Seperti Stoa (Bagian 1)
Romarta Hutagalung
Monday May 9 2022, 9:46 PM
Seperti Stoa (Bagian 1)

Sebagai seorang manusia yang baru saja memasuki fase Quarter life Crisis mebuat saya semakin ingin menyeimbangkan dan mengimbangi hidup. Untuk menuju kesana ada upaya yang harus saya lakukan meskipun saya tahu untuk hidup seimbang itu adalah tentang banyak hal. Untuk manusia dewasa yang telah melewatkan seperempat abad hidupnya seringkali yang menjadi fokusnya adalah tentang bagaimana dirinya memastikan dapat mengambil peran, biasanya yang menjadi fokus utama pada usia ini adalah bagaimana menemukan passione dan membangun karir yang sesuai, menurutku. Namun hal yang paling dasar menuju menemukan peran adalah bagimana cara kita hidup apakah kita sudah memahami diri kita sebagai Manusia seutuhnya? Apakah kita sudah bisa memanjemen diri dan emosi? Bagaimana cara merespon setiap hal? Apakah kita cukup?

Banyak pertanyaan soal hidup yang muncul yang ingin sesegera mungkin dijawab, namun sadar beberapa pertanyaan jawabannya bisa datang bertahun kemudian atau bisa saja memang tidak ada jawabannya sampai ada yang menemukan. Sehingga rasa cemas (anxiety) dan berpikir berlebihan (overthinking) rentan sekali terjadi dalam menjalani kehidupan. Kemudian muncullah rasa khawatir akan banyak hal, baperan, mudah tersinggung, marah-marah baik di dunia nyata maupun di sosial media dan banyak lagi emosi negatif lainnya.

 Menyadari hal ini saya sangat tertarik terhadap filsafat Stoa, sebuah filsafat tentang jalan hidup yang sangat relevan untuk kehidupan dimasa sekarang. Filsafat Stoa (Stoisisme) merupakan filsafat hasil pemikiran filsuf Yunani bernama Zeno seorang pedagang kaya raya yang jatuh miskin karena kapal yang ditumpanginya karam dan menghanyuntkan barang daganganya. Saat itu Zeno terdampar di athena yang membuatnya menghabiskan waktu belajar tentang banyak filsafat dan megajarkan filsafatnya sendiri yaitu stoisisme. Saya tertarik pada filsafat ini setelah membaca buku “Fllosofi Teras” karya Henry Manampiring. Dalam buku ini secara umum Stoa mengajarkan tentang Dikotomi kontrol, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku sehingga seorang manusia dapat mengenali apa yang berada dalam kendali dan apa yang berada diluar kendalinya. Hal-hal yang berada dibawah kendali kita adalah pertimbangan, opini, keinginan, tujuan dan segala sesuatu yang bersumber dari diri kita dalam bentuk pikiran dan tindakan kita. Sementara hal yang diluar kendali kita adalah segala sesuatu yang bersumber dari luar diri kita, seperti opini orang lain, tindakan orang lain, cuaca, bencana alam, dan peristiwa lainnya. Ketika kita mampu membedakan keduanya kita dapat mengurangi emosi negatif dalam diri kita dan berfokus pada apa yang mampu kita lakukan.

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Waah selamat atas esai pertamanya kak Marta. Ini ya yang diceritakan kemarin. Mantap. Terima kasih sudah berbagi. Semoga bermanfaat buat para pembacanya. Setau saya sudah ada juga yang menulis tentang Stoikisme di sini. Tentunya dari sudut pandang yang berbeda 🙏🏼😊
Romarta Hutagalung
@romarta-hutagalung   4 years ago
Terimakasih Kak Andy, senang sekali bisa menulis disini. Meski belum cukup percaya diri, semoga semakin rajin yah kak.
tikariyani_
@tikariyani   4 years ago
kak Marthaaa akhirnya nuis tenting stoikism, kalo boleh ntr pinjem buku filosofi teras nya yah kak. heheh
Romarta Hutagalung
@romarta-hutagalung   4 years ago
Terimakasih kak Tika, bukunya ga dibawa ke Bandung Kak.
maulrest
@maulrest   4 years ago
Mantap Kak Martha pantesan kemarin tiba-tiba nanyain ini ke kita haha. Inget ya gabungan jawaban saya dan Kak Hanief, ada pertanyaan yang mati-matian untuk menjawabnya bahkan sampai tidak terjawab karena keburu mati :))
You May Also Like