AES 0048 Tangkuban Perahu
Flavius
Sunday August 11 2024, 11:00 PM
AES 0048 Tangkuban Perahu

Pada pagi hari saat aku sedang membuat sarapan tiba-tiba keluar celotehan dari papi "Mau ke Tangkuban Perahu gak?" Sebagai seseorang yang senang dengan petualangan, aku... Sebenarnya awalnya sedikit malas karena ada tugas dan rencana untuk hari ini. Mungkin kalau bilangnya jauh-jauh hari aku akan mengatur segala terlebih dahulu. Namun aku menerima ajakan papi setelah memikirkan koensekuensinya. Aku memiliki waktu bersiap, membereskan tugas presentasi dan riset 3 jam. Sebenarnya 1 jam karena ada meeting yang harusnya aku hadiri akan tetapi karena aku rasa kurang penting serta ada alasan yang mendukung jadi aku skip terlebih dahulu meeting kali ini.

Setelah bersiap dan membawa banyak barang titipan kedua orangtua, aku menyusul mereka dan bertemu dijalan. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami ke Tangkuban Perahu. Aku menyetir kurang lebih 1 jam setengah, melewati Setiabudi, Lembang, dan Cikole. Temperatur dan tekanan udara dataran tinggi menyambut kami dengan 'dingin', suasana dataran tinggi Tangkuban Perahu memiliki khas eksentriknya sendiri. Kali ini adalah kali pertama aku menggunakan motor sekaligus menyetir ke Tangkuban Perahu, karena sebelumnya kami selalu menggunakan mobil.

Sesampainya di Kawah Ratu aku mencoba mengingat ingatan yang memudar saat kecil dulu. Memang sudah banyak berubah sejak terakhir aku mengunjungi Kawah Ratu, sebelum pandemi covid-19. Kami banyak bercerita dan menjelaskan kepada adikku mengenai sejarah Tangkuban Perahu dan jenis bebatuan disana. Kami mengunjungi Information Center, sebuah "museum" kecil berisi geografi lengkap dan contoh batu-batuan. Nampaknya tidak ada orang lain yang tertarik untuk belajar dan menggali lebih dalam mengenai Tangkuban Perahu, ya begitu sih karakteristik orang Indonesia. Omelanku terdengar dengan petugas disana yang membalas dan menyetujuinya, kami mengobrol sedikit lalu akhirnya memutuskan untuk makan malam sebelum pulang.

Kami makan ikan di sebuah warung pintu masuk Resort Gracia langganan papi. Ikannya cukup enak, walaupun kulitnya sedikit terlalu gosong dan sambalnya terlalu pedas sehingga aku tidak memakai sambalnya sama sekali. Perjalanan kali ini ditutup dengan menemui pemburu yang kata mami sih pemburu babi hutan, membawa banyak anjing asisten pemburu di motornya.