AES 542 Integritas
joefelus
Wednesday November 16 2022, 12:28 PM
AES 542 Integritas

Saya mengalami sebuah peristiwa menarik tadi pagi. Sepertinya memang biasa saja, tapi ketika saya pikirkan dan renungkan dalam-dalam, ini menjadi sebuah contoh betapa proses perkembangan pembentukan karakter-karakter yang sejak awal dilakukan hingga sekarang telah mulai terlihat hasilnya.

Saya kembali harus bangun ketika di luar masih gelap. Suhu di luar katanya -12 derajat Celcius. Saya dapat giliran (lagi) mengantar Kano ke tempat kerja. Kelihatannya ini akan menjadi kegiatan rutin sebab Kano tampaknya senang dengan jadwal ini. Alasannya sederhana, dia mendapat jam kerja yang jauh lebih panjang sehingga (hehehe.. bisa ditebak khan?) gaji dia jadi lebih banyak. Penghasilan dia memang tergantung pada banyaknya jam bekerja.

Hari masih gelap ketika kami meninggalkan rumah. Kaca jendela mobil penuh dengan kerak es yang membeku. Butuh sedikit waktu untuk melelehkan es itu dengan menghidupkan pemanas kaca depan dan belakang, pemanas tempat duduk dan heater di dalam mobil. Perbedaan suhu di dalam mobil dengan suhu diluar sering membuat repot karena menjadi berembun. Bayangkan saja kaca cermin di kamar mandi jika kita mandi dengan air panas. Nah untuk nyupir memang jadi agak berbahaya.

Hanya butuh waktu sekitar 5 menit berkendaraan sejauh sekitar 3km ke tempat kerja Kano. Sambil berangkat dia sarapan di mobil. Kebiasaan ini sudah dilakukan sejak dia TK hahaha.. Sama ketika dulu berangkat subuh-subuh ke Smipa, Kano sarapan di mobil dan begitu tiba di sekolah sarapan sudah habis. Sekarang juga sama, hanya bedanya menu. Dulu dia senang sekali roti lapis dengan selai nanas, hampir setiap hari makan itu, sekarang dia beda. Kadang roti lapis dengan ham dan keju yang meleleh, tapi tadi pagi dia minta mie sedap! Haha.. iya, di sini bisa dapat mie sedap maupun Indomie. Ini mie instant yang sudah mendunia, mudah diperoleh di banyak supermarket di Amerika.

Tiba di tempat kerja, Kano keluar dan saya langsung berangkat ke kedai kopi. Rencananya akan membeli kopi lalu langsung berangkat ke kantor. Ketika sedang memesan kopi telepon berbunyi.

"Hi dad, can you come back here? The manager on duty is not here yet and I don't have key to get in." Kata Kano.

"Ok, I'll be there in a few minutes. I am getting my coffee and I'll be on my way." Jawab saya.

Beberrapa menit kemudian saya tiba kembali di tempat kerja Kano. Dia berdiri menunggu di lapangan parkir dengan hoodie birunya yang menutup kepala. Terlihat uap keluar dari mulut dan hidungnya ketika menghembuslan napas. Di luar memang amat sangat dingin. Kano langsung mendekat dan langsung duduk di dalam mobil yang hangat.

"What's going on?" Tanya saya.

"Well, the manager on duty apparently is not here yet. I have been knocking at the door and looking everywhere but there's nobody and inside is still dark. This manager is not very competent in doing his job." Kata Kano

"So what are you going to do?" Tanya saya.

"I am going to wait. If he doesn't show up in half an hour I will probably go home." Kata Kano

"Ya, but I have to go to work in about 10 minutes." Kata saya

"I know. Let me think about it."

Kano berusaha menghubungi manager lain, hanya saja sepertinya dia tidak pernah menyimpan nomor-nomor telepon di daftar kontaknya. Jadi memang agak repot.

"Next time, ask their phone numbers, so in a situation like this you'll be easy to contact anybody and figure out what you are going to do." Kata saya.

"I know." jawab Kano pendek

Saya banyak tersenyum pagi ini sambil membirkan Kano belajar menghadapi situasi ini. Saya sama sekali tidak berusaha ikut campur atau mempengaruhi dia dalam mengambil keputusan. Saya hanya penonton pasif. Dia memang sempat gomel soal manager yang agak kurang bertanggungjawab ini. Katanya dia memang suka terlambat masuk kerja. Kano termasuk anak yang sangat punctual kalau urusan masuk kerja. Memang kalau mau pergi dengan orang tuanya dia suka lelet dan terlihat terlalu santai walau sudah melewati waktu yang dijanjikan. Mungkin karena dia bisa lebih leluasa dan nyaman dengan orang tuanya, tapi jika urusan kerja dia gesit dan tidak pernah terlambat. Justru managernya yang parah hahahaha.

"Dad, I think I will wait. I will also keep trying to call somebody. I do not want "no call no show" thingy." Jelasnya dengan santai. Dia sepertinya sangat tenang dan mampu menghadapi situasi ini tanpa melibatkan emosi. Memang dia sempat kesal karena dia tentunya lebih memilih tidur lebih lama daripada menunggu di tempat parkir sambil kedinginan. Memang masuk akal sekali. Kalau saya, belum tentu saya bisa sabar menunggu manager yang kurang becus ini hahahaha

Di sini saya melihat Kano sudah menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip dan nilai yang baik. Dia jelas sadar akan pentingnya tanggungjawab dan menjadi orang yang reliable. "Hmm,... nilai-nilai kehidupan yang dia terima di sekolah, bimbingan guru-guru dan pendampingan orang tua tampaknya sudah bisa saya saksikan buahnya. Keren ini!" Pikir saya. Ya saya sadar bahwa integritas itu tidak bisa hadir begitu saja. Integritas yang dia miliki adalah hasil dari pembentukan kebiasaan dan pengenalan akan nilai-nilai yang mulia. Sebetulnya ini kejadian biasa dan sederhana, bukan? Tapi saya menilai dari sikap dalam menghadapi situasi ini yang membuat saya begitu bangga.

Kedisiplinan, ethics dan akuntabilitas juga saya dapat saksikan di sini. Karakter yang baik akan lebih condong untuk memilih melakukan apa yang baik dan benar daripada melakukan apa yang mudah. Bukan begitu? Kalau mau mudah, Kano tinggal bilang,"Dad, will you take me back home? It's not my fault that I have this situation." Memang bukan salah dia khan? Kano sudah tiba tepat waktu, dan toko seharusnya saat itu sudah buka, tapi karena yang memiliki kunci dan bertanggungjawab akan shift pagi itu tidak ada, tentunya Kano bisa saja pulang. Tapi tidak, dia memilih untuk melakukan hal yang benar bukan hal yang mudah walau dia punya alasan untuk melakukan itu. Sekali lagi saya merasa bangga.

Foto Credit: integritysolutions.com