AES 1343 Masa Lalu Itu Sederhana
joefelus
Tuesday February 25 2025, 8:55 AM
AES 1343 Masa Lalu Itu Sederhana

Pagi hari ini terasa lebih gelap dari biasanya. Ketika membuka pintu gerbang rumah dan membantu Nina bersiap-siap, hari masih gelap. Seperti saya katakan, lebih gelap dari biasanya. Mirip seperti ketika dulu biasa saya akan berangkat kerja. Sebelum pukul 6 di musim dingin di luar masih gelap. Bedanya, di Bandung tidak sunyi. Bunyi ayam jago berkokok, serangga, burung-burung kecil serta bunyi sepeda motor dapat dengan mudah terdengar, bahkan hampir sepanjang malam. Musim dingin identik dengan kesunyian karena dulu saya tinggal di kota kecil. Pukul 6 pagi belum ada aktifitas berarti, saya dapat menikmati kesunyian sejati!

Saya sendirian di rumah setelah Nina berangkat ke kantor. Suasana pagi membuat saya banyak melamun dan berpindah ke masa lalu. Karena suasana hati seperti ini, sengaja saya memutar lagu-lagu oldies yang biasa diputar oleh ayah setiap pagi ketika saya masih kecil. Ada Simon & Garfunkel, Everly Brothers, The Monkees dan sebagainya.

Masa lalu itu lama-lama saya pikir jauh lebih sederhana dari saat ini. Manusia memang berubah, saya juga berubah. Dahulu beban pikiran jauh lebih simpel tidak banyak neko-neko. Entah ini yang dinamakan progress atau malah kemunduran. Coba bayangkan saja, jaman dahulu telepon sama sekali tidak pintar, justru kita manusia yang jauh lebih pintar! Pernah menggunakan telepon yang nomornya diputar-putar? Pernah menggunakan koin? Coba berikan jenis telepon itu pada anak-anak jaman sekarang! Saya pernah melihat sebuah video dimana seorang anak perempuan kebingungan diberi telepon yang nomornya harus diputar. Sekarang tinggal berkata:" Siri, call Nina!" Maka telepon dengan sendirinya menghubungkan ke Nina dan nada panggil langsung berbunyi. Tidak perlu putar-putar dengan jari atau tekan-tekan apapun!

Jaman sekarang saya harus berkelahi agar dapat menggunakan uang! Serius! Saya pernah membanting dompet ke meja karena ditolak membayar dengan tunai, padahal Loket di kasir tidak dikatakan harus membayar dengan Qris.

Ketika kecil dan saya menghadapi sebuah masalah, saya lari dan mengadu ke ibu. Dengan lembut ibu memangku dan memeluk saya. Betapa indahnya dunia ketika kita berada dalam pelukan dan pangkuan seorang ibu. Bayangkan rasa dilindungi dan semua masalah serta kekhawatiran akan musnah dengan seketika. Sekarang untuk keluar rumah saja saya sudah enggan karena tahu dalam hitungan detik saya akan dihadapkan pada masalah keamanan!

"Dad, where is my melatonin?" Itu pertanyaan yang baru-baru ini saya pelajari dan merupakan hal yang wajar diantara para anak muda. Saya tidak pernah tahu apa itu melatonin hingga satu atau dua tahun terakhir. Obat-obatan yang sangat umum menemani anak-anak muda yang sangat aktif dan butuh istirahat sehingga esok hari dapat kembali segar. Melatonin berfungsi memperbaiki ritme sirkadian agar tubuh kembali ke siklus normal agar dapat tidur! Jaman saya dulu, obat tidur saya adalah omelan ibu atau pandangan dingin ayah tanpa suara! Hahahaha..

Pernahkah kita merasakan bahwa kualitas diri dan nilai-nilai yang kita anut itu tidak benar-benar murni dan baik? Bertahun-tahun yang lalu saya berada di depan sebuah hotel di Jogyakarta. Seorang bapak-bapak tua dengan sangat ramah dan sopan menawarkan tumpangan becaknya. "Ayo pak saya antar. Kemana saja, bayar seiklasnya." Kata bapak tadi. Saya langsung merasa curiga. Ini bapak menawarkan dengan tulus atau ada sesuatu dibalik keramahannya. Saya ingin bereksperimen dan menguji ketulusan bapak ini. Saya iyakan dan kami pergi berputar-putar dari malioboro hingga ke pelosok-pelosok. Di pasar Beringharjo saya turun. Bapak tadi menolak ketika saya mengeluarkan dompet.

