Tidak memaksa, tidak biasa. Tidak terpaksa, tidak bisa. Bisa karena biasa. Ohya, bisa di sini maksudnya mampu. Bukan racun. Ular berbisa itu ular beracun, bukan ular yang serba mampu. Kalau ular serba bisa, nanti ujungnya diminta kerjain semuanya. Dari mikirin, ngerjain, ngebenerin, sampe ngelaporin.
Lah, terus tugas manusia ngapain kalau semua ular yang ngerjain? Memerintahkan saja. Gak ngasih contoh? Gak lah ngapain, ularnya udah besar-besar. Gak ikutan dalam kebisaan itu? Gak lah, mending kerjain hal lain yang lebih manusiawi. Seperti apa kah itu? Kebiasaan memerintah aja, lalu lepaskan biar mandiri.
Oh.. Oke. Balik ke soal maksa aja deh. Kebisaan hadir dari kebiasaan, kebiasaan hadir dari keterpaksaan. Kalau tidak terpaksa, tidak akan melaksanakan. Kalau tidak melaksanakan tidak akan terbiasa. Kalau tidak terbiasa tidak akan pernah bisa. Sehingga semua keinginan yang dikatakan, levelnya halusinasi saja.
Mewujudkan mimpi adalah soal memaksakan diri. Memaksakan diri adalah soal perhitungan keadaan. Seperti sejauh mana kemampuan, sekuat apa kemauan, seluas apa kesediaan. Sudah terukur, jadi terlihat batasannya. Sudah terlihat batasannya, jadi terlihat celah melampauinya.
Sudah terlihat celah melampauinya, jadi ada dua pilihan. Pertama, lakukan seperti biasanya. Kedua, lakukan melampaui biasanya. Memaksa melampaui kemampuan, kemauan, dan kesediaan diri adalah memberikan pelayanan lebih dari biasanya di tempat yang sama untuk tanggung jawab yang sama. Melampaui diri kan, hanya soal ini.