AES 1352 Afterlife
joefelus
Thursday March 6 2025, 11:49 AM
AES 1352 Afterlife

Pagi-pagi ketika saya membuka mata, seperti biasa diawali dengan membaca sesuatu sebelum melakukan aktifitas seperti biasa. Membaca seringkali membuat saya merasa "siap" untuk mengawali hari baru. Nah pagi ini saya disuguhi sebuah cerita di forum diskusi yang biasa saya kunjungi tentang kehidupan sesudah kematian. Konon katanya, menurut wikipedia, afterlife, atau kehidupan sesudah kematian, merupakan bagian esensial dari kesadaran atau identitas seseorang yang masih tetap hadir ketika tubuhnya sudah meninggal.

Memang tidak semua orang meyakini bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Orang yang agamis biasanya mengimani ini sebab hampir semua agama mengajarkan tentang akhirat, surga, maupun istilah lain yang menggambarkan bahwa jiwa kita tetap hidup di alam lain. Hindu, Budha, Kristen dan Islam mengajarkan itu semua, bahkan kepercayaan sebelum kehadiran agama, seperti misalnya kelompok pagan mempercayai keberadaan mahluk halus, keberadaan reinkarnasi dan transformasi eksistensi dari satu hidup ke hidup yang lain. Ada sebuah cerita yang saya baca pagi ini yang membahas tentang afterlife. Ini cerita pengalaman seseorang. Saya coba ceritakan kembali:

Tahun 1972 istri saya mengandung anak yang ke-5. Ibu saya pada saat itu sedang mengidap kanker yang sangat parah dan hanya mampu berbaring di tempat tidur sejak tahun 1971. Beliau sangat ingin sekali berjumpa dengan cucu perempuannya yang baru. (Beliau entah bagaimana tahu bahwa yang dikandung istri saya adalah bayi perempuan walaupun sebenarnya kami sendiri belum tahu). Saya mengunjungi ibu secara teratur namun istri saya yang hamil tua tidak mampu lagi menempuh perjalanan sejauh 75 miles. Ibu waktu itu selalu bertanya," Bayinya sudah lahir belum?" dan saya selalu menjawab,"Belum." Tanggal 8 Mei Ibu saya meninggal dan istri melahirkan bayi perempuan 10 hari kemudian.

Ketika anak nomor 5 kami ini berusia 2 tahun dan sudah dapat berbicara, suatu hari dia berjalan di lorong rumah dan menyanyikan sebuah lagu yang biasa ibu saya nyanyikan ketika saya masih kecil. Ketika saya tanyakan dari mana dia tahu lagu itu, anak saya menjawab,"Dari seorang ibu yang baik hati yang sering mengunjungi saya di malam hari."

Ayah saya kemudian meninggal dan saya serta adik saya memutuskan untuk menjual rumah peninggalan orang tua kami. Suatu malam kami semua berkumpul dan mulai mensortir barang-barang yang akan kami simpan. Diantara barang-barang yang kami kumpulkan ada setumpuk foto-foto lama. Anak terkecil saya mendekat dan tiba-tiba berkata sambil menunjuk sebuah foto,"Ini dia ibu yang baik hati yang sering megunjungi saya di malam hari." Itu adalah foto ibu saya dan Kami semua terkejut sebab sangat tidak mungkin anak ini mengenal neneknya yang sudah meninggal sebelum dia dilahirkan. ***

Saya yakin teman-teman pernah mendengar atau membaca banyak cerita metafisik seperti yang barusan saya bagikan. Saya sendiri belum benar-benar memutuskan apakah mempercayainya atau tidak hahaha.. Sejak kecil memang kita semua diperkenalkan dengan banyak keyakinan tentang kehidupan lain. Tidak jarang kita mendengar orang yang sudah sangat tua yang ingin segera menyusul pasangannya ke alam baka. Tidak hanya itu, kita juga sering membaca status di sosial media ketika ada teman atau saudara yang meninggal, "See you in the next life." atau "till we meet again." Itu artinya kita mempercayai bahwa ada kehidupan lain sesudah ini. Konsep yang sangat menarik dan tidak pernah habis diobrolkan bahkan filsafat Barat kuno pun membahas ini seperti Plato maupun Socrates.

Saya tidak ingin membahas apakah ada kehidupan lain atau tidak. Sejauh ini walau banyak cerita seperti yang saya kutip di atas, belum ada bukti yang membuat kita benar-benar yakin. Semuanya tergantung pada iman masing-masing. Di kalimat syahadat orang Kristen dan katolik ada kalimat yang menyatakan "kebangkitan badan" dan "kehidupan kekal" semuanya menjanjikan afterlife. Kalau kita membaca kalimat syahadat memang sudah sewajarnya kita mengimaninya. Namanya iman, selalu berjalan sejajar dengan keragu-raguan, bukan? Itu yang katanya menumbuhkan keimanan kita.

Saya pernah menulis sekitar bulan November tahun 2021 (AES 166 dan 167) tentang perjalanan spiritual yang saya alami dan tentang emanasi, emanasi maksudnya adalah perpindahan dari energi satu ke bentuk lain. Pada tulisan persis sehari sebelumnya, saya menulis tentang lingkaran kehidupan yang merupakan suatu infiniti, merupakan energi yang tidak ada batasnya berubah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Pada saat itu saya mengungkapkan ada sebuah ketakutan karena tidak mengerti dan tidak tahu akan kehidupan berikutnya. Hal yang wajar, karena saya ungkapkan juga proses berpikir dan pengetahuan kita begitu terbatas walau sudah melakukan rasionalisasi. Ketakutan dan ketidaktahuan itu menimbulkan keraguan. Kita terus menerus membutuhkan bukti otentik dan pembenaran yang tidak pernah ada akhirnya karena siapa yang dapat membuktikannya? Akhirnya harus kembali ke iman dan sekali lagi iman selalu berdampingan dengan keragu-raguan.

Sekarang begini. Kita sering mengungkapkan atau berkata bahwa seseorang pergi ke "alam baka". Nah bukankah dengan mengatakan itu kita mengakui adanya alam lain?

Foto credit: foreverconscious.com