AES 679 Ketidakberdayaan Di Tengah Keajaiban
joefelus
Monday April 3 2023, 4:24 AM
AES 679 Ketidakberdayaan Di Tengah Keajaiban

Minggu pagi ini sebetulnya kami rencananya akan ke Asian market untuk belanja beberapa kebutuhan sehari-hari, tapi sepanjang pagi saya mengalami gangguan pencernaan. Sepertinya kemarin saya makan agak terlalu banyak yang pedas-pedas di acara buka puasa bersama di Aurora, sekitar 17 miles (27km) dari Denver, atau 70 miles (112km) dari kota tempat saya tinggal. Saya tidak menyangka bahwa acara buka puasa itu akan dihadiri banyak sekali masyarakat Indonesia, ada setidak-tidaknya 100 orang dalam sebuah rumah. Hmm.. itu artinya hari Senin nanti saya harus test covid karena di acara itu orang-orang sangat berjubel di ruangan yang menurut saya kurang besar untuk orang sebanyak itu. Eniwei, rencana belanja itu harus ditunda hingga pencernaan saya lebih bersahabat. Perut saya sepertinya sudah tidak mampu menikmati makanan yang pedas-pedas.

Sambil menunggu saat-saat pulang pergi ke kamar mandi (Hahahahaha) Nina dan saya menonton film-film tentang travelling. Ada pasangan yang sepertinya melakukan perjalanan menggunakan camper van keliling dunia sebagai mata pencaharian. Generasi millenial memang memiliki pilihan menjalani hidup mereka dengan hal yang sangat menarik. Puluhan tahun yang lalu siapa pernah bermimpi menjadikan jalan-jalan, kemping dengan road trip menggunakan camper van sebagai mata pencaharian? Membuat video jalan-jalan jadi kegiatan mencari nafkah. Bukan main! Bayangkan mereka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain sambil membuat dokumentasi perjalanan mereka dan memperoleh penghasilan? Sarapan di satu tempat sambil diliput, dibayar. Duduk di dalam kendaraan sambil ngemil cemilan, dibayar! Itu karena mereka mengiklankan produk yang bisa ditemukan di pasar! Hiking mereka dibayar karena membawa peralatan yang bisa diiklankan bahkan ketika istirahat makan siang di atas gunung atau di tepi danau juga dibayar karena makanan yang mereka santap. Bukan main! Saya senang membuat video dan cerita perjalanan tapi semata-mata untuk dokumentasi pribadi sebagai bentuk kenangan dalam menjalani kehidupan.

Yang menarik kami berdua, sambil menunggu kontraksi mules-mules hingga harus lari ke kamar mandi (hahahaha) adalah perjalanan-perjalanan mereka ke tempat tempat tertentu yang kami pernah lakukan dalam petualangan kehidupan kami. Ini menjadi pagi yang nostalgik, karena sambil menikmati film kami juga bisa berkata."Hey kita pernah ke sana!" Lalu pikiran kami kembali ke masa-masa ketika kami berada di sana.


Pasangan ini punya bucket list yang sangat panjang, punya daftar semua national park di Amerika. Nah yang menarik bagi saya dan Nina adalah sebagian dari daftar itu sudah pernah kami kunjungi, seperti beberapa diantaranya adalah Grand Canyon, Rocky Mountains, Yosemite National Park, Haleakala, Joshua Tree, dan Sequoia. Lalu mereka juga mengunjungi tempat-tempat lain yang menarik termasuk restoran dan kedai kopi maupun tempat wisata lain. Seperti misalnya makan pastry di Piroshky di Pike Place Market di Seatle. Sambil menonton saya masih bisa merasakan dalam bayangan rasanya smoked salmon Piroshky, atau membayangkan jalan kaki di pasar itu pagi-pagi ketika antrian belum ada dan tempat parkir masih lengang. Atau membayangkan danau Big Bear di California, makan chowder di ujung Province Town di Cape Cod, Massachusetts.

Mereka juga mengunjungi Death Valley, tempat yang bagi saya agak menyeramkan karena pernah hampir kehabisan bensin ditengah gurun yang hampir tidak ada kehidupan, atau mereka juga ke Ryolite Ghost Town, kota bekas tambang yang kemudian ditinggalkan oleh penghuninya karena sudah tidak dapat ditambang lagi sehingga sekarang tinggal puing-puing bekas sekolah, bank dan casino. Kami ke sana tanpa sengaja, well, sebetulnya memang ingin ke sana, tapi GPS tidak berfungsi dengan baik kemudian kami kesasar malah tiba di tempat yang betul, semenara GPS berusaha menunjukkan kami tempat yang salah.

Yang menarik, pasangan petualang ini menunjukkan tempat-tempat yang pernah kami datangi tapi dari sisi yang berbeda. Saya bukan lagi orang yang mampu berjalan kaki jauh seperti mereka yang mungkin hanya berusia duapuluhan, atau setidak-tidaknya awal 30-an, mereka bisa mendaki pegunungan dan menyaksikan pemandangan danau dari puncak sementara saya hanya bisa berdiri di bawah di tepi danau yang tentu saja pemandangannya jauh berbeda.

Pernah berpikir bahwa travelling itu sangat baik untuk perkembangan spiritualitas kita? Pertama memberikan kesempatan pada kita untuk refleksi diri, melepaskan diri dari keseharian, dari kepenatan dan beban yang kita tanggung untuk sejenak bisa masuk ke dalam diri dan melihat kekuatan dan kekurangan kita. Berpergian memberikan kesempatan untuk spiritual healing karena secara sadar kita juga bersyukur diberi kesempatan untuk bisa melepaskan diri dan melakukan banyak aktifitas yang sehat. Berpergian menikmati alam dan pemandangan memberikan kesempatan untuk mendekatkan dan reconnect dengan alam yang memberikan energi spiritual yang sangat luar biasa. Bayangkan kita berada dipuncak gunung Haleakala yang lebih tinggi dari awan lalu memandang matahari terbit. Alam yang menakjubkan ini mempunyai kekuatan yang ajaib, magis, yang mampu membuat kita melepaskan diri dari keterikatan pada dunia dan dalam sepersekian detik kita dapat menyecap sekelumit keajaiban Ilahi. Terus terang bagi saya ini pengalaman spiritual yang luar biasa, sangat sulit untuk bisa menjelaskan ke-maha-an yang Kuasa dan mengecilkan diri sendiri seolah-oleh lebih kecil dari molekul yang terkecil sekalipun. Merasakan sebuah ketidak-berdayaan, ketidak-berartian diri karena dikelilingi sebuah keajaiban. Pengalaman spiritual apa lagi yang bisa lebih hebat dari itu?


Sunrise at Haleakala


Atau kita melihat dari jarak sangat dekat seekor ikan paus yang walaupun masih kecil tapi bagi kita tampak luar biasa besar dan menakjubkan yang tanpa sadar membuat kita mawas diri bahwa walaupun kita diberi kebijakan lebih dari mahluk lain, tapi kita tidak tidak bisa menjadi jumawa karena mahluk lain ada yang tidak kalah luar biasanya dari kita. Atau ketika berada di sebuah perahu ditengah samudra lalu kita diingatkan bahwa kita hanyalah seperti sebutir debu jika dibandingkan dengan betapa luasnya dan indahnya samudera di sekeliling kita. 

Saya pernah berada dalam sebuah kapal selam komersial kecil. Memang ini untuk turis, tapi pengalaman berada di bawah permukaan laut memandang "dunia" lain, itu menjadi pengalaman yang luar biasa. Berbeda rasanya dengan menyelam atau menggunakan snorkel. Kapal selam masih bisa turun lebih dalam lagi dan saya merasa sebagai "pengunjung" yang hanya bisa menyaksikan keajaiban tanpa "bersentuhan". Sulit megungkapkannya, tapi sekali lagi memberikan kesempatan agar menyadari diri bahwa kita itu sangat tidak berarti dibandingkan dengan semesta.

Perjalanan-perjalanan itu mengingatkan untuk berendah hati dan mengakui ketidakberdayaan diri karena semesta itu sangat luar biasa dan tidak baik berjumawa serta menyombongan diri, karena kita hanyalah sebutir debu.