Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia senang mendengarkan kaset radio, merawat kumpulan tanaman yang dia siram setiap pagi dan memiliki kumpulan buku yang sering dia baca sebelum tidur. Alurnya yang lambat dan repetitif membuat film itu, seperti yang kubilang, membosankan. Tapi kebosanan itu yang harus kita lampaui untuk memahami keindahan dari film ini: keindahan dalam keseharian.
Saat kita diminta berpikir tentang hidup terbaik, yang terlintas dari pikiran kita selalu yang paling bombastis: orang-orang dengan prestasi cemerlang dan berkecukupan, mereka yang mengubah dunia dan dikenang dalam cerita. Bahkan saat kita melihat ke kehidupan kita sendiri, kita cenderung menakarnya dari puncak-puncak tertinggi pencapaian yang telah kita gapai dan jurang-jurang terendah kegagalan kita.
Keseharian sehari-hari yang datar, yang memakan kebanyakan hidup kita, justru malah terlupakan. Orang-orang yang biasa takkan pernah tersorot, kisah mereka akan hilang dilamun waktu. Kita melihat hidup sebagai dua ekstrem: antara keberhasilan atau kegagalan, dan sisanya hanyalah jembatan yang menghubungkan kedua momen itu. Tapi apakah definisi hidup yang baik sesempit itu?
Aku, sebagaimana orang-orang lain, pernah menjadi seorang anak yang bermimpi besar. Masa-masa itu, kita berpikir kalau kitalah yang akan menaklukan dunia. Menjadi atlet hebat yang mematahkan rekor, ilmuwan dengan penemuan yang memajukan umat manusia. Menjadi pilot, doktor, astronot- tapi tidak pernah karyawan kantoran atau pembersih toilet seperti Hirayama. Kita berharap kalau masa depan akan menjadi masa yang dipenuhi puncak-puncak pencapaian dan kejayaan, jauh dari hidup kelabu yang membosankan. Dan itu tidaklah salah. Manusia memang makhluk yang tak pernah puas. Rasanya, seluruh keabadian bisa kita habiskan untuk mengejar angan demi angan, dan kita takkan pernah kenyang.
Tapi seiring waktu, mimpi-mimpi besar itu kemungkinan besar akan memudar. Kita melihat realita dunia, melihat bagaimana yang lain tampak lebih sukses sementara kita kian jauh tertinggal. Saat itu terjadi, kita harus belajar hidup untuk hidup. Untuk melihat keindahan yang bersemayam dalam kelabu hari-hari biasa. Untuk menanggalkan beban yang tak perlu dan merasa puas membiarkan hari-hari berlalu sebagaimana adanya.
Aku rasa, film Perfect Days berhasil menangkap perasaan itu. Biasanya, segala cerita selalu dilebih-lebihkan, dibuat larger than life. Bahkan cerita slice-of-lice sederhana sekalipun biasanya tetap memiliki elemen yang dipoles dan diperindah, untuk membuat yang biasa terlihat luar biasa. Tapi tidak demikian dengan Perfect Days. Hidup Hirayama tidak dipenuhi keramaian dan alur bombastis seperti sebagaimana alur cerita film. Hirayama tidak mencoba merubah sesuatu dengan hidupnya, dan tak ada juga figur antagonis yang mencoba mengacaukan hari-harinya. Dia tenang, puas dengan apa yang dia miliki sekarang.
Kisah Hirayama mungkin bukan kisah paling spektakuler yang pernah ada, tapi itu tetap kisah yang indah dan berharga. Sama sebagaimana halnya kebanyakan dari kita takkan pernah mengubah dunia seperti pahlawan di film-film, tapi itu tidak membuat hidup kita kurang berharganya. Kita terlalu terbelit dalam simpul-simpul duniawi sampai kita terlupa: hidup kita, setiap nafas dan hari yang kita lalui, sudah merupakan sebuah keajaiban tiada banding. Dan kita butuh menghargai setiap detiknya.