AES 854 Ngobrol
joefelus
Monday September 25 2023, 10:54 AM
AES 854 Ngobrol

Hari kedua musim gugur. Masih belum terasa benar karena suhu udara masih hangat dan cenderung sedikit panas. Saya pikir sebaiknya melakukan sesuatu daripada di rumah saja dan saya juga agak bosan. Jadi saya usul ke Nina jika dia kuat untuk ikut saya ke kota tetangga, Broomfield, sekitar 55 miles (88 km) ke arah Selatan. Saya beralasan untuk membeli bahan-bahan makanan. Saya pengin membuat menu non-halal jalan kelenteng hahahaha.. Nina setuju, jadi sesudah mengantarkan Kano ke tempat kerja, Nina dan saya meluncur ke kota itu. Kami memilih tidak melewati highway utama, tapi highway yang lebih kecil yang melewati kota-kota kecil sehingga bisa santai sambil ngobrol dan menikmati padang rumput, perkebunan jagung bahkan kebun pumpkin yang sangat luas.

Warna-warna kuning dan merah sudah mulai mengintip di sela-sela daun pepohonan yang hijau. Itu tanda-tanda musim Gugur. Nanti semakin lama semakin banyak dan warna hijau mulai menghilang ditambah angin yang besar merontokkan dedaunan hingga pohon-pohon menjadi gundul untuk menyambut musim dingin. Begitu prosesnya setiap tahun, silih berganti. Menarik dan sangat menyenangkan menyaksikan itu semua. Itu alasan mengapa saya memilih highway yang kecil sehingga bisa mengemudi dengan perlahan-lahan dan bisa menikmati semua itu sambil mendengarkan lagu serta ngobrol santai. Lebih menarik dan seru daripada diam di rumah duduk di depan TV dan nonton sepakbola yang Nina tidak terlalu mengerti.

"Ada teman cerita di FB. Sesuatu yang buat saya agak lucu dan sedikit konyol." Saya memulai cerita samil mengemudi.

"Kenapa emang?" Tanya Nina.

"Teman saya ini orang yang berpendidikan tinggi. Kalau tidak salah sudah S2 dan sekarang mungkin sedang mengambil S3 atau malah sudah PhD. Dia cerita di FB bahwa sejak hari Kamis kemarin sakit gigi. Akhirnya rasa sakitnya hilang." Cerita saya.

"Loh itu biasa aja khan?" Timpal Nina.

"Nanti dulu." Potong saya.

"Nah, ada teman lain yang nanya obat apa yang dia makan. Terus dijawab Sumagesic dan sembuh." Lanjut saya.

"Sumagesic itu apa? Paracetamol atau acetaminophen?" Tanya Nina

"Iya jawab saya sambil tertawa. Dia khan scholar toh? Harusnya tahu dong bahwa paracetamol itu khan cuma pain killer, tidak menyembuhkan sakit gigi. Cuma menghilangkan rasa sakit. Jadi artinya masalah gigi itu belum selesai." Jawan saya.

"Ya gitu itu, Jo. Seringkali orang menganggap ketika symptom nya hilang maka penyakitnya sudah sembuh." Timpal Nina

"Nah itu maksud saya. Sama seperti ada orang yang usul di grup ketika ada yang kena typhus. Lalu dia bilang suruh makan cacing supaya panas turun sebab cacing katanya mempunyai unsur dingin. Atau jaman dulu ketika ada orang sakit gigi suruh kumur urine" Kata Saya

"Lah ya mbok kalo usul harusnya cari informasi dulu bukannya yang menyesatkan gitu." Kata Nina

"My point exactly! Kadang sebel di grup itu suka banyak info-info ngaco disebarkan." Jawab saya

"Hahaha.. jadi ingat salah seorang orang tua Smipa yang gemes gara-gara Hoax trus buat semacam gerakan anti Hoax." Kata Nina

"Ya begitu itu. Entah karena mereka itu malas recheck informasi, tidak peduli, atau apa. Saya sendiri bingung motivasinya apa menyebarkan informasi tanpa melihat dulu apakah itu betul atau tidak. Ini sudah terjadi sejak dulu. Sepertinya masih banyak masyarakat yang belum siap dengan arus informasi yang tidak bisa ditahan seperti ini." Kata saya.

"Yah pendidikan kadang tidak selalu dapat mengubah pola pikir orang menjadi lebih baik." Kata Nina

"Loh bukannya pendidikan itu tujuannya agar cara berpikir kita menjadi lebih baik?" Bantah saya

"Idealnya begitu. Tapi seringkali orang sekolah cuma mengejar titel khan? Biar cepat naik pangkat dan lain lain. Liat aja banyak orang yang jadi plagiat, atau bahkan bayar orang lain untuk ngerjain tugas atau proyek. Trus hasilnya dia pakai untuk desertasi, itu contoh. Bukan ilmu yang dia cari tapi titel." Kata Nina

Kami berdua lalu berdiam diri dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Kondisi semacam itu memang bisa dilihat di masyarakat. Di Indonesia titel memang menunjukkan "kasta". Lihat saja nama seseorang bisa diikuti dengan sederetan titel akademis hingga panjang seperti kereta api. Saya punya teman, bahkan dulu kuliah bareng. Dia memang sangat pandai dan rajin, saat ini dia sudah punya 3 doktor, beberapa master jadi titel dia memang jauh lebih panjang dari namanya sendiri. Ini memang hak dan pilihan masing-masing kok. Orang boleh saja menggunakan itu semua. Sah sah saja! Wong itu prestasi dalam hidup dia. Yang ingin saya diskusikan di sini adalah apakah semua itu telah dapat mengubah cara berpikir? Nah menurut saya itu juga penting, bukan?

"Kadang saya pengen nyeletuk dan membenarkan atau sertidak-tidaknya mengungkapkan bahwa itu informasi salah." Kata saya.

"Ya bilang aja!" Jawab Nina

"Terus ada yang ngomel dan bilang bahwa saya sok pinter!" Kata saya

"Ya biar aja." Kata Nina lagi

"Yang nyebelin, terus orang yang nyebarin informasi salah itu cuma bilang "Maaf, saya belom ngecheck!" tanpa ngerasa dosa, seolah-olah nyebarin berita ngaco itu bukan masalah besar." Jawab saya

Memang repot ya.. dan kejadian semacam itu tidak ada habis-habisnya.

Kami diam lagi dengan pikiran masing-masing. Jalanan di hari minggu memang tidak terlalu ramai. Sangat menyenangkan mengemudi dalam kondisi semacam ini. Beberapa waktu ke depan akan lebih banyak warna, sekarang masih malu-malu hanya mengintip dari balik dedaunan yang hijau. Saya sudah tidak sabar. Ini musim yang favorit saya!

You May Also Like