Tulisan @joefelus belakangan ini memantik lagi satu topik yang sempat ingin dituliskan tapi teralihkan oleh hal lainnya. Beberapa tulisan Joe bercerita tentang ayahnya yang berbaring karena sakit dan karena usianya yang sudah lanjut. Beberapa tahun yang lalu, ibu mertua saya meninggal di usia 95 tahun. Meninggal dengan tenang di saat tidurnya, walaupun beliau juga sudah harus menghabiskan waktu-waktu terakhir hidupnya dengan berbaring dan betul-betul perlu bantuan orang lain untuk berbagai kebutuhannya sehari-hari. Jadi saya relate betul dengan apa yang dikisahkan oleh Joe tentang ayahnya.
Senin besok ayah saya genap berusia 85 tahun. Sejauh ini di usia tuanya beliau sangat sehat. Sesuatu yang sangat kami syukuri. Beliau masih makan segala macam yang beliau inginkan. Masih sering kami mendengar, " Ayo, kita makan sate kambing!" Dan pergilah kami menemani beliau dan ibu untuk makan sate kambing langganan kami. Beliau tidak banyak makan seperti dulu, sangat membatasi, 4-5 tusuk sudah cukup buat beliau. Masih seperti dulu, walaupun sudah berbeda. Ini juga jadi inspirasi buat kami bagaimana ayah menjaga
Ibu kami juga sangat sehat, saat ini usianya 84 tahun. Saya lihat dan beliau juga merasa lebih sehat dari teman-teman yang usianya lebih muda dari beliau. Walaupun begitu, pertengahan tahun lalu, ada satu kejadian yang membuat beliau harus dirawat di rumah sakit selama hampir satu minggu dan menjalani proses penyembuhan dan pemulihan yang cukup panjang. Beliau harus mengurangi gerak, mengatur makan, menggunakan alat bantu untuk duduk, mengenakan penyangga agar posisi badannya baik dan seterusnya. Kejadian ini ternyata sangat berpengaruh pada kondisi psikologis beliau. Bersyukur, beliau berangsur kembali pulih - walaupun tentunya tidak bisa kembali ke kondisi beliau sebelum sakit.
Proses beberapa bulan terakhir memang membangunkan kami anak-anaknya bahwa kedua orangtua kami sudah sepuh. Pada saat yang sama jadi tersadarkan juga bahwa kami anak-anaknya juga segera menyusul. Karena orangtua kami yang sangat-sangat sehat dan masih aktif beraktivitas, kami juga 'terbuai' bahwa semua masih seperti dulu. Waktu berjalan cepat dan kami perlu mengaturkan segala sesuatu supaya bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Mereka yang sudah membesarkan kami dan memungkinkan semua yang bisa kami alami sejauh ini lewat segala kasih sayang dan dukungan mereka - termasuk Rumah Belajar Semi Palar yang tidak mungkin terwujud atas dukungan orangtua kami.
Waktu berjalan, detik demi detik terus berjalan, tanpa terasa. Walaupun tidak perlu dihitung, perlu disadari sepenuhnya. Dan kami perlu berusaha untuk merespons berbagai situasi kehidupan secara utuh. Rumah Belajar Semi Palar memang rumah kedua. Keluarga besar yang sangat kami syukuri dan saya sangat nikmati kehadirannya di dalam perjalanan hidup saya dan keluarga. Tulisan ini saya jadikan catatan kesadaran - merespons beberapa posting sebelumnya, tentang kehidupan, akhir kehidupan, menolak tua dan lainnya. Terima kasih banyak teman-teman atas tulisan-tulisannya yang sangat banyak memantik kesadaran diri saya. Mudah-mudahan jadi hal yang sama buat rekan-rekan lain yang aktif di Ririungan ini. Happy weekend. Salam bahagia 🙏🏼😊🌿
Photo by Pavel Danilyuk: https://www.pexels.com/photo/grayscale-photo-of-hands-holding-8057349/
Waduh yang ini juga keburu dibaca sebelum tuntas. Baru saja saya tuntaskan. Terima kasih @gunawan-muhtar. 🙏🏼😊