Di tahun 1800an akhir, bermunculan banyak informasi tentang optografi, metode “memotret” dengan retina. Katanya, hal terakhir yang ditangkap retina sebelum pemiliknya meninggal, bisa saja di-develop layaknya kamera analog. Hal ini dianggap memukau, karena bisa membantu dalam banyak hal. Kalau ada kasus pembunuhan, kita jadi punya akses pada hal terakhir yang dilihat korban.
Rupanya, dalam retina, ada sebuah pigmen bernama rhodopsin. Pigmen ini menjadi putih ketika terkena cahaya, tapi di dalam gelap, bisa kembali menjadi warna keunguan. Ketika retina direndam di dalam larutan alum, rhodopsin itu akan membeku dan bisa dipotret. Alhasil, jadilah sebuah foto-retina! Prosedur ini pertama kali dilakukan pada tahun 1876 oleh Wilhelm Friedrich Kühne menggunakan retina seekor kelinci.
Meskipun hal ini luar biasa menarik, sayangnya, tidak banyak pembuktian sains yang bisa ditemukan di baliknya. Optografi tidak selalu bisa berhasil, dan tidak bisa dibuktikan terpercaya. Namun, ketika aku pertama kali mendengar tentang ini, aku jadi tertarik. Apa saja kejadian non-fisik yang bisa direkam oleh tubuh kita, secara fisik? Dengan teknologi yang kini kita miliki (yang jauh lebih terpercaya dibandingkan optografi), ilmuwan bisa mencari tahu begitu banyak tentang dunia. Sebab, memang ada bekas-bekas fisik dari segala hal yang kita lakukan, bahkan ketika tubuh sudah lama mati.
Ötzi, seorang pria berusia 5000 tahun yang ditemukan di pegunungan Italia, adalah contoh. Dia ditemukan dengan kondisi tubuh yang terpreservasi dengan baik oleh es. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika aku pertama mengetahui tentangnya, ilmuwan hanya bisa tahu bahwa dia sempat tertusuk anak panah di bahu kanannya. Kini, sudah ada banyak informasi baru: kita tahu dia terakhir makan apa, wajahnya kira-kira seperti apa. Kita bisa membentuk naratif berdasarkan hal-hal yang kita amati darinya. Menurut ilmuwan, dia sepertinya seorang buronan. Ketika dia meninggal, dia tampaknya sedang dalam pelarian, berdasarkan nutrisinya yang kurang. Dari bekas anak panah di bahunya, kita tahu bahwa dia akhirnya sempat tertangkap oleh siapapun itu yang mengejarnya. Kemungkinan panah inilah yang membuatnya kehilangan darah dan meninggal.
Kita bisa merekam dengan banyak hal: foto, kenangan, kisah. Tapi, lebih dari itu, alam juga punya cara untuk merekam.
Inspirasi
https://www.aao.org/museum-blog/detail/retinal-optography-fact-fiction