Penggunaan akronim sering membuat saya bingung. Mungkin karena generasi saya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan generasi-generasi jaman sekarang. Jaman saya sekolah paling penyingkatan-penyingkatan kata-kata tidak terlalu banyak dan jarang saya gunakan karena guru-guru saya tidak menyukainya, apalagi jika digunakan dalam tugas. Kalau saya menulis dll, adl, spy dan sebagainya, tugas saya mendapat banyak lingkaran dengan menggunakan ballpoint merah dan nilai tidak jarang dikurangi.
Penulisan singkatan-singkatan itu seringkali digunakan sebagai upaya menghemat waktu dan tempat. Daripada saya menulis "dan lain-lain", sangat mudah tergoda untuk menulis dengan singkatan "dll". Tidak jarang ketika selesai membuat tugas beberapa jari saya terpesuk atau melekuk karena terlalu lama dipakai untuk menulis. Jaman itu seringkali guru memberikan tugas mengarang berhalaman-halaman di atas kertas folio bergaris. Menulis bukan tugas menyenangkan saat itu.
Jaman sekarang penggunaan akronim tidak hanya untuk alasan efisiensi seperti dulu, tapi juga sebagai bentuk penyederhanaan makna yang kompleks seperti misalnya DNA (deoxyribonucleic acid), siapa yang hapal kepanjangan dari kata itu? Atau yang lebih mudah, kata humvee yang sering diidentikan dengan kendaraan terkenal Hummer, itu adalah akronim dari High Mobility MultiPurpose Military Vehicle, daripada panjang-panjang dan sulit diingat, maka nama tersebut disederhanakan. Penyingkatan-penyingkatan itu supaya lebih mudah dibaca dan juga mudah diingat. Lebih mudah kita mengingat dan membaca kata SUV daripada Sport Utility Vehicle, bukan?
Nah disamping kegunaan praktis yang saya sebut di atas, penggunaan akronim juga memiliki fungsi sosial disamping hanya sekedar menciptakan terminologi standar, misalnya menggunakan singkatan-singkatan itu dapat menciptakan sense of community, kita merasa berada dalam sebuah kelompok yang khas karena memiliki istilah-istilah dan jargon-jargon tertentu walau hal ini juga membuat orang-orang yang tidak mengerti menjadi tersisih. Itu yang sering saya rasakan ketika ngobrol dengan anak-anak jaman sekarang dalam ruang ngobrol daring. Ketika Kano mengucapkan IDK dan LMAO sebelumnya saya tidak mengerti hingga akhirnya saya mencari tahu agar memudahkan saya ikut berbincang-bincang dengan gaya yang biasa dia lakukan. Tidak hanya itu, penggunaan singkatan juga memberikan persaan keren. "Ya gitu cara ngobrol jaman sekarang, dad." Kata Kano yang terlihat bangga sementara saya jadi merasa tua! Hahahaha
Salah satu dampak yang agak negatif dari penggunaan akronim menurut saya adalah membuat orang yang tidak mengerti menjadi merasa tersisih, teralienasi. Untungnya saya seringkali tidak perlu berhubungan dengan pihak-pihak yang banyak menggunakan penyingkatan-penyingkatan. Misalnya kantor-kantor instansi militer di Indonesia. Singkatan yang mereka gunakan seru-seru dan sama sekali tidak saya mengerti, mungkin bisa menebak-nebak, tapi saya tidak permasalahkan karena tidak perlu berurusan dengan kantor-kantor itu. Nah, coba saja. Apakah ada yang tahu kata-kata ini: DIRINTELKAM, DIRPOLAIRUD, atau BINPOTNASKUATMAR ? Hehehehe..
Foto credit: lemonadesocialmedia.com