Kita sudah mengerti kalau berkelompok itu bukan berarti bergerombol. Mudahnya sih berkelompok itu menggunakan kebersamaan bukan kesamaan dan melakukan persamaan bukan penyamaan. Saling terpengaruh tanpa saling tergantung, yang terjadi pada satu anggota akan dirasakan oleh semuanya. Disadari atau tidak disadari baik itu secara langsung atau tidak langsung. Coba saja rasakan ujung kuku jari kelingking kemasukan serat kayu, dampak ke perut asam lambungnya naik deh.
Bisa jadi karena stres kepikiran, bisa juga karena gak mood makan jadi kelaparan. Apapun prosesnya, lambung terpengaruh kuku jari. Bahkan seluruh badan pun terpengaruh. Yang jadi persoalan, gimana caranya biar gak jadi tergantung. Mood makan jadi tergantung sensasi rasa di ujung kuku, pemikiran jadi tergantung serat kayu yang nyelip di secuil daging jari kelingking. Baiknya sih, yang kecucuk ya sakit karena tercucuk, sedangkan yang perlu dimakan ya dimakan dan yang perlu dipikirkan ya dipikirkan.
Semua pada tempatnya masing-masing, dengan sensasinya masing-masing, menunaikan tugasnya masing-masing. Demi keseluruhan badan yang sehat dari nutrisi makanan, cerdas dari olah pikiran, dan kuat dari menerima rasa sakit tertusuk duri di tangan. Pada akhirnya, dengan badan yang sehat oleh nutrisi, dengan pikiran yang fokus oleh konsentrasi, dengan kesadaran penuh mengambil pinset besi. Kemudian mengorek luka tusuk, menemukan pangkal duri serat kayu, dan menariknya keluar dengan tersedu-sedu.
Setelah itu, lupa lagi deh kalau satu hal mempengaruhi semuanya. Nanti pas satu hal itu bermasalah baru inget lagi soal kesatuan ini 🤣
Jadi kelintas istilah totem pro parte dan pars pro toto.