Melanjutkan dari tulisanku kemarin, aku jadi memikirkan apa sih sebenarnya penyebab dari kerakusan manusia? Setiap hal yang terjadi, pasti ada akarnya dan ini adalah hasil pemikiranku dan beberapa riset yang aku lakukan.
Dilansir dari Psychology Today, dikatakan bahwa serakah atau rakus, sebetulnya bukan sifat dasar manusia. Kemungkinan manusia telah berevolusi dengan tingkat keserakahan sebagai mekanisme untuk bertahan hidup. Iya, bertahan hidup.
Pada masa lalu, mungkin sifat ini bisa diterima, karena keterbatasan sumber daya jadi manusia rakus dan berusaha mengambil sumber daya sebanyak-banyaknya untuk bertahan hidup. Belum lagi, saat ada masalah semua ricuh, dan hanya diselesaikan dengan kekerasan,. Maka dari itu, aku rasa ‘kerakusan’ ini masih bisa ditolerir di masa itu.
Namun entah apa yang terjadi, tapi sifat ini masih terbawa sampai sekarang, bahkan sudah dalam kondisi sumber daya alam yang cukup, teknologi yang memadai, masih saja ada banyak orang yang rakus dan selalu merasa kurang.
Setiap orang, pastinya memiliki standar masing-masing dalam hal kecukupan, tapi apakah rentang standar antar manusia harus sejauh itu? Sehingga saat yang satu merasa kurang yang satu lagi benar-benar belum mendapatkan apapun?
Hal ini tentunya berdampak cukup banyak pada aspek-aspek kehidupan, salah satunya ekonomi, dimana orang yang sudah kaya raya mungkin merasa masih kurang, sedangkan masih banyak orang diluar sana yang bahkan untuk makan pun sulit.
Jadi, sebetulnya apa sih ukuran kita untuk kata ‘cukup’?
Mantap, Tasha. Om bangga melihat Tasha yang sudah mulai memikirkan persoalan ini. 🙏
terimakasih om