Duh lama sekali AES saya terabaikan. Beberapa tulisan bahkan baru sempat diisi satu-dua kalimat pertama. Penanda bahwa kesibukan saya sedang meningkat (manfaatkan alasan klise).
Tulisan ini saya mulai di Tol Dalam Kota Jakarta di dalam kendaraan travel menuju Bandara Soekarno Hatta. Saat ini Rabu sore. Malam nanti pesawat akan berangkat, saya dan Lyn sedang menuju ke Jerman karena Jum'at dua hari mendatang, Inka (anak sulung saya) akan mencatatkan pernikahannya di Standesamt, catatan sipil pemerintah Jerman.
Visa kami terbit Rabu minggu lalu. Tepat seminggu lalu kami baru punya kepastian bisa berangkat dan segala persiapan keberangkatan yang langsung dikebut, berbagai kesibukan bertumpuk karena berhadapan dengan kendala waktu.
Perasaan juga cukup campur aduk karena dengan kepergian ini. Ini kali pertama saya harus meninggalkan Semi Palar di titik peralihan proses penutupan TP dan juga di awal TP mendatang. Saya tentunya harus mendahulukan keluarga, walaupun Semi Palar juga bagian penting dari kehidupan saya - sudah hampir 20 tahun menjadi bagian penting kehidupan saya - keluarga kedua saya.
Foto di atas saya ambil pagi hari saat matahari terbit. Saya ambil saat pesawat ada sekian ribu kaki di atas bumi, suhu di luar pesawat menunjukkan minus 58 derajat celcius. Karenanya kristal es (frost) di jendela pesawat terbentuk. Waktu menunjukkan sekitar 3 jam menjelang pesawat mendarat di Istambul. Entah kenapa saat saya mengambil foto tersebut berbagai pikiran muncul di dalam benak saya. Begitu kecilnya manusia. Saya dan beberapa ratus manusia berada di dalam tabung besi tertutup rapat yang terbang tinggi, bernafas dengan suplai oksigen yang diatur, hanya bisa duduk belasan jam, sedikit-sedikit mengubah posisi duduk. Diberi makan dan minum di tempat kami duduk, mengantri di toilet - di mana pesawat menyimpan segala hal yang disekresikan penumpang di dalam sebuah wadah. Sementara sebelum berangkat banyak sekali berita tentang pesawat yang dilanda turbulensi ekstrim - bahkan ada yang sampai menimbulkan korban jiwa...
Hmm ini hanya sedikit catatan saya dalam perjalanan. Perjalanan yang akan mengantar saya berjarak jauh dari kehidupan saya sehari-hari selama ini. Termasuk juga berjarak dengan Rumah Belajar Semi Palar - tempat saya menuangkan sebagian besar porsi kehidupan saya, enerji, waktu dan pemikiran saya. Tempat yang warganya saya anggap sebagai keluarga. Tak bisa dihindarkan saya merasakan kegamangan saat memutuskan berangkat. Semoga semua berjalan baik - bagian dari dinamika kehidupan saya pribadi dan Rumah Belajar Semi Palar sebagai sebuah kolektivitas individu. Semoga...