AES 1184 Berani Sekali
joefelus
Tuesday August 27 2024, 10:07 PM
AES 1184 Berani Sekali

"Duh capek banget aku!" Kata Nina sambil turun dari kendaraan yang sudah diparkir di dalam garasi.

"Iya ya, padahal kita cuma pergi untuk makan malam." jawab saya.

Kami memang pergi makan malam ke tengah kota. Ada daerah yang jika malam berubah menjadi tempat aneka makanan yang dijual. Siang hari ini adalah salah satu pusat bisnis pertokoan yang ramai. Sudah bertahun-tahun kami tidak makan di sana. Di pinggir jalan, tempat yang seru. Akhirnya sesudah 2 minggu kami mulai berani untuk makan di pinggir jalan. Selama makanannya panas dan baru dimasak, resiko sakit jadi lebih kecil. Itu menurut kami. Sementara kami belum berani makan makanan yang disajikan dalam keadaan dingin karena makanan itu tentunya sudah berada dalam suhu ruang cukup lama.

Kami memang masih dalam masa penyesuaian. Tubuh kami juga demikian. Selama ini jika kami pulang ke tanah air sesudah sekian lama merantau, kami mudah jatuh sakit yang berkaitan dengan makanan. Metabolisma tubuh kami belum mulai terbiasa dengan jenis makanan di Bandung. Karena banyak yang harus kami lakukan, maka kami harus menjaga diri agar tidak jatuh sakit.

Dahulu ketika pulang ke tanah air, saya pergi ke klinik dan minta diberi vaksinasi yang berkaitan dengan penyakit kolera, disentri, thypus dan para thypus. Hanya saja vaksinasi ini biasa diberikan pada anak-anak, sehingga saya waktu itu jadi bahan gurauan di klinik BKIA. Bahkan susternya berseloroh:"Ayo buka baju dan ditimbang dulu!" Otomatis saat itu saya ditertawakan oleh banyak ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka untuk vaksinasi. Karena pengalaman itu saya "tidak berani" lagi minta vaksinasi itu, walau terus terang itu sangat berguna untuk menjaga tubuh dari jatuh sakit akibat makanan.

"3 jam loh bolak balik cuma untuk makan." Kata Nina lagi.

Memang betul, tadi jalanan macetnya luar biasa. Pengguna jalan di Bandung memang sakti-sakti dan mereka tidak takut akan keselamatan mereka yang terancam.

"Nyawa mereka lebih banyak dari kucing." Kata teman saya beberapa hari yang lalu.

Saya tertawa terbahak-bahak. Kucing konon digossipkan memiliki 9 nyawa, entah itu pakem dari mana tapi memang sejak kecil saya mendengar itu. Nah jika pengguna jalan di Bandung nyawanya lebih banyak dari kucing, jadi lebih dari 9 maka saya mengerti mengapa mereka tidak mengenal rasa takut. Hahaha..

Saya pernah mengemudi ratusan kilometer, dari Fort Collins ke Mount Rushmore itu jauhnya sekitar 500 km dan dapat saya tempuh kurang dari 5 jam perjalanan tanpa merasa lelah karena tidak ada kemacetan, bahkan seringkali di jalan saya adalah pengemudi satu-satunya. Itu baru satu kali perjalanan sementara hari itu saya harus kembali lagi dan menginap di salah satu penginapan di Wyoming. Jadi setidak-tidaknya hari itu saya hampir mengemudi sejauh 1000 km dan saya sama sekali tidak merasa lelah.

Berbeda dengan di sini, 3 jam mengemudi ke tengah kota yang sebetulnya jika dilihat jarak, tidak jauh sama sekali. 11.6 km jika pulang pergi maka hanya sejauh kurang dari 25km. Memakan waktu 3 jam dan ditambah rasa lelah yang luar biasa.

Tidak apa-apa. Saya sedang menjalani sebuah petualangan baru yang seru. Mengemudi di Bandung tidak akan pernah terkantuk-kantuk karena saya banyak mengucapkan seruan kekaguman atas keberanian orang-orang di sini hahahahaha..