AES689 Darurat Demokrasi
Andy Sutioso
Thursday August 22 2024, 7:38 PM
AES689 Darurat Demokrasi

Ada yang kurang kalau saya tidak menulis tentang ini. Di dalam prosesnya, saya mengikuti dinamika proses politik yang sedang berlangsung di Indonesia. Ada sesuatu yang memantik kembali atensi saya terhadap dinamika politik yang terjadi. Lepas dari proses Pemilihan Presiden yang lalu, saya cenderung mengambil jarak dari berbagi proses politik yang ada. Tulisan saya terakhir yang temanya politik adalah pada tanggal 22 April 2024, judulnya adalah Apatisme Politik. Tulisan ini saya susun paska Pilpres di mana saya menyadari bahwa sekecil apapun, kita harus tetap berusaha menempatkan kesadaran kita dalam konteks politik.  

Saya kira ini yang terjadi dengan masyarakat Indonesia, termasuk juga sebagian kecil dari pejabat negara yang masih punya nurani. Keputusan MK no. 60 dan 70 sepertinya adalah bentuk kesadaran yang bangkit dari pada para hakim MK yang akhirnya melihat bahwa memang para elit politik sudah kebangeten. Beberapa tokoh bangsa bahkan menyebutnya sebagai (maaf), sebuah kegilaan. Saya bersepakat dengan mereka.

Peraturan hukum dan perundangan adalah bukan sekedar aturan belaka. Ada hal-hal yang mulia di belakangnya, ada moral dan etika yang melatarinya. Pada tokoh bangsa dan pakar tata negara di Indonesia banyak bicara tentang ini. Dan hal inilah yang sama sekali diabaikan oleh sebagian besar para elit. Yang akhirnya sekarang sedang menghadapi kemarahan bangsa Indonesia melalui demo di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat Indonesia sedang terbangun dari apatisme politiknya. 

Kalau teman-teman melihat bahwa di ruang sidang DPR/MPR dipajang lambang Garuda Pancasila - berukuran besar yang demikian gagahnya, tapi apakah simbol itu bicara? Hari ini kita sedang banyak bicara tentang spirit di sekolah kita Semi Palar. Pernahkah berbagai nilai dan semangat kebangsaan yang disimbolisasikan oleh Pancasila dijadikan bahan refleksi oleh ratusan wakil rakyat yang duduk di ruangan itu. Wakil rakyat yang katanya terhormat, Pancasila itu kan cerminan kalian. Apakah setiap pemikiran dan kebijakan yang keluar dari pikiran kalian, dari kesepakatan kalian mencerminkan sila-sila Pancasila. Ini problem besar di ruang perwakilan tertinggi di Indonesia. Mengerikan. Sangat mengerikan. 

Proses politik seperti yang terjadi saat ini selalu jadi kesempatan baik bagi saya yang berkarya di ranah pendidikan untuk merefleksikan diri tentang bagaimana kita bisa mengupayakan berbagai ikhtiar pendidikan agar anak-anak kita yang sedang belajar ini tidak berakhir menjadi manusia-manusia seperti yang kita lihat di panggung politik hari ini. Manusia yang tidak punya nurani, tidak menghiraukan etika dan moralitas, hanya peduli diri sendiri dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah yang terus jadi pemikiran saya, mudah-mudahan kita semua, di Rumah Belajar Semi Palar bisa menemukan jawaban dan mampu melakukannya...