Dua hari berturut-turut tanpa ide lagi. Kemarin malam saya termenung sampai akhirnya berhasil menulis menjelang tengah malam. Nah ini tidak boleh berlarut-larut sebab saya harus mulai bisa kembali ke kebiasaan lama, tidur lebih awal dan bangun sebelum matahari terbit. Mengapa begitu? Sebab mulai hari Senin saya kembali ngantor. Setelah lebih dari 2 bulan saya "liburan" tidur lewat tengah malam dan terbangun ketika matahari sudah mulai tinggi, saya harus mengubah itu. Oh, tentu saja saya akan bisa kembali ke kebiasaan lama. Ini sih mending jika dibandingkan dulu di Bandung, saya selalu bangun sekitar pukul 4 pagi, menyiapkan segala sesuatu dan pukul 5 pagi sudah bersiap-siap dan lewat sedikit sudah meluncur di jalan. Pukul 6 sudah di Smipa. Yang sekarang di sini sih tidak ada apa-apanya!
"Hey, I heard from Mom that you are interested in skydiving." Kata saya pada Kano tadi pagi.
"Yes, that's one of my life goals." Kata Kano
"Want to do it?" Tanya saya
Ngobrol kami pagi tadi menjadi seru. Sebelumnya saya tanya Nina tentang bagaimana pendapat dia jika saya ingin benar-benar mewujudkan cita-cita gila yang kemarin malam saya tulis. Itu obrolan pagi tadi.
Malam ini saya kembali termenung-menung lagi mencari ide. Untuk mentrigger otak saya menemukan sesuatu saya iseng-iseng membaca karya teman-teman di Ririungan. Ada cerita rapotan Kak Asep hingga cerita telur asinnya kak Fifin. Hahaha... Kakak-kakak Smipa memang sejak dahulu selalu kreatif. Itu ciri khas yang selalu saya kagumi. Banyak hal-hal positif yang anak saya, Kano, pelajari sejak usia dini waktu duduk di rumah belajar ini dan masih terus berkembang hingga sekarang.
Eniwei, ternyata menu kak Fifin tidak jauh berbeda dengan saya. Telur Asin! Kalau Kak Fifin menyebutnya endog entog, telur asin yang saya nikmati bersama sayur Rawon itu produk dari China. Minggu kemarin saya menyempatkan diri nyupir jauh keluar kota hanya untuk mencari ini. Saya beli 3 kontainer, masing-masing berisi 6 butir. Kok banyak sekali? Iya, karena sedang ada diskon. Jika beli 1 kontainer harganya hampir $5 , sedangkan jika saya beli 3, total harganya hampir $10. Kenapa tidak? 1 kontainer saya bagi dengan sahabat saya, termasuk 1 kontainer rawon yang saya buat.
Telur asin yang saya beli ini kualitasnya sangat baik walau menurut saya agak terlalu asin. Telurnya sudah matang dan masing-masing dibungkus dengan plastik berwarna merah dan di-vaccum. Mungkin karena sudah diasinkan dan juga kedap udara, maka telurnya tahan sangat lama, hingga berbulan-bulan. Nah begitu saya keluarkan dari plastik, biasanya saya cuci, saya bilas dengan air lalu saya keringkan. Entahlah, sepertinya ini tindakan berhati-hati yang saya lakukan sebab namanya produk dari negeri itu, seringkali mencurigakan. Buktinya begitu saya keluarkan dari plastik terasa agak basah. Entah karena apa. Jadi menururt saya lebih aman jika saya cuci dulu sebentar. Mengapa saya suka telur ini, karena begitu saya belah, tangan saya langsung penuh dengan minyak! Ya bagian kuning telurnya penuh dengan minyak. Ini rasanya nikmat sekali. Sangat cocok dengan nasi panas dan rawon!