Ada satu pengalaman yang sangat membekas dalam diri saya adalah saat saya hadir di pembukaan Pasar Papringan, di dusun Ngadiprono, Temanggung. Waktu itu tahun 2017. Sangat menyenangkan suasananya - seperti berpindah ke jaman dulu - menggunakan mesin waktu. Mas Singgih dan timnya sungguh berhasil menghadirkan pasar Tradisional yang asik betul suasananya. Saya kira Rico sangat beruntung bisa ikut dalam proses persiapan, selama dia ikut magang di Spedagi selama dua bulan - menjelang dibukanya Pasar Papringan. Sewaktu survey ke Desa Kandangan, tempat tinggal mas Singgih, Pasar Papringan Ngadiprono sendiri masih kosong, masih persiapan. Pertama kali ke lokasi, bersama warga di sana saya dan Rico sempat diajak membuat Lemang - penganan tradisional yang dibakar di dalam selongsong bambu. Hehe, seru juga.
Hmm, saya akan cerita langsung terkait judul di atas tadi, antara Wisata dan Konservasi. Ceritanya begini. Saat itu beberapa waktu setelah pembukaan Pasar Papringan. Suasana sudah mulai ramai. Berbagai interaksi sudah berlangsung di Pasar tersebut. Sayapun berkeliling sambil berbincang sama warga yang berjualan di sana - sampai suatu waktu saya menghampiri Mas Singgih yang juga sedang berkeliling di sana. Saya yakin mas Singgih sangat berbahagia dengan apa yang terjadi - buah pemikiran dan gagasan yang akhirnya bisa direalisasikan kembali setelah beberapa hal yang diupayakan di lokasi sebelumnya terhenti. Pasar Papringan sempat beliau coba juga di Kelingan dan di satu lokasi lain - saya lupa tepatnya di mana.
Tidak lama kami berbincang, hadir seorang rekan mas Singgih yang juga berkunjung. Dari jauh, beliau berujar "Waah, mas... Aku cari-cari di Peta Wisata Jawa Tengah, kok ga ada ini Pasar Papringan!" Mas Singgih dengan santainya berkata "Ya ini kan bukan tempat wisata, ini kan pasar tradisional, pasar rakyat yang dihidupkan kembali!"...
Wah keren banget ya. Kata-kata mas Singgih ini kalau dipahami betul sangat mendalam artinya. Selama ini kalau kita amati di mana-mana, yang namanya Wisata itu, berfokuskan pada pengunjungnya. Memanjakan para wisatawan - tapi di sisi lain mengorbankan - bahkan merusak lokasinya itu sendiri. Betul kan? Perhatikan saja di mana-mana, itu yang terjadi. Kalau disebut tempat wisata, selalu jalan diratakan, toilet didirikan, tempat berteduh, cafe, warung, panggung musik dangdutan, tempat foto-foto dan lain sebagainya. Keaslian tempatnya jadi hilang.
Saya punya pengalaman juga di ajak ke satu tempat wisata di kaki Gunung Ciremai, di Desa Sindang Wangi. Saya diantar oleh teman-teman dari Jatiwangi Art Factory yang sedang melakukan pendampingan bagi warga desa tersebut. Tempatnya luar biasa indah, latar belakangnya Gunung Ciremai yang megah. Tapi begitu sampai di tujuan, yang terlihat adalah warung, panggung dan sound system yang keras-keras memutar musik dangdutan. Padahal mestinya tempat seperti itu dituju supaya kita bisa mendengarkan suasana alam. Kenapa merusak suara alam dengan musik dangdutan yang bisa didengarkan di tempat lain.
Pasar Papringan bukan tempat wisata - tapi justru kental dengan nilai wisata - karena keasliannya. Mas Singgih dan teman-temannya di Spedagi membangun Pasar Paringan dengan pemikiran konservasi, mempertahankan keasliannya. Di sana tidak ditemukan jamban atau WC umum. Kalau pengunjung mau ke toilet - pengunjung diarahkan mampir ke rumah warga menggunakan kamar mandi di rumah warga - yang sudah 'distandarisasi' kebersihan dan lain-lainnya. Air mengalir, perlengkapan dan kebersihannya memadai - tapi asli seperti apa yang digunakan warga sana sehari-hari. Asik banget.
Saya juga tidak menemukan sampah plastik. Saya sampai membongkar tempat sampah yang ada di sana. Tidak ada plastik. Semua alami, daun pisang, bambu, batok kelapa dan lainnya. Luar biasa... Coba bandingkan dengan tempat sampah yang ada di mall. Semua plastik... modern, tapi justru memprihatinkan. Di Pasar Papringan, tampaknya sederhana, tapi justru luar biasa canggih. Yang membedakan adalah mindset konservasi yang dipegang dalam pengembangan dan pengelolaan tempat-tempat ini.
Kalau kita ingin Indonesia tetap bertahan dengan segala keunikan alam dan kebudayaannya, tempat-tempat wisata perlu dikembangkan dengan menambahkan satu kata kunci : Konservasi. Dengan demikian yang dipertahankan adalah tempatnya. Segala keasliannya sedapat mungkin dijaga - karena itulah yang sebetulnya kita cari. Kalau mau dangdutan atau karaokean - ga perlu ke tempat-tempat indah di mana-mana. Cukup dilakukan di kota di dalam gedung. Kalau kita mau mencari keindahan alam, keheningan hutan atau kemegahan samudera, mari kita nikmati seasli-aslinya. Supaya semua keindahannya tetap terjaga.