Sore ini saya dan beberapa kakak ngumpul lagi di sebuah tempat ngopi tidak berapa jauh dari Smipa. Ini adalah kali kedua kami mencoba ngumpul untuk menulis bersama. Di luar Smipa - supaya juga berganti suasana - dan mudah-mudahan lebih membangkitkan inspirasi.
Ngonongonu kami menyebutnya (Ngopi Nongkrong Ngobrol Nulis) - karena memang itulah kegiatannya. Komitmen kami hanya satu, yang serta harus mempostingkan tulisannya. Apapun judul, isi dan tema tulisannya. Yang penting nulis. Babarengan jadi settingnya, ngobrol dan ngopi jadi bahan bakarnya. Walaupun awalnya ada beberapa yang ingin ikut serta, tapi kemudian batal karena satu dan lain hal. Sebetulnya ada rekan orangtua yang ingin bergabung, tapi sepertinya terkendala suatu hal jadi juga batal untuk hadir. Akhirnya kembali kami ngumpul berlima - seperti pertemuan Ngonongonu yang pertama.
Sore ini kami bersepakat untuk menulis bebas tanpa tema. Kak @matheusaribowo mempostingkan tulisan dengan judul Mandala dan Smipa, kak @yantisuryanii7 menuliskan kisah fiksi berjudulkan Dongeng. Kak @fauzianastiti menuliskan cerita fiksi yang lucu berjudul Kucing Kecil Mencari Tempat Tidur. Kak @innocentiaine kali ini juga mencoba menuliskan kisah imajinatif yang diberi judul Jauuuh Tinggiii. Sempat terpikirkan untuk mencoba hal yang sama, menuliskan sesuatu yang imajinatif - tapi saya memang menyimpan dua tulisan yang belum tuntas. Satu tulisan yang judulnya Teu Pararuguh - baru tuntas 70% dan saya juga sudah menyimpan ide tulisan dan menuliskan judul tulisannya di Ririungan. Sore ini saya berhasil menuntaskan keduanya. Tulisan kedua yang saya postingkan berjudul Menabur Kebaikan Sepanjang Perjalanan
Seperti di pertemuan pertama, kami bergantian membacakan apa yang kami tuliskan. Ini cara kami saling mengapresiasi proses yang kami jalani bersama dalam pertemuan ini. Menurut saya proses inilah yang akan terus mengonfirmasi dan menguatkan keyakinan bahwa apapun yang kami tuliskan adalah sesuatu yang sangat berharga dan jadi bagian dari kedirian kami masing-masing. Tidak ada yang salah atau benar, bagus ataupun jelek. Semua hadir dengan keunikan masing-masing. Hal inilah yang sering saya istilahkan sebagai narasi kehidupan.
Sore ini, di bawah naungan sinar rembulan, kami saling belajar dari narasi kehidupan teman-teman yang melingkarkan diri dan saling bergandengan tangan untuk belajar satu dari yang lain.
Saya sangat bersyukur bisa mengalami kembali proses ini. Terima kasih banyak buat teman-teman belajar saya sore ini. Semoga kesempatan yang serupa bisa segera hadir lagi dengan teman-teman baru yang membuka diri untuk belajar bersama - satu sama lain. Kita coba gulirkan terus ke depan, supaya pengalaman ini lebih banyak dirasakan oleh banyak anggota keluarga Semi Palar. Salam.