Sepertinya sudah sejak tahun lalu saya belajar dari tim MayaBajawa alias Kak Mamat & Kak Yanti tentang bermandala. Beberapa kali juga sudah bermandala sendiri di buku khusus (yang terinspirasi dari Kak Ine) sebagai salah satu cara berkontemplasi dan hening tanpa keruwetan berpikir harus masak apa untuk makan malam.
Bagi saya, bermandala adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan tanpa harus detail merencanakan dan bisa mengurai apa yang sedang dirasa dengan aliran pena yang spontan. Mandala bisa terbatas, tapi bisa juga tanpa batas. Semua itu sepertinya tergantung sejauh apa kita mau merentang kejujuran dalam bentuk gerak tulis yang tulus. Anak-anak beberapa kali melihat saya bermandala di rumah dan ada saja komentar khas anak-anak saya (yang kenal mereka pasti bisa menebak ragam komentarnya) tentang pilihan bentuk dan warna mandala saya. Beberapa kali juga saya mengajak anak sulung & tengah untuk bermandala, lalu dengan alasan khas mereka akan spontan menolak hahahaha.
Minggu ini di pekan literasi, seorang rekan orang tua menunjukkan puisi anak sulung dan memuji hasil tulisan anak kelas 8 yang sedang lucu-lucunya itu. Sebagai lulusan program bahasa & sastra (juga penggemar sastra) saya pun mengagumi pilihan kata & makna yang tersirat dari puisi si sulung. Sore harinya, anak tengah bercerita tentang kegiatannya bermandala di hari itu. Dia menjelaskan tentang makna tarikan garis dan pilihan warna ketika bermandala yang didapatnya dari penjelasan Kakak ketika dia bermandala. Dia lalu mengungkapkan bahwa benar adanya pilihan warna dan tarikan garis garis yang dia buat di mandalanya sesuai dengan perasaannya beberapa hari terakhir ini. Sungguh hari yang sangat kontemplatif bukan untuk kami bertiga?
Pagi ini saya bergerak menuju longpus. Sengaja memilih waktu ketika longpus masih sepi karena saya ingin menyepi ketika menulis puisi dan juga bermandala. Menulis puisi karena tergerak ikut menulis berdampingan di kolom SMP & orang tua agar anak sulung melihat bahwa saya pun menulis puisi mendampinginya. Bermandala karena tergerak untuk jujur dengan perasaan dan menunjukkan ke anak tengah bahwa saya pun jujur ketika memilih warna dan menarik garis. Di jam istirahat, anak sulung menghampiri saya dan bertanya "Bu, udah bikin mandala? Ibu lihat punyaku ya nanti". Lalu saya bergegas ke longpus dan mencari mandala buatan anak sulung. WOW....ini memang "dia".
Malam ini saya lihat lagi ketiga mandala kami. Ibu-anak sulung-anak tengah.
Mencermati sambil mencoba membaca arti dari apa yang tergambar. Satu yang pasti, kami sangat lugas untuk menorehkan kejujuran perasaan walau tanpa banyak kata. Entah garis tajam, lengkung, sudut, lingkaran, merah, abu, kuning, biru, semua terbaca dengan gamblang. Tidak ada tedeng aling-aling, tidak ada kepura-puraan, tidak ada kecemasan akan reaksi yang reaktif. Kami mengalir lewat mandala. Saya, sebagai seorang ibu, membaca kejujuran kedua anak itu dengan penuh kebanggaan. Bangga karena mereka jujur, bangga karena mereka berbangga diri atas kejujuran yang dituangkan lewat mandala, bangga karena kami bisa saling membaca satu sama lain tanpa ragu.
Bisa dipastikan, bermandala akan saya jadikan salah satu wadah kami untuk hening sejenak ketika menelaah dan mengolah perasaan jika sedang amburadul. Bermandala akan jadi waktu berkualitas yang bisa kami lakukan untuk saling jujur, minimal terhadap diri kami sendiri. Tidak ada paksaan pun tak perlu pura-pura, karena inilah salah satu bentuk literasi....Literasi Diri.
Nuhuun Rani esai keduanya. Mudah-mudahan ada yang ke tiga. Suka baca tulisan Rani. Pilihan katanya bagus, kalimatnya enak dibaca. Semangaat. ☝🏼🤗