Thinking is over-rated. Saya mulai dengan pernyataan ini. Selama ini kita dibuat berpikir bahwa kerja pikiran adalah sesuatu yang sangat-sangat penting. Saya sepakat itu penting, tapi ternyata - sejauh ini saya pahami bahwa kerja pikiran adalah bukan yang terpenting. Ada satu lapisan lagi yang sebetulnya lebih penting - mungkin tepatnya lebih terutama, yaitu ruang kesadaran. Sebagai catatan saya menghindari istilah kerja kesadaran, karena kesadaran ada di atas ranah bekerja. Kesadaran masuk dalam ranah being - karena ya, manusia adalah Human Being, bukan Human Doing.
Entah sejak kapan, untuk kepentingan apa, oleh siapa, manusia dibuat tersesat sehingga melupakan esensi kediriannya, menyadari manusia adalah Human Being. konteks ini, manusia adalah makhluk yang punya dimensi keIlahian, a divine entity, sebagaimana banyak agama menyebutkan tentang hal ini di dalam ajarannya.
Lebih jauh dari sekedar over-rated, ternyata pikiran manusia adalah juga penjara bagi dirinya sendiri - untuk bisa menyentuh dimensi keIlahian itu. Manusia dibuat merasa serba tidak berdaya, dirinya banyak punya keterbatasan. Dari aspek lain, manusia dikondisikan untuk terus berada di dalam moda bertahan hidup (survival mode). Amygdalanya diaktifkan terus dengan berbagai cara. Kenapa? Saya pikir supaya manusia mudah dikendalikan dan dikuasai.
Hal ini jadi sangat mudah dilihat pada bagaimana berbagai sistem dirancang. Sistem pendidikan, sistem politik, sistem ekonomi, yang membuat manusia jadi mudah diatur - setidaknya dibuat agar tidak berdaya.
Menyadari hal ini, bahwa pikiran adalah penjara kedirian kita, adalah sebentuk kesadaran yang sangat penting. Menyadari bahwa hal yang kita andalkan justru jadi kendala atau batasan kita menuju potensi diri yang lebih besar, bahkan tidak berbatas. Hal inilah yang sepertinya berada di luar jangkauan lembaga pendidikan karena satu atau lain hal yang belum bisa kita pahami.
Photo by Donald Tong: https://www.pexels.com/photo/rear-view-of-a-silhouette-man-in-window-143580/