Esai ke lima ratus enam puluh tujuh - saya menuliskan esai yang judulnya teu pararuguh... Hmm. Oke. Tapi begitulah suasana batin saya saat menuliskan esai ini. Perasaan galau ini muncul sudah cukup lama. Kenapa? Ya karena saya sedang sangat mengikuti berbagai situasi di luar sana. Apa yang terjadi di luar lingkar kehidupan kita di Indonesia, di Bandung - yang sejauh ini baik-baik saja. Buat saya ini praktik literasi. Dan pada akhirnya betul juga ya bahwa kita perlu saat kita banyak membaca situasi, kita juga lebih sadar apa yang sedang terjadi. Perubahan apa yang sedang berlangsung dan apa yang semestinya bisa atau perlu kita lakukan. Akhirnya semua ini kembali ke kesadaran. Literasi memang terkait erat dengan kesadaran kita.
Lalu apa yang menjadikan saya teu pararuguh. Wah banyak hal. Lingkungan hidup salah satunya. Terasa betul bumi makin panas. Suhu Bandung di siang hari ada di kisaran 30 derajat Celcius. Dulu suhu 27 derajat saja kita warga Bandung sudah merasa kepanasan. Lalu begitu banyak berita bencana di berbagai penjuru dunia. Kebakaran di Kanada dan di Yunani, Banjir besar di China, angin topan di Dubai dan lain sebagainya. Banjir Bandang di Libia yang menewaskan puluhan ribu jiwa. Mengerikan. Alam sepertinya sedang murka.
Situasi di berbagai negara juga semakin tidak menentu. Cina konon katanya sedang menuju kebangkrutan. Negara di Eropa seperti Jerman juga sama. Ekonominya jatuh dan tidak menentu. Amerika juga sama. Jepang juga begitu kabarnya. Banyak yang menuju resesi seperti diperkirakan. Nah ini yang disebut krisis global - dan kabarnya ini baru tahap-tahap awal karena konektivitas yang global semua negara akan merasakan dampaknya. Berbagai negara juga sudah menghentikan ekspor beras karena semua mulai mementingkan ketahanan pangan di negara masing-masing. Di sisi lain alam juga terus mengancam karena produksi pangan juga sudah terganggu krisis iklim yang terjadi. Duh...
Hal-hal inilah yang yang bikin saya galau. Saya percaya kita bisa membuat perubahan - tapi kadang sisi pesimisme muncul juga saat menimbang keburukan yang ada dengan hal-hal positif yang kita bisa lakukan. Tapi kembali lagi ini adalah sisi logika yang muncul, kita mengukur, menimbang antara positif dan negatif, secara matematis. Wajar yang muncul adalah kegalauan - kalau tidak mau menyebut pesimistis.
Saya masih mencari jawaban - karena saya yakin banyak juga orang-orang di luar sana yang punya pemikiran yang sama, perasaan yang sama, kebingungan yang sama. Mudah-mudahan jawaban yang saya cari segera hadir.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/question-mark-on-chalk-board-356079/
"Terlalu kecil, ga ngaruh." Pikiran ini yang sering keluar, karena siapa sih saya?
Betul banget 🙏🏼