Gugusan kepulauan menarikan harmoni dan cita
Tanah subur menumbuhkan cinta dan karsa
Sungai-sungai mengalirkan lagu-lagu harapan bangsa
Hutan-hutan meneduhkan kehidupan yang ditumbuhi rasa syukur bersama
Gunung nan megah menjaga asa dan juang yang perkasa
Bangsa ini tidak dicipta dalam sehari, lantunan doa melintasi bahari dengan keragaman hayati
Bangsa ini tidak dibangun dari kebimbangan hati,
Keteguhan menggerakkan raga menempa tekad dan nurani
Derap ribuan pasukan menekan dan menerjang
Berharap runtuhkan harapan akan bangsa yang besar
Bambu dan ikat kepala menjadi simbol perlawanan
Terhadap mereka yang semena-mena dan kesewanang-wenangan
Dari ufuk timur hingga tempat tenggelamnya mentariĀ
Bersama-sama bergandengan tangan, merah, putih, hijau, hitam, biru, kuningĀ
Sumatera, kepulauan Riau, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Halmahera, Papua, dan banyak lainnya
Kini luka ini bukan dari luar maupun asing, luka ditikam bangsa sendiri
Di mana Ibu Pertiwi menyimpan sedihnya?
Di mana Ibu Pertiwi sembunyikan tangisnya?
Telah hidup para pembangun negri
Oleh kuasa dan angan penerus-penerus perkasa
Tetaplah hidup berlaksa-laksa generasi
Dari jati diri yang teguh dan ngajadi
Tegaklah hidup para pengibarĀ
Untuk masa depan Indonesia yang tak gentar!
Dibuat oleh Matheus Wahyu Aribowo untuk Selametan Smipa TP 19 2023-2024
Parongpong, Jumat, 18 Agustus 2023