AES679 Ritus
Andy Sutioso
Tuesday August 6 2024, 9:38 PM
AES679 Ritus

Sore tadi seusai sesi ke dua Taki-taki untuk jenjang SD-Kecil, beberapa orangtua menghampiri saya dan memberikan tanggapan tentang apa yang saya sampaikan. Pertama-tama saya berterima kasih karena ini tandanya bahwa apa yang saya sampaikan ditangkap dengan baik. Sebelumnya saat makan siang, obrolan saya dengan @wibie juga menyentuh soal ini. Di bengkel saat berbincang dengan kak @fitrihapsari, salah satu hal yang disampaikan adalah soal ini juga. Jadi sepertinya, hal ini memang ada yang menaruh perhatian atau sebaliknya merasa bahwa memang ada yang bergeser soal ini. 

Spirit memang tidak bisa dilihat dan disentuh, tidak kasat mata. Dia hanya bisa dirasakan. Ini yang membuatnya perlu kepekaan tersendiri untuk mendapatkan kehadirannya.

Saya sempat cerita juga tentang beberapa lembaga yang setelah ditinggal oleh tokoh pendiri atau konseptornya - kemudian menjadi kehilangan ruhnya. Lembaganya masih ada, kegiatannya masih berjalan, tapi terasa kosong, hampa, tidak ada ruhnya. Ini yang menjadi catatan kita bersama di tahun pendidikan ini. 

Kembali soal spirit, karena ini bukan sesuatu yang sifatnya teknis, pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Obrolan dengan kang Aat di bulan Mei lalu memberikan sebuah jawaban buat kita. Jawabannya saya jadikan tulisan di atas ini. Singkat saja, Ritus. Apa itu Ritus? Padanan kata yang terdekat adalah Ritual - yang lebih banyak kita sebut di dalam ranah spiritual atau keagamaan. Pengertiannya mirip-mirip, sebuah Ritus adalah sebuah rutinitas, tradisi, prosesi atau kegiatan yang biasanya dirancang untuk mensimbolisasikan sesuatu dan membawa makna tertentu. Ritus ini dirancang karena ingin menjadikan hal tersebut sesuatu yang menyimpan makna dan seringkali menjadi sakral bagi para pelakunya. Melalui Ritus inilah spirit terus dihidupkan dan tetap dijaga.

Catatan pentingnya adalah bagaimana para pelakunya masih memahami secara utuh, makna apa yang dibungkus melalui berbagai laku dari Ritus tersebut. Seringkali setelah sekian lama waktu berjalan, Ritus juga menjadi kehilangan makna, dan yang tertinggal hanya laku-nya belaka. Hal ini juga perlu disadari bersama dan sejalan dengan waktu, makna yang ada sejak awal terus dibawa serta oleh siapapun yang melakukan Ritus tersebut. 

Contoh sederhana adalah upacara bendera. Dulu di sekolah kita mengalami bahwa upacara Hari Senin adalah sesuatu yang nirmakna. Hanya rutin saja, sementara yang dirasakan oleh para murid adalah kebosanan belaka. Ya tentu saja karena para peserta upacara tidak dibawa untuk memaknai dan menghayati apa yang disimbolisasikan oleh sebuah upacara bendera. Hal ini yang dicoba diwujudkan berbeda di Semi Palar. Upacara bendera bukan jadi rutinitas mingguan setiap Senin pagi, tapi setiap upacara tanggal 17, semua peserta dan petugas upacara dibawa di dalam sebuah ritus penghormatan bendera Merah Putih. Bendera yang melambangkan Indonesia yang bisa berkibar karena proses perjuangan panjang dan memakan korban jiwa para pejuang kemerdekaan. 

Sebetulnya Semi Palar juga punya banyak Ritus. Berbagai kegiatan rutin yang menyimpan tujuan dan spirit di dalamnya. Ini yang perlu lebih diangkat ke kesadaran kita, bukan sekedar ikut melaksanakannya. Salam. 

Mega
@mega   2 years ago
Belum ada fotonya, kak Andy. Hehe... Agak sedih baca tulisan ini, tapi ya mmg bener sih, kita gak akan selalu ada tapi spirit yang kita bawa mesti diestafetkan.

Baca tulisan ini, saya kebayang obor olimpiade yang apinya diambil dari Athena. Lambang spirit yg terus menyala.
Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Wah tulisan ini keburu dibaca - padahal belum tuntas. Tapi Mega sudah kebayang ya apa yang jadi perhatian kita saat ini. 🙏🏼
Pagi ini saya tambahkan gambar 😊