Saya akhirnya benar-benar membuka mata sesudah hampir semalaman hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sejak matahari terbenam kemarin suara Takbir tidak pernah berhenti, dari anak-anak yang sayangnya sempat sambil tertawa-tawa hingga orang dewasa tak henti-hentinya mendaraska keagungan Tuhan. Tidak pernah terputus hingga matahari terbit dan menjelang shalat Ied. Ini untuk yang kedua kalinya saya mengalami malam Takbiran sejak kembali ke Bandung. Dulu sempat kehilangan karena Lebaran maupun Idul Kurban terasa sangat sepi dan tanpa ada gaungnya sama sekali ketika di rantau. Rasa kehilangan saya langsung terobati sekaligus didorong untuk menikmatinya semalam suntuk karena daerah saya ternyata banyak sekali Masjid, di belakang rumah saya saja setidak-tidaknya ada 3, karena tinggal di daerah lebih tinggi, saya bisa mendengar semuanya. Entah pukul berapa akhirnya saya tertidur, tapi saya tahu tidak lama sebab sekitar menjelang subuh saya sudah terjaga lagi. Karena tidak tidur cukup, saya hari ini juga akan ngobrol yang ringan-ringan.
Kemarin saya akhirnya berhasil membuat French bread, jadi para tetangga saya jadikan korban percobaan ketika kami semua berolahraga. Enaknya tinggal di kompleks kecil ini, kami sangat kompak. Semalam kami berjanji untuk bertemu sekitar pukul 6 pagi untuk jalan kaki naik turun di jalan kompleks. Lalu senam (atau menurut saya sih menari hahaha) dan diakhiri dengan ngopi serta makan makanan kecil sama-sama. Saya membawa Bahn mi, tapi karena dadakan (mirip tahu bulet hahaha) saya tidak punya isiannya, jadi saya isi dengan dadar telur, irisan mentimun dan acar lobak serta wortel. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi sebab ditinggal senam dahulu, maka sandwich ini mulai dingin dan roti Perancis ini jika dingin menjadi agak mengeras. Berdasarkan uji coba hari ini sepertinya sangat tidak ideal untuk acara akhir pekan minggu depan bersama teman-teman kantor Nina. Jadi saya harus memikirkan opsi yang lain.
Saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan focaccia bread, daripada French bread. Memang jadinya bukan "Bahn Mi" lagi, tapi namanya makanan, bagi saya apa saja boleh selama enak. Nah pagi ini sesudah kembali tiba di rumah, saya praktik membuat focaccia. Karena kali ini korbannya hanya Nina dan saya, jadi ya harus dibuat sesuai dengan selera kami. Kami suka bawang putih, rosemary, suka keju parmesan dan juga mozzarella, jadi ya saya buat seperti itu. Focaccia adalah roti khas Italia yang membuatnya sangat mudah, tidak perlu alat yang aneh-aneh, cukup tempat yang besar, pengaduk dan bidang untuk nguleni. Itu yang saya lakukan. Membuat roti ini lebih banyak nunggunya daripada bekerjanya. Sekitar 5 jam kemudian roti sudah jadi dan itu makanan kami sepanjang hari, roti yang empuk degan aroma daun rosemary, bawang putih, serta rasa gurih dan tekstur enyoi karena keju hahaha.. ya sudah, selamat tinggl roti Perancis, untuk orang-orang yang kemampuan menggigitnya sudah terbatas (hahaha) roti focaccia ini jah lebih cocok. Jadi ini yang akan saya buat untuk acara minggu depan.