AES015 Perjalanan Menuju Sunyi
Linda Djuanda
Friday April 29 2022, 6:29 PM
AES015 Perjalanan Menuju Sunyi

Sudah lama menyukai hiking, yang dalam kacamata aku artinya jalan tipis tipis menyusuri kaki gunung, perbukitan hanya untuk menemukan air terjun. Titik yang paling mudah dicapai adalah dengan mengikuti aliran sungai Cihampelas yang berhulu di Situ Lembang.Dari Situ Lembang,air mengalir ke  air terjun pertama yang bisa di jangkau dengan mudah dan aman buat anak anak adalah Curug Layung di kawasan Ciwangun Indah Camp - Cisarua. Dari Curug Layung bergerak sedikit mengikuti aliran sungai maka kita akan tiba di Curug Tilu Leuwi Opat masih kawasan yang sama. Terdapat beberapa air terjun kecil di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat yaitu Curug Putri dan Curug Golosor. Bergeser kembali kebagian bawah Curug Tilu Leuwi Opat adalah Curug Aseupan dan Curug Kacapi. Curug curug tersebut sangat mudah dijangkau serta cocok untuk hiking bersama anak anak. Aliran air sungai Cihampelas juga jatuh di kawasan Curug Bubrug, salah satu curug yang paling susah aku temukan karena salah jalur masuk. Kukira jalan masuknya tertutup bagi umum, ternyata ada jalan masuk lain yang melalui perkampungan warga tepat sebelum gerbang masuk Dusun Bambu. Aliran air dari Curug Bubrug juga mengalir ke air terjun dibawahnya yaitu Curug Cimahi atau Curug Pelangi - curug yang menurut saya lumayan baik pengelolaannya dan lebih dikenal masayarakat luas dibanding curug curug diatasnya. Sayangnya,tiga kali hiking ke Curug Pelangi, entah kenapa setelahnya kaki saya tremor. Mungkin karena jalan nya yang terus menurun diawal dan menanjak diakhir. Menelusuri ke bagian hilir dari Curug Cimahi, kita akan sampai di kawasan Curug Panganten di kawasan Katumbiri. Sayaagak sedikit heran, meski jalur masuknya melewati perumahan Katumbiri, namun Curug Panganten seolah terlupakan pengelolaannya oleh pemerintah atau aparat desa setempat. Terakhir kali saya coba mengunjungi Curug Panganten, saya harus kecewa dikarenakan jalan akses menuju curug Panganten tertutup longsoran sehingga saya tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke Curug Panganten dan harus berbesar hati memutar balik dan menemukan Curug kecil lain di sekitar kawasan Curug Panganten. Berdasarka artikel yang saya baca di internet, terdapat satu Curug lain tepat satu undakan dibawah Curug Paganten. Namanya Curug Lalay. Terletak di Ds. Padaasih di perbatasan Kota Bandung dan Cimahi. Lalay dalam bahasa Indonesia artinya kelelawar. Masyarakat menamainya Curug Lalay karena tepat disamping air terju tersebut terdapat sebuah cerukan yang menjadi tempat berkembang biak kelelawar/lalay. Tak banyak informasi yang saya dapat mengenai Curug Lalay. Hal ini dikarenakan curug ini lagi lagi seperti terlupakan sehigga tidak banyak orang yang tahu.

.

Minggu, 24 April 2022. Pukul 09.00

Seperti biasa minggu pagi (kalo lagi ga mager) jadwal saya antar Ibu berbelanja ke pasar tradisional. Ibu sangat senang berbelanja ditemani saya. Karena selain belanjaan semua saya bawa sendiri, Ibu juga merasa aman karena saya ikuti dari belakang. Beda dengan Ayah katanya, kalo ayah hanya antar dan nunggu ibu belanja diparkiran. Selesai berbelanja dan mengantarkan ibu kembali ke rumah, saya memacu kendaraan ke arah Lembang melalui punclut. Selain jalannya relatif sepi, jug sekalian test drive untuk kendaraan apakah masih mampu menanjak atau tidak. hehe. Dari Universitas Advent, saya membelokkan kendaraan saya ke arah Cihanjuang. Tekad saya sudah bulat untuk bisa menjangkau Curug Lalay. Tanpa persiapan yang cukup matang  kondisi puasa dan hanya berbekal sebotol air minum saya rasa saya sudah cukup nekad namun sangat ceroboh karena ternyata perjalanan nya ternyata luar biasa menguras tenaga. Menyusuri jalan Cihanjuang, motor terhenti disebuah jalan kecil yang terdapat plang sebuah madrasah di Cisasawi. Mungkin hanya sekitar 200 hingga 300 meter dari plang madrasah tersebut,saya berbelok ke kanan masuk ke gang Muklis setelah bertanya pada warga yang kebetulan melintas. Tidak adanya plang penunjuk, membuat saya harus sering sering bertanya pada warga sekitar. Setelah melewati sebuah pemakaman kecil, saya parkirkan kendaraan di depan rumah warga yang kebetulan halamannya luas. Kemudian kembali bertanya pada warga mengenai jalur ke arah Curug Lalay. Warga yang saya temui sering kali bertanya, sendirian neng? dan saya jawab Iya. Melewati perkebunan warga, saya mulai perjalanan menuju sunyi.

.

Perjalanan menuju sunyi

Dari perkebunan penduduk, saya terus berjalan menurun mengikuti jalan setapak. dibeberapa titik nampak longsoran longsoran kecil yang membuat saya agak sedikit kerepotan namun beruntung saya membawa trekking pole.beberapa kali berpapasan dengan warga yang sepertinya hendak kembali ke rumah setelah dari kebun. Sungguh luar biasa, ditengah crowdednya kota Bandung, jauh masuk ke wilayah padaasih, terdapat sebuah lembah yang menyimpan kecantikan curug lalay. Saya tiba ditepian sungai kecil namun berair cukup deras. Yaaa aliran sungai nya memang cukup deras karena saya datang dimusim penghujan. Setelah melewati sebuah saung warga kemudian melintasi sebuah jembatan bambu yang dibuat warga, saya berjalan menyusuri sungai dengan melawan arus. Disini perjalanan menuju sunyi dimulai. Karena tidak ada seorang pu yang menemani saya. Setiap kali kerusukan seperti ini, saya merasakan ketenangan. Hanya mendengar suara suara alam, gesekan daun atau gemericik air sungai. Dan saat tiba di air terjun yang saya tuju,ada perasaan senang melihat air jatuh dari ketinggian dengan begitu anggunya. Ditengah renungan saya menuju Curug Lalay, seorang pria menghampiri. Namanya Pak Muhidin, warga RT04 ciseureuh. begitu beliau memperkenalkan diri. Pak muh akhirnya menemani perjalanan saya ke Curug Lalay. beliau khawatir saya tidak akan sampai atau kesasar apabila memaksakan sendirian. Kami bercakap cakap sepanjang perjalanan. beliau mengira saya peneliti yang akan survei pembukaan jalur ke curug lalay. Namun saya sampaikan, bahwa saya hanya seorang guru yang senang hiking dan kerusukan seorang diri. Beliau bertanya, apa saya tidak merasa takut berjalan sendirian di tengah hutan? Saya jawab tidak. Karena sudah cukup terbiasa. Ya memang Curug Lalay ini merupakan curug terakhir dari sungai cihampelas, wajar bila air nya keruh dan bercampur limbah rumahtangga. tidak sekali saya menemukan sampah sampah plastik tersangkut disela sela tanaman yang dilintasi air. Jam menunjukkan pukul 11.30 itu artinya sudah hampir 1.30 menit saya berjalan bersama Pak Muh dan belum bisa menyentuh titik tumpahan air Curug lalay. Ada bagian dimana Pak Muh hampir jatuh kealiran sungai dimana batu besar tepat dibagian bawahnya. Juga ada titik dimana saya harus merayap karena curamnya tepian sungai. HIngga akhirnya, perjalanan kami terhenti ketika sudah tak lagi menemukan jalan mencapai titik curahan air. ya...saya gagal mencapai Curug Lalay, padahal hanya tinggal beberapa ratus meter lagi sampai disana. Deras nya air, licinnya bebatuan serta perbekalan yang minim, membuat saya harus berbesar hati untuk kembali. Dan saya akan kembali suatu hari nanti.

.

Tanah

Air

Udara

Diam tersembunyi

Sebuah perjalanan menuju sunyi