Mentari bersinar dengan cerah ceria, menemani langkah seorang anak perempuan bermata bulat yang sorot matanya tak kalah terang dari sang mentari.
Rambut legam yang terurai tertiup angin tipis, bergerak riang mengikuti langkah kakinya yang penuh harapan.
Ia sangat suka bermain dengan banyak teman, berlari sambil saling mengejar, dan mengunyah banyak buah apel dan coklat. Senyumnya selalu mengantarkan mentari bersinar lebih bersemangat. Namun Paman awan senang sekali menemaninya bermain, hingga hari-harinya kerap ditemani hujan deras dan petir. Sering kali saat petir datang, semua warga merasa takut, dan segera masuk ke rumah masing-masing. Semua orang merasa anak perempuan ini yang membuat hujan deras dan petir datang, sehingga semua warga menjauhinya dan tak mau bermain dengannya.
Ia merasa sedih dan sendirian, tapi Paman Awan selalu datang menemaninya untuk bermain bersama hujan dan petir. Ia rindu pelangi, tapi ia tidak tahu cara memanggil teman-teman warna untuk bermain. Ia rindu sang mentari, tapi ia lupa mentari ada di setiap senyum dan sorot matanya. Ia hanya tahu 1 cara untuk membuat semua warna memanggil namanya, dengan bermain bersama Paman Awan untuk bertemu hujan dan petir. Sehingga setiap warga akan memanggil namanya kesal, dan mulai berlarian untuk masuk karena takut pada hujan dan petir.
Ia senang melihat semua orang berlari memanggil namanya, menurutnya itu menyenangkan. Tapi ia tak pernah tahu perasaan kesal warga karena dirinya. Begitupun dengan warga yang lain, mereka tak pernah tahu apa perasaan anak perempuan itu.
Hingga suatu hari, ia berjalan di tepi sungai jernih dan melihat Paman Awan yang mengikutinya. Ia duduk sambil bercakap dengan Paman Awan.
Ia bertanya pada Paman Awan, mengapa semua warga tak ada yang mau bermain dengannya. Menurutnya hari-hari selalu menyenangkan untuk bermain bersama dan berlarian di lapang luas bersama.
"Aku tidak tahu cara bermain seru menurut mereka, apakah aku aneh Paman Awan?" Tanya anak perempuan itu pada Awan.
"Aku sayang semua teman-teman, aku suka tertawa dan berlarian bersama. Terkadang aku memang menubruk mereka. Tapi aku tak sengaja, aku hanya terlalu bersemangat. Aku tidak tahu cara mengaturkan langkahku agar bisa lebih tenang dan mengenggam tangan mereka dengan nyaman." Ungkap anak perempuan itu sambil tertunduk.
"Aku sayang semua teman-temanku, Paman Awan." Ungkapnya lirih sambil menangis.
Paman Awan ikut menangis melihat anak perempuan itu menangis, Paman Awan memeluknya perlahan, hingga hangat pelukan Paman Awan mengantarkan senyum manis ditengah hujan rintik-rintik hari itu. Mata anak perempuan kembali bersinar, ia melihat Paman Awan sambil tersenyum. Tak lama teman-teman warna keluar menjadi pelangi besar yang indah. Semua warga senang dan bersorak sambil mengejar ujung pelangi.
"Aku suka pelukanmu Paman Awan!" Ucap anak perempuan itu.
"Aku suka senyum hangat dan sorot matamu" Ungkap Paman Awan sambil melepaskan pelukannya perlahan.
"Hari-hari tak pernah terlalu kelam untuk hati yang penuh cinta. Tersenyumlah, teman-temanmu menunggu di ujung sana untuk bermain dengan perosotan pelangi itu." Ujar Paman Awan sambil tersenyum.
*Gambar diambil dari pinterest.https://id.pinterest.com/pin/68745271217/
hangat sekali cerita ka Yanti..