"Nanti saja waktu saya antar bapak ke hotel. Saya tunggu di sini sampai bapak kembali."

Saya langsung merasa ditampar dan penilaian saya pada diri sendiri langsung luruh hingga ke tingkat yang paling dasar karena sejak tadi sangat judgemental, penuh kecurigaan dan tidak mempercayai ketulusan bapak ini. Begitu rendahnya kah saya menghargai orang lain? Begitu culasnya kah saya ketika menilai orang lain? Memang saya banyak mengalami kekecewaan ketika berhubungan dengan orang-orang tertentu bahkan, maaf, saya pernah berkata ke Kano untuk tidak mempunyai pacar dari golongan A atau B, karena mereka tidak dapat dipercaya. Hahahaha.. Saya belajar untuk tidak dengan mudah melakukan stereotyping terhadap orang lain dari bapak pemilik becak tadi. Berhati-hati boleh saja, tapi jangan bersyakwasangka! Ketika saya masih kecil pemikiran saya tidak seculas itu. Dimata saya semua orang baik bahkan saya tidak ragu-ragu meminta tolong orang yang tidak dikenal. Sekarang berbeda.

Masa lalu itu jauh lebih sederhana. Dulu kita tidak membutuhkan Instagram atau Facebook ketika jalan-jalan ke kota tetangga. Saya cukup mengambil sepeda dan berbondong-bondong pergi berkilo-kilo meter jauhnya hanya untuk makan sate kambing muda atau empal gentong! Hiking tidak membutuhkan pakaian khusus merk Kuhl, Prana atau Ferrosi, sepatu Hoka, Salomon atau Merrell, ransel Patagonia, Timbuk2 atau Osprey. Saya cukup bawa kantong keresek sepatu apa adanya bahkan tidak jarang hanya sandal jepit. Yang lebih penting saat itu adalah kebersamaan bukan pamer perlengkapan. Kalau mau lari pagi ya tinggal lari, janjian dengan teman secara verbal dan saling menjemput lalu lari. Lihat sekarang, untuk beli sepatunya aja sudah jutaan bahkan dihitung durability sepatu itu dengan ukuran kilometer!

Masa kini memang tidak semuanya buruk. Kita memang diperbudak kapitalisme. Life Style kita sepertinya dijajah oleh pandangan orang lain. Kita takut dianggap kampungan jika pakai parfum palsu isi ulang. Wastafel kita sekarang sering jadi tempat memajang botol-botol parfum Chanel, Louis Vuitton, CK, Jimmy Cho atau Burberry. Wastafel bukan untuk tempat cuci tangan lagi hahaha.. Semua itu untuk menjaga imej. Mungkin kini saatnya kita bercermin dan kembali ke fitrah kita. Tidak perlu duduk di restoran steak dan menghabiskan ratusan ribu rupiah yang sebenarnya tidak benar-benar kita miliki demi unggahan di IG atau FB, cukup mungkin berjongkok di depan rumah sambil melihat bagaimana emang-emang tukang kue putu menyiapkan jajanan di atas piring beling transparan hadiah dari toko Jogya! Yang sederhana itu seringkali lebih membahagiakan daripada makan steak yang overrated karena harganya mahal, besarnya hanya secuil dan dikubur saos lada hitam atau jamur! Steak yang enak justru tidak dikubur apa-apa sehingga benar-benar menikmati kualitas daging yang baik serta teknik memasak yang mumpuni. Nah kalau dompet kita hanya cukup untuk ayam goreng dengan pete bakar di pinggir jalan, tidak perlu berusaha menjadi kekinian lalu harus gigit jari makan nasi dengan kerupuk hingga akhir bulan karena ingin terlihat keren. Hahahaha...

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Sepakat banget! β˜πŸΌπŸ€—β€οΈ
You May Also Like