Di luar mendung, lalu mulai turun hujan rintik-rintik dan suhu semakin lama semakin dingin. Air hujan kemudian berubah menjadi butiran es kecil-kecil dan kemudian menjadi serpihan-serpihan salju yang melayang tertiup angin kesana kemari. Ramalan Cuaca sebetulnya memperkirakan salju baru akan turun pukul 10 malam. Tapi ternyata pukul 5 sore permukaan rumput seudah mulai memutih tertutup salju. Akhir-akhir ini aplikasi ramalan cuaca saya memang sering salah. Memang dikatakan kota tempat saya tinggal akan turun salju, tapi tidak jarang di tempat saya berada tidak terjadi sama sekali, hanya saja jika saya menoleh ke sebelah barat di daerah perbukitan dan bendungan, terlihat semua putih. Jadi remalan mungkin saja benar, hanya saja turunnya salju tidak menyeluruh.
Hari ini saya tidak berencana pergi kemana-mana. hanya diam di rumah, beristirahat. Saya juga melihat program di gym, terlihat sangat menyeramkan sehingga saya memutuskan untuk tidak berangkat, apalagi bagian pinggang saya agak sakit, mungkin semalam tidur di posisi yang salah. Jadi serharian saya tidak banyak melakukan apa-apa kecuali mencuci pakaian dan membantu Nina mensortir pakaian dan jaket yang tidak digunakan lagi dan akan kami sumbangkan.
Sepanjang pagi saya hanya berbaring dan menonton potongan-potongan video standup comedy. Saya akhir-akhir ini menyukai gurauan comedian berasal dari Iran. Dia bukan satu-satunya komedian yang saya sukai, ada juga yang berdarah mexico, Filipina, Afrika Selatan bahkan ada ventriloquist. Komedian di Amerika memang menjamur dimana-mana bahkan liburan kemarin saya menghadiri pertujukan stand up comedy yang dilakukan oleh seseorang berdarah Australia.
Banyak topik yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang mereka angkat, tapi yang saya perhatikan banyak sekali yang berkaitan dengan masalah politik, budaya, warna kulit dan kewarganegaraan. Seperti gurauan yang diangkat oleh komedian asal Iran yang saya tonton tadi pagi, tidak jauh-jauh dari urusan penduduk ilegal, imigran, orang-orang Persia yang menikah dengan orang Amerika, masalah green card hingga masalah agama.
Sebetulnya gurauan itu di Indonesia pun ada, seperti gurauan orang-orang Tapanuli, Batak, Sunda bahkan Jawa. Masalah suku dan budaya menjadi bahan gurauan. Semua mengalir begitu saja, tanpa ada rasa takut, khawatir menyinggung perasaan dan sebagainya. Bahkan tidak jarang penonton "dikerjai" dan dikata-katai bahkan jika diperhatikan baik-baik malah dihina, tapi semuanya menjadi bahan tertawaan. Orang yang dikata-katai pun tertawa dan tidak merasa tersinggung. Mengapa bisa demikian? Kok bisa semua orang rileks, santai dan tidak terkotak-kotak seperti di kehidupan masyarakat.
Pernah memperhatikan komentar-komentar di media masa? Seringkali tampak begitu serius. Ada video orang tampil dalam kompetisi bakat, eh ujung-ujungnya komentar orang-orang dikaitkan dengan agama, dikaitkan dengan suku, tapi sama sekali tidak lucu dan bahkan membuat jengkel. Kenapa orang-orang begitu kaku dan serius?! Misalnya ada yang menyanyi dengan bagus, lalu dikomentari misalnya "Semoga bakat baik dia disertai juga dengan ketaatan dia menjalankan ibadah agama." Loh Kok? Kenapa begitu?
Banyak orang menghadiri pertunjukan komedi untuk melepas lelah, bersantai, sebagai salah satu bentuk getaway dari kepenatan kehidupan sehari-hari. Tapi apakah kita harus pergi ke tempat pertunjukan seperti itu? Biayanya tidak sedikit loh, bahkan jika duduk di paling depan biayanya mahal sekali, sudah gitu dikerjai pula orang komedian. Sudah bayar mahal, dihina pula hahaha.. Tapi pertunjukan seperti itu selalu banyak peminatnya, bahkan salah seorang komedian berdarah Mexico melakukan pertunjukan di stadiion yang dihadiri oleh puluhan ribu penonton.
Yang saya pikirkan. Mungkin alangkah lebih baik jika dalam kehidupan sehari-hari kita juga diselingi dengan gurauan, dan tidak perlu terus menerus kaku dan serius seperti yang saya lihat di komentar-komentar di media masa. Tidak hanya di Indonesia, kok. Dimana-mana, di Amerika juga. Ada saja komentar yang dikaitkan dengan pandangan politik dari kelompok tertentu. Ini buat saya sangat menyebalkan. Banyak sekali orang yang sangat judgmental dan melakukan stereotyping. Melelahkan! Mungkin akan lebih menyenangkan hidup ini jika semua orang chill out, rileks dan tidak terlampau serius dalam memandang segala hal maupun berpendapat. Dengan melakukan stereotyping sebetulnya tidak memerkan kehebatan kok, bahkan lebih sering menunjukkan bahwa pendidikan mereka kurang tinggi hahaha.. Atau mungkin karena itu sehingga orang-orang sangat picik?
Foto credit: goodnet.org