Hari kemarin, Kak Fifin membawakan sebuah program rabu 'nyunda' yang diintegrasikan dengan permainan tradisional, yaitu bermain Perepet Jengkol. Aah sudah lama sekali saya tidak mendengar dan memainkan permainan itu, mungkin sekitar beberapa belas tahun lalu semasa saya masih SD, seumuran kawan-kawan Bengawan Solo.
Bermain Perepet Jengkol ini sebenarnya tidak melibatkan jengkol, nah kenapa nama permainannya seperti ini, tentunya masih menjadi misteri, hehe. Namun, konon cenah zaman dulu, bermain perepet jengkol dimainkan saat malam terang bulan, anak-anak kampung keluar rumah untuk bermain bersama teman. Zaman dahulu mah penerangan hanya menggunakan cempor, jadi pas terang bulan, saya membayangkan situasinya sangat syahdu.
Main perepet jengkol biasanya dilakukan minimal 3 orang, makin rame makin asyik hehe, berikut cara mainnya :
Para pemainnya berdiri sambil membelakangi, lalu salah satu kaki setiap pemainnya diangkat kemudian dikaitkan dengan kaki pemain lainnya seperti dianyamkan hingga kuat.
Setelah itu mereka berputar dan menyanyikan lagu Perepet Jengkol, kurang lebih begini :
Perepet jengkol jajahean
Katakol kohkol jejeretean
I Jaja I Jaja I
Sambil berputar, kaki yang keluar dari anyaman itu yang kalah,nah saat teman-teman memainkan itu, ternyata jago juga, terlihat yang punya keseimbangan baik bisa bertahan cukup lama, selain itu stamina juga harus kuat, terbayang engklek2 sambil berputar. Hehe. Beberapa kawan di kelas bahkan sudah ada yang dijuluki master permainan tradisional seperti perepet jengkol dan sorodot gaplok (kapan-kapan saya ceritakan permainan sorodot gaplok)
Di Smipa, bermain tradisional bukan hanya sekedar 'permainan', hal ini juga sarana melatih karakter seperti saling empati, lebih dari itu menjadi ruang mereka untuk bonding, saling mengisi, bertukar energi positif lewat tawa dan celetukan-celetukan tulus yang membuat suasana kelas lebih hidup.
Ah serunya permainan tradisional, mudah-mudahan we tong kapopohokeun, mun ceuk istilahmah kade jati tong kasilih ku junti.