I ain't good at saying goodbye
Itu lah yang saya katakan di sesi tutup kelas terakhir Kelompok Yospan. Dan memang benar adanya. Saya tidak pandai mengucapkan selamat tinggal. Di masa kanak-kanak, saya tidak terlalu memusingkan siapa yang datang dan siapa yang pergi dari hidup saya. Saya selalu berpikir, "Jika ia memang ingin mampir, silahkan. Jika sudah selesai waktu persinggahanya dan sudah waktunya pergi, apa lah hak saya menghalangi". Sebagian pendapat ini memang diwarnai saya yang hanya punya sedikit kawan dan cenderung dijauhi, namun itu kaleng cacing baru lagi untuk dibuka kemudian hari. Tanya saya esok hari, siapa tau sudah waktunya
Perlahan hal itu terkikis. Di SMA, saya menemukan kawan-kawan yang saya bisa bilang sahabat. Saya pun tidak ingat bagaimana pertemuannya, yang saya ingat hanya kami sudah bersenda gurau menikmati ketololan masa remaja, mulai dari kisah cinta beruk pertama yang jadi bahan olok-olok karena pasti salah satu dari kami (ya, saya) mendadak berubah menjadi pujangga diskonan Pasar Senen, berkeliling kota tanpa tujuan mengendarai sepeda, (ini masih era metromini raja jalanan bung, kami berkelahi dengan kebulan asap diesel kopaja waktu itu), sampai hal sederhana seperti menghabiskan waktu bersama di kamar usai ujian tengah semester. Namun, karena hingga sekarang kami masih erat, saya sama sekali tidak mengucapkan selamat tinggal ke mereka. Walaupun kami sudah bekerja mengais penghidupan di tempat yang berbeda, dijamin jam purnatugas kami akan kembali bersenda gurau seperti masa tak pernah berlalu. Saya pun memiliki ekspektasi mereka akan selalu menunggu di Discord sepulang saya mendampingi kawan-kawan di Semi Palar
Ini berubah ketika Tahun Pelajaran 20 ini berakhir. Kelompok Yospan, kawan-kawan pertama yang menerima saya sebagai fasilitator bidang studi di tahun 1 paska-COVID, akan beranjak memilih petualangan mereka sendiri. Beberapa dari mereka bahkan merantau jauh dari Kota Bandung, ada yang pergi ke Kudus, ada pula yang pergi ke Jogja. Mengamati perjalanan mereka, dari awal menginjak masa remaja awal hingga sekarang sudah bertumbuh menjadi pemuda dan pemudi dengan keunikan mereka yang semakin kuat mereka torehkan di keseharian, mendapatkan lebih dari kursi baris pertama, tapi diajak ke panggung menari bersama, melukis hari-hari bersama dengan berbagai warna, gelap maupun cerah, sungguh merupakan pengalaman yang indah.
Jujur, saya tidak mempersiapkan apa-apa ketika hari pelepasan. Mungkin karena saya masih ada tanggung jawab lain (menulis rapor salah satunya hehe), namun ada satu hal yang saya sadari. Saya masih memiiki ekspektasi mereka akan duduk manis di kelas, menunggu saya masuk untuk memulai kegiatan dengan waktu hening. Untuk kembali melukis hari-hari, berdansa seperti orang sinting, menyanyikan suara hati seperti tiga tahun sebelumnya. Perlahan saya menyadari bahwa mereka tidak akan pernah memasuki ruang kelas lagi sebagai siswa siswi SMP Semi Palar. Kali berikutnya mereka memasuki ruangan ini, mereka akan sudah menjadi insan yang memiliki dunianya sendiri. Baru lah perlahan bobot kejadian ini merangkak masuk.
Saya sudah menyampaikan ke kawan-kawan Yospan bahwa bagi saya merupakan sebuah kehormatan mendampingi perjalanan mereka selama tiga tahun ke belakang. Saya juga sudah menyampaikan terima kasih atas kebahagiaan yang sudah kami rajut. Satu hal yang saya belum sampaikan. Sekarang saya sadar betul bahwa tidak mungkin hari-hari seperti itu akan abadi. Tidak mungkin kami terus bersama dalam konteks kelompok Sasadu/Brantas/Yospan. Pasti konteks tersebut akan berakhir. Suatu saat, yang tersisa hanyalah rekaman di batin kita masing-masing akan momen momen yang kita pernah lalui. Rangkaian potret kecil, sepotong rekaman suara yang melantun halus (atau menggemparkan dunia) yang akan selalu mengiringi hingga sel otak perlahan mengakhiri hidupnya menghapus seluruh eksistensi kita. Ini pernyataan saya; Ketahui lah, tidak ada yang bisa menggantikan semua hal yang sudah kita rangkai. Bahwa ada momen di semesta ini yang kita pernah lalui bersama. Hal tersebut tidak akan pernah tergantikan, dan akan saya bawa terus hingga setiap atom di diri saya musnah.
Dan hari ini, saya belajar untuk mengucapkan
Selamat jalan, Yospan!
Dari: Pujangga Diskonan Pasar Senen, Hanief Adnadi
Walaupun diskonan, ini esai yang keren kak Hanief. Hatur nuhun. 🙏🏼🤗
Berarti diskonnya saya apus aja ya kak Andy wkwkwkwk
Aaah atuh nangis deui wae kami para the Kanebos. Esai yang indah Kak Hanief, nuhun 🙏🏻☺️
Terima kasiiih udah dibaca. Saya sponsorin satu box deh kanebonya hahahaha