Untuk kejar mimpimu
Kejar perlumu
Kejar maumu
Kita jaga tak terputus kata
Segala mugkin lagi bersama
Bila sudah begitu jalannya
Semoga sedih ini sementara
Sementara...
(Tulus - Remedi, Manusia 2022)
Sebait lirik diatas kurasa cukup menyiratkan apa yang sedang kurasa terhadap anak lanang yang sebentar lagi akan melangkah keluar dari rumah. Perasaan campur aduk antara khawatir sekaligus bersemangat. Perjalanan baru yang akhirnya menyadarkanku bahwa selalu bisa sama-sama kami lalui dengan hati yang lapang. Mungkin bagi orang dewasa setiap perubahan bisa diterima dengan lebih mudah, tetapi bagi anak perlu ada penyesuaian untuk pertama kali dan rasanya hal itu gak mungkin bisa dilalui kalau belum apa-apa sudah dibebani oleh kekhawatiran orang-orang disekitarnya.
Setiap hari aku mengingatkan diriku tentang anakku yang akan menginjak usia duabelas tahun, anak yang hadirnya kuyakini dapat mengajariku memahami lebih jauh tentangku. Teringat dialog yang pernah kulakukan terhadap diriku sendiri diusia yang sama dengannya. Mungkin itu pun yang sering anakku lakukan sekarang. Bedanya, aku kecil selalu banyak pertimbangan, memikirkan segala hal sampai akhirnya habis waktu hanya untuk meragu sendiri. Dan ketika menjadi seorang ibu keinginanku menjadi sosok pelindung amatlah besar. Padahal semakin bertambah usianya, ia tak lagi membutuhkan hal itu. Disinilah tantanganku dimulai, harus bisa menyelaraskan diri dengan merubah cara pendampinganku.
Sekali lagi, perubahan itu tetap butuh waktu untuk bisa dijalani dengan rasa nyaman. Aku jadi memikirkan perasaan anakku yang inner circle-nya seperti aku, tak mustahil dia pasti juga memiliki rasa untuk tidak mau mengecewakan. Pernah suatu ketika saat kami makan siang bersama, kukatakan padanya bahwa cara manusia belajar adalah dengan berbuat salah. Maka tak apa-apa jika salah dan tak mengapa juga ketika memiliki perasaan bersalah karena kita jadi tahu bagaimana membuat diri agar lebih baik dari hari kemarin. Bukan untuk oranglain kita melakukan hal tersebut tetapi untuk diri sendiri agar bisa melangkah lebih jauh lagi.
Nah, anakku yang masih baru memulai perjalanan hidup mungkin masih terkaget-kaget, ternyata jalannya bisa membawa kita bertemu dengan banyak cerita; sedih - senang, suka - duka (yang lagi-lagi) bagi saya semua hanyalah warna untuk memeriahkan hidup. Baginya yang masih baru melangkah perlu sekali banyak latihan untuk bisa menyadari kalau segalanya sangat bergantung pada respon kita terhadap hal tersebut. Dan aku jadi teringat untuk membagi apa yang pernah diajarkan padaku dan mungkin sudah saatnya untuk bisa berbahagia secukupnya serta bersedih seperlunya.