Sejak beberapa hari lalu, kita dihadapkan dengan kejadian yang mengiris perasaan. Ratusan korban jiwa akibat banjir, ribuan rumah, kerusakan tak terhitung akibat banjir besar di Sumatera. Detailnya tidak perlu dituliskan di sini, skalanya tidak terbayangkan. Mengingat bencana tsunami yang pernah menghantam Aceh, hal yang sama sepertinya terjadi, bukan di pesisir, tapi di banