Saya akan mencoba melanjutkan obrolan 2 hari yang lalu berkaitan dengan dialog antara Julia dan Ethan Hunt.
Kalau dipikir-pikir banyak yang saya sukai, tapi untuk dijadikan tumpuan karir, sepertinya memang sulit. Menjadi guru memang menarik, banyak pengalaman yang bisa saya ambil dan saya selalu bisa belajar setiap hari. Para peserta didik menjadi semacam buku yang menyampaikan banyak informasi dan pengetahuan. Ini yang menarik, tapi terus terang yang saya benci adalah administrasi pendidikan yang menurut saya di Indonesia terlalu berlebihan. Justru hal-hal yang lebih penting seperti Teaching philosophy sama sekali tidak tersentuh. Ya sudah. Pokoknya untuk karir saya hanya melihat kesempatan apa saja yang terbuka, tidak perlu sesuatu yang saya cintai. Jika bisa, itu memang bagus sekali.
Eniwei, cukup dengan hal itu, saya masih berusaha mencarinya. Saat ini saya jauh lebih ingin bicara tentang apakah pengalaman-pengalaman dalam hidup itu mengajarkan sesuatu. Nah yang pertama, terdengar sangat muluk tapi ini yang saya pelajari: Jangan terjebak dalam kehidupan yang nyaman sebab itu semua akan membuat kita terjebak dan sulit untuk tumbuh. Ini yang saya pelajari, bahwa status quo seringkali menjadi penghambat, zona nyaman menjadikan kita mandul. Jika saya tidak berani keluar dari kenyamanan maka seolah-olah kita hidup dalam tempurung dan tidak pernah melihat betapa luasnya dunia, betapa kayanya kehidupan.
Yang kedua, walau keukeuh merasa bukan orang yang religius, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan tantangan melebihi kemampuan kita. Dengan mempercayai itu, saya bisa selalu keluar dari kondisi yang tidak menyenangkan sebab ada harapan bahwa segala sesuatu akan segera berakhir dan bahwa saya mampu untuk menyelesaikannya.
Yang berikutnya, rasa bersyukur adalah kunci dari kebahagiaan. Bersyukur dan berterima kasih atas anugerah bahkan yang sekecil apapun mengajarkan kita untuk menerima, mengajarkan kita untuk melihat bahwa kita memiliki hal-hal yang patut disyukuri. Berbeda jika kita terus melihat tetangga atau terus menerus memandang ke atas, maka hidup kita terikat pada hal-hal itu dan lupa pada apa yang kita miliki.
Wah, saya kok seperti sedang pidato dan menggurui. Bukan, saya hanya berbagi hal-hal yang saya yakini. Jadi maafkan jika terkesan sedang berceramah hahahaha.. Baiklah, ini yang terakhir: Orang lain tidak peduli dengan gaya hidup kita, segala sesuatu yang kita lakukan tidak perlu mendapat validasi orang lain. Kita tidak membutuhkan endorsement orang lain agar menjadi diri kita sendiri. Jika terus menerus berkaca dan mengikuti pendapat orang lain, maka kita tidak akan pernah menjadi diri sendiri.
Jadi ingat sebuah cerita tentang seorang pria, anaknya dan keledai. Ini akan saya jadikan ilustrasi. Pada suatu waktu ada seorang pria pergi ke kota bersama anak laki-lakinya dan seekor keledai. Lalu orang-orang melihat mereka dan berkomentar, "Buat apa membawa keledai jika tidak ditunggangi?" Maka laki-laki itu menaruh anaknya di atas keledai dan melanjutkan perjalanan mereka. Di kampung lainnya orang-orang berkomentar, Wah anak muda jaman sekarang tidak tahu aturan, masa dia enak-enak duduk sementara ayahnya berjalan? Maka Laki-laki itu menurunkan anaknya lalu dia sendiri duduk di atas keledai. Di kampung berikutnya orang-orang berkata lain, "Lihat orang tua tidak tahu diri, masa anak kecil disuruh jalan kaki sementara dia enak-enak saja duduk di atas keledai?" Ayah dan anak itu lalu berpikir dan berpikir lalu mereka memutuskan untuk mengambil sebatang tongkat, lalu mengikat kaki keledai itu, digantung pada tongkat dan mereka pikul berdua. Ketika melewati sebuah jembatan keledai itu meronta-ronta sehingga mereka jatuh ke sungai. Karena tidak ada yang bisa berenang mereka kelelap! Nah silakan renungkan, apa pesan moral dari cerita itu? 
Foto credit: wrfmtonystories.blogspot.com