Hari Selasa menjadi salah satu hari yang dinanti. Sebab, seusai kegiatan kami sebagai Kakak, ada keseruan lain yang menanti. Entah kapan pertama dimulainya aku lupa, tetapi setiap Selasa, aku bersama Kak Ine dan Kak Yanti akan dengan otomatis menuju RT 1 atau ruang TK B untuk membuat mandala bersama. Seingatku sekarang sudah sekitar 1 tahun atau lebih kami melakukan rutin ini. Sempat beberapa Kakak mencoba dan ikut, tetapi kemudian kembali pada formasi awal kami bertiga. Tak jarang Kakak yang lain melihat dan menanyakan kegiatan kami bertiga setiap Selasa sore. Dari kesan mereka, banyak yang menganggap ini sebagai kegiatan menggambar bersama. Sehingga sering muncul ungkapan "tapi aku nggak bisa gambar" ketika membahas mandala. Padahal kami juga tidak mengajak, hanya mempersilakan siapa saja yang hendak mencoba dan bergabung. Dan sejak beberapa minggu lalu, ada 2 teman yang selalu ikut bermandala dengan kehendaknya sendiri. Bahkan Selasa kemarin adalah bermandala bersama dengan peserta terbanyak, yaitu 8 orang. Sekaligus menjadi kegiatan bermandala bersama terlama, lebih dari 6 sore dan gelap telah menguasai langit saat kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan. Proses bermandala bersama selalu ditutup dengan saling bertukar cerita, yang mungkin tak banyak tetapi pada intinya. Proses apresiasi dan dokumentasi mandala juga cukup untuk mengundang tawa dan bahagia bersama.
Mandala bukan sekadar gambar, atau bahkan bukan gambar. Mandala kini bagiku seperti teman bercakap paling rahasia sekaligus aman. Dalam setiap goresan dan tinta yang tertoreh, ada percakapan dan cerita turut meliuk dan menjadi objek perbincangan antara pikiran dan jiwaku. Dalam hening, dalam tenang, bersama mandala sebuah ruang sunyi mewadahi segala bentuk dan pola rasa dan emosiku. Teringat perkataan seorang Bante dalam sebuah wawancara, ia mengatakan sebuah kutipan yang kuamini dan amat ampuh kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari. "Never complain, never explain. Dengan kata lain, tak perlu menjelaskan apapun pada orang lain tentang dirimu." Mandala memberi ruang untukku melakukan ini. Alih-alih mengutuki sisi di luar diri, mandala membawaku pada kesadaran untuk menerima dan melepas lapis demi lapis diri sendiri. "Jadi, mandala itu apa?" Tak ada penjelasan untuk ini, silakan dicoba saja.
"Bagaimana dengan Mandala dan SMIPA?" Bagiku smipa itu mandala banget. Seperti kehidupan dan segala sesuatu, sering kali kita perlu mengubah-ubah titik fokus untuk melihat kembali dengan sisi yang berbeda. Mandala pun begitu, kita akan menemukan banyak ketidaksempurnaan dan kesalahan di dalamnya, apalagi ketika kita sendiri yang membuatnya. Namun pada akhirnya, ketika kita zoom out dan melihat dari jarak yang berbeda, betapa indahnya ia. Hari ini ada kunjungan tamu dari luar smipa, seperti pengunjung lain yang datang dan melihat smipa, kesannya selalu indah dan menyenangkan. Begitu pula ketika kita di dalam smipa, tak mungkin luput dari kekurangan dan ketidaksempurnaan, tetapi itulah yang menjadikannya indah. Ketika kemudian kita tarik lagi sudut dan titik fokus kita, selalu saja menemukan keindahan-keindahan di dalamnya. Struktur organisasi di smipa juga serupa mandala. Setiap bagian saling terkait tanpa terikat dan menjerat. Setiap kami adalah pola-pola indah yang datang karena undangan keindahan untuk saling melengkapi. Kedekatan dan kehangatan terasa kuat tanpa dibuat-buat. Budaya penuh cinta yang amat sangat menyenangkan. Tak hanya tim smipa saja, seluruh keluarga murid-murid layaknya pola-pola indah yang mengisi keindahan mandala smipa. Smipa layaknya proses bermandala, ada keheningan, ada ruang aman untuk kita semua. Dan anak-anak adalah titik, garis, bentuk, dan pola yang otentik dan indah di lingkaran luas kebersamaan smipa.
Mantap.. nuhun sudah mau terus bermandala bareng..
Kata-katanya sarat makna dan estetika. Nuhun ka Mamat 🙏😇