AES 1317 Filem
joefelus
Sunday February 2 2025, 9:20 AM
AES 1317 Filem

Kita rata-rata menyukai berbagai macam karya seni. Musik misalnya, siapa yang tidak menyukai musik? Jika ada yang tidak menyukai musik, mungkin ada pengalaman masa lalu yang menyebabkannya, seperti filem animasi yang berlatar belakang budaya Mexico berjudul Coco. Karya seni lain yang banyak digandrungi masyarakat misalnya lukisan, puisi dan sebagainya. Tapi dari semuanya, yang paling populer adalah filem. Saya akan obrolkan alasannya sebagai bahan tulisan hari ini.

Manusia menyukai cerita dan fantasi. Kita menyukainya karena mungkin memberikan semacam pengalaman akan sesuatu yang tidak pernah kita alami dalam hidup, tapi kita juga menyukai karena cerita-cerita itu memiliki resonansi serupa dengan pengalaman kita sendiri, menghubungkan kisah hidup kita dengan yang ditawarkan filem-filem itu. Filem membangunkan kembali kisah lama, menghidupkan kembali memori di masa lalu, membuat kita kembali merasakannya lagi, menawarkan rasa simpati, empati, mengajak kita bersama-sama berpikir dan merasakan apa yang dialami oleh karakter-karakter yang berperan di dalamnya.

Saya menyukai berbagai macam genre filem. Jika saya tidak mau terhanyut dalam luapan emosi, biasanya saya pilih film animasi dengan rating PG. Kenapa tidak? Nonton How To Train Your Dragon atau Kung Fu Panda itu menghibur, tapi juga bisa belajar banyak dari sana. Saya banyak mengutip kata-kata master Oogway dalam tulisan saya karena memberikan semacam filsafat hidup yang bijak. Saya juga suka filem aksi yang banyak kekerasannya, seperti filem yang dibintangi Matt Damon, Liam Neeson, atau Denzel Washington. Menyaksikan filem-filem ini sangat menghibur dengan tetap menjaga jarak sebab tidak menimbulkan terlalu banyak rasa simpati dan empati.

Filem bagi saya itu seringkali menjadi media untuk menemani melamun! Saya sering memutar filem-filem lama tidak melulu karena ceritanya, tapi fragmen-fragmen dalam filem itu sering me-relate, menghubungkan saya dengan pengalaman masa lalu. Yang sederhana saja, misalnya berjalan kaki dari rumah di pagi hari menuju tempat kerja, berhenti sejenak di warung kopi, lalu terus menyusuri jalan ketika matahari hampir terbit, lalu sibuk membuka toko. Nah itu saya sungguh-sungguh pernah alami. Saya merasa pernah menjadi bagian dari kesibukan kota besar semacam itu. Fragmen di filem semacam itu menghidupkan kembali kenangan lama. Pergi ke farmers market, misalnya. Ya sebetulnya sama saja dengan pasar tradisional di Bandung, bedanya di filem itu jauh lebih bersih, lokasinya kebanyakan di tengah kota, dekat taman. Yang dijual tidak hanya bahan mentah atau sayur-sayuran, tapi juga roti organik, madu organik, hingga karya seni rumahan. Seru!

Banyak hal yang menghubungkan saya dengan pengalaman, sehingga kembali menggelitik sisi-sisi sensitif yang saya miliki dan menghidupkan kembali banyak rasa yang mungkin karena banyak kesibukan hidup sudah mulai surut dan bahkan menghilang. Tempat misalnya, karena saya banyak menghabiskan waktu untuk berpergian ke berbagai tempat di Amerika, saya mengenal lokasi-lokasi tertentu dan sering digunakan sebagai ilustrasi di banyak filem. Ini juga menarik. Seperti filem-filem yang dibintangi Tom Hanks, di Seattle ada tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, di New York saya juga tahu beberapa lokasi. Itu semua memberikan kegembiraan tersendiri.

Escapism. Ini kata kunci yang saya sukai berkenaan dengan menonton filem. Yaitu menjauhkan kita sejenak dari kenyataan, memberi kesempatan bagi saya untuk mengunjungi dunia, budaya dan pengalaman lain. Saat-saat ini dapat dijadikan semacam jeda dan saat beristirahat dari kesibukan sehari-hari.

Nah faktor-faktor yang saya ungkapkan di atas menjadikan filem sebagai media yang memiliki resonansi luar biasa dengan pemirsanya yang membuat masyarakat mencintai pengalaman-pengalaman sinematik.

Foto credit: bobo.grid.id