan digerakkan oleh sekedar prestasi atau nilai di luar diri. Tapi jangan samakan dengan identitas, label, atau peran yang menempel pada diri. Identitas bisa berubah, dibentuk oleh lingkungan, pengalaman, atau peran yang kita jalani, misalnya pengusaha, guru, penulis, teman, polisi, atau bahkan ibu yang sabar, anak yang ekstrovert dsb. Cahaya bintang dalam diri sebaliknya, ia lebih murni dan abadi, tidak bergantung pada apa yang kita lakukan atau bagaimana orang lain melihat kita. Bintang di sini tidak tergantung pada pekerjaan, status, kesukaan, bakat, atau peran yang dijalani. Namun semua itu adalah ekspresi dari cahaya bintang di dalam diri. Dan ia sudah selalu ada, bukan proyek masa depan. Mendidik anak dengan kesadaran ini berarti bukan sekedar menyiapkan mereka agar punya “bekal masa depan”, tapi membantu mereka tetap terhubung dengan cahaya asli mereka, sehingga apapun profesi, bakat, atau jalan hidupnya, mereka tidak kehilangan diri sejatinya. Contoh kongkritnya mungkin bisa seperti ini: kita mengamati anak suka menggambar. Kalau kita fokus pada bakat, kita mungkin akan memasukkan ke kursus menggambar, mendorongnya ikut lomba gambar, memberi target karya dsb. Tapi jika kita juga fokus pada “bintang”, kita tanya pada anak “Waktu kamu lagi menggambar, kamu ngerasa gimana?”, kita membantu anak mengenali bahwa rasa hidup dan tenang itu adalah bagian dari dirinya yang bisa dia bawa ke hal apapun, bukan hanya menggambar. Inilah sesungguhnya hakikat pendidikan sejati, yang menyentuh pikiran (kognisi), tubuh (keterampilan), hati (rasa dan emosi), serta jiwa (makna dan kesadaran).
Ketika anak menemukan bintangnya, ia akan menghidupi kehidupannya, karena ia ingat Diri sejatinya, ia tahu esensi kediriannya. Ia akan digerakkan oleh cahaya itu, selaras dengan aliran semesta. Sebagai orang dewasa yang mendampingi perjalanan mereka, sudahkah kita temukan bintang kita? Menghidupi ruang belajar yang holistik dan spiritual tidak mengharuskan kita sempurna sebagai orang tua dan fasilitator. Cukup dengan mengizinkan diri kita untuk jujur dan terus bertumbuh, dengan kehadiran di setiap momen yang mampu kita sadari, sejauh yang kita bisa.
Bagaimana dengan sistem? Tak ada sistem yang bisa menggantikan kehadiran manusia. Sistem hanya akan sebaik kesadaran orang-orang yang menghidupinya. Sistem yang mendukung pertumbuhan spiritual tentu akan membantu, misalnya budaya hening, refleksi, kurikulum yang lentur, pendekatan yang tidak menekan, ketiadaan sistem rangking dsb, tapi itu tidak cukup. Karena sistem sebaik apapun tetap tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri. Jika para guru tetap hidup dalam mode autopilot atau mode survival, maka anak akan tumbuh dalam getaran ketidakhadiran. Maka memang idealnya saling menumbuhkan.
Momen selametan TP-21 meneguhkan bahwa perjalanan spiritual di Smipa adalah milik kita semua, bukan hanya anak, tapi keluarga besar Semi Palar. Setiap dari kita terhubung oleh jaring-jaring kesadaran. Dan bintang yang hadir di antara kita semua mengibaratkan cahaya kesadaran yang sama, seperti cahaya putih yang terurai menjadi banyak warna, kita pun tampak berbeda-beda. Namun pada hakikatnya, kita semua bersumber dari kesadaran murni yang satu.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7848/aes22-waktu-hening
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7804/aes020-pelajaran-kesadaran-dari-kucing-2
Tidak ada peristiwa kebetulan, karenanya tulisan ini hadir melalui Dini, penulisnya untuk menjadi satu kepingan penting proses belajar kita semua di sini. Saya mohon ijin menjadikan tulisan ini kepingan pembelajaran bagi proses belajar kakak-kakak di akhir bulan Agustus nanti. Sangat mensyukuri hadirnya tulisan ini di sini - dan tentunya terima kasih yang sangat dari Rumah Belajar Semi Palar. 🙏🏼😊🌿