Sudah lama sekali tidak jumpa seorang yang spesial buat saya, kang Wawan Husin. Seorang seniman, budayawan - yang banyak dikenal sebagai seniman jeprut. Beliau dulu berprofesi sebagai dosen Bahasa Inggris. Sejak tahun lalu bercita-cita ingin menjumpai beliau karena sebelum pandemi, saya mendengar beliau sedang berobat juga karena diabetesnya. Saya pertama kali berjumpa beliau di Rumah Nusantara - di sekitar tahun 1998. Sudah lama memang. Sosok yang bagi saya sangat unik dan pemikiran-pemikiran beliau sangat menggenapi - tepatnya mengobrak-abrik pemikiran-pemikiran saya dalam banyak hal. Tidak jarang juga saya merujuk kepada beliau dalam beberapa esai saya di Ririungan ini.
Dua hari yang lalu saya bersama kak Imam meluncur ke arah Cipageran - tempat kediaman kang Wawan. Sesampai di sana beliau sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya - sepertinya di tempat kerja beliau sehari-hari. Bersalam-salaman dan tidak perlu ditunggu lama meluncurlah berbagai hal yang sepertinya ingin diceritakannya kepada kami. Dengan senang hati saya menyimak apa yang beliau ingin sampaikan.
Yang menarik walaupun sudah tidak jumpa selama lebih dari dua tahun - obrolan kami segera nyambung - dengan topik-topik Literasi Diri dan lain sebagainya. Kang Wawan juga bilang bahwa karena sakitnya, pensiun dan pandemi mendorong beliau untuk lebih fokus ke dalam diri. Dan kata-kata yang dia sampaikan, "Jiwa (batin) memang lebih kuat dari badan manusia".
Beliau tanya apakah saya masih meditasi - dan bagaimana Semi Palar menerjemahkan meditasi di dalam pembelajaran. Obrolan juga berkisar di pendidikan dan perubahan jaman yang begitu cepat. Termasuk bagaimana peradaban menggiring manusia ke kehidupan yang semakin materialistik. Padahal, merujuk ke kalimat kang Wawan di atas ini, sebetulnya manusia adalah pada dasarnya jiwa (spirit - soul) yang dibungkus oleh raga (kebadanan).
Dengan yakin saya menyebut kang Wawan sebagai guru kehidupan saya. Saya sangat bersyukur bisa mengenal beliau. Bertemu beliau setelah sekian lama terpisah oleh pandemi sungguh membahagiakan buat saya. Saya juga menyampaikan buku-buku AES dengan harapan - bahwa kang Wawan bersedia menuliskan pemikiran, pemaknaan, penghayatan beliau yang beliau yakini dan saya sangat apresiasi dan amini sampai hari ini. Karenanya kang Wawan dalam beberapa kesempatan kami undang untuk hadir ke Semi Palar agar sedikitnya anak-anak Semi Palar punya kesempatan berjumpa dan berinteraksi dengan individu-individu seperti kang Wawan Husin ini.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita sudah mulai bisa membaca esai-esai pendek kang Wawan di Ririungan ini - narasi kehidupan beliau yang selama ini banyak jadi inspirasi bagi saya. Hatur nuhun, salam hormat buat kang Wawan. Salam sehat selalu.
Buat aku, Kang Wawan guru aku. Obrolan selalu mengalir kontemplatif terhadap berbagai "masalah".