Walaupun saya sering mengungkapkan sebagai orang yang tidak religius, saya tentunya tetap menjalani kehidupan normal yang dibungkus dalam norma-norma kemanusiaan. Ada yang baik dan ada yang buruk, mana yang mulia, mana yang tidak. Saya tentunya masih menjalani ritual keagamaan sekali-kali jika merasa membutuhkan, dan percaya pada kekuasaan yang tinggi yang mengatur semesta.
Bertahun-tahun yang lalu saya masih mengikuti kelompok orang yang membaca kitab suci setiap hari. Saya khatam berkali-kali walau kemudian menimbulkan banyak pertanyaan besar yang dikaitkan dengan kehidupan, pengalaman spiritual dan pertanyaan-pertanyaan esensial tentang iman, tentang kehidupan, tentang banyak hal yang tidak dan belum saya mengerti.
Hari ini saya memiliki sebuah pertanyaan yang unik. Tentang dosa. Tentang rasa bersalah. Manusia diberi banyak rambu-rambu dalam menjalani kehidupan. Jika dilanggar maka kita merasa bersalah, berdosa. Rambu-rambu itu banyak yang kadang menimbulkan pertanyaan besar. Misalnya, jika kita menikmati hidup, apakah itu benar atau salah? Banyak sekali kenikmatan hidup dibatasi dengan rambu-rambu, dan sangat tipis batasnya antara dianggap berdosa atau tidak.
"Jadi manusia itu harus rendah hati, tidak boleh takabur, tidak boleh sompral, tidak boleh menunjukkan kelebihan. Itu Riya, itu sombong. Tidak baik."
Pernah mendengar kalimat-kalimat di atas? Saya yakin hampir sepanjang waktu. Saya suka mengganggu sahabat saya ketika menemukan tempat parkir di daerah yang padat pengunjung:" Tuuh khan, namanya juga anak soleh!" Kata saya sengaja. Saya tahu dia akan mulai berkomentar,"Riya itu, mas. Ga baik." Hahahaha...
Budaya kita, budaya Timur memang begitu. Kita diajari untuk menunduk. Seperti padi, katanya. Semakin berisi semakin menunduk. Itu baik. Tapi menurut saya ada dampak negatifnya. Kita menjadi dewasa dan merasa tidak pantas atas banyak hal. Bahkan dalam ritual Katolik pun ada kalimat begini: "Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah maka.. dan sebagainya." Itu adalah perkataan seorang prajurit Romawi dalam kitab suci yang menceritakan memohon bantuan Yesus untuk menyembuhkan anaknya dan merasa tidak pantas rumahnya dikunjungi.
Kita memang dibesarkan seperti itu. Tidak perlu dipungkiri. Lalu kemudian setiap kali kita mendapat kesempatan untuk menikmati sesuatu yang baik, kita mulai bertanya-tanya apakah memang kita pantas memperoleh anugerah ini? Ada rasa bersalah bahwa banyak di sekeliling kita yang menderita sementara kita diberi kelimpahan, misalnya. Lalu merasa berdosa.
Kita bisa saja sangat sensitif, sangat empatetik dan menganggap dunia, semesta sebagai satu kesatuan. Kita merasa bahwa kita serupa satu dengan yang lain dan wajib bekerja sama mewujudkan dunia yang baik untuk semua orang. Seperti lagunya Michael Jackson: "Heal the world, make a better place, for you and for me and for the entire human race..."
Atau kebiasaan Timur atau katakan saja keluarga di Indonesia, pernah melihat contoh ada salah satu anggota keluarga yang sudah maju lalu beramai-ramai diganduli oleh seluruh sanak saudaranya? Banyak kasus demikian. Anak sulung berkorban untuk adik-adiknya. Menyekolahkan dan sebagainya sehingga adik-adiknya maju, menikah dan memiliki keluarga. Sementara si sulung hingga akhir hayatnya sendiri saja karena sepanjang hayatnya terlalu sibuk menopang kehidupan keluarganya. Apakah si sulung tidak berhak menikmati hidupnya? Oh sebagai si sulung ketika ingin berlibur saja kadang merasa bersalah. "Engga ah, adik-adik saya saat ini sedang kesusahan, masa saya jalan-jalan?" Ada rasa bersalah yang besar yang dirasakannya. Tidak hanya itu, orang-orang disekelilingnya pun punya pendapat sama: "Lihat tuh, keluarganya sedang kesusahan, sementara dia enak sendiri jalan-jalan."
Manusia-manusia yang memiliki empati tinggi memang seringkali mementingkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Jangan salah ini adalah tindakan yang mulia. Tidak sedikit yang melepaskan kelebihannya, dan keberuntungannya demi membantu orang lain. Itu tindakan dan pikiran yang mulia. Banyak yang merasa bersalah bahkan berdosa karena merasa dapat menikmati hidup sementara disekelilingnya harus menghadapi berbagai masalah dan penderitaan.
Satu hal yang kita lupa dan harus selalu diingat. Hal tersebut bisa dianggap menjadi semacam arogansi. Kita juga harus percaya bahwa semesta sudah menyiapkan dan memberikan kemampuan bagi semua orang untuk menghadapi tantangan mereka sendiri. Membantu dan menjerumuskan seringkali perbedaannya sangat tipis. Contoh yang sederhana, ketika balita belajar berjalan dan jatuh. Apa yang kita lakukan? Harap hati-hati, ketika kita membuang muka kadang balita bangkit dengan sendirinya dan berjalan lagi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tapi begitu kita tergopoh-gopoh menghampiri justru dia menangis! Bayangkan jika terus menerus tergopoh-gopoh, maka akan ada semacam ketergantungan. Balita itu bisa saja menjadi cengeng dan mengalami tergantungan. Yang perlu kita cermati adalah, apakah balita itu dalam keadaan bahaya? Jika tidak, mungkin ada baiknya sekali-kali kita menutup mata. Itu untuk kebaikan dia. Ini berlaku juga untuk anak kecil, remaja, yang menjelang dewasa bahkan orang-orang disekeliling kita.
Membantu itu baik, wajib bahkan. Jika kita memiliki kemampuan, tentunya. Namun menurut saya, merasa bersalah dan berdosa karena kita dapat menikmati hidup sementara yang lain belum, itu tidak benar juga. Artinya kita arogan. Nasib mereka bukan tanggung jawab kita. Kadang mereka menjadi begitu juga karena pilihan mereka sendiri. Saya pernah menulis bahwa karakter seseorang menentukan their well-being. Jadi ya, santai saja lah. Boleh saja menikmati hidup tapi jangan diumbar lalu mencari sensasi dengan memamerkan kemewahan, terlalu berlebihan dan sebagainya. Kalau begitu sih memang harus diteke hahaha..
Foto credit: mx.pinterest.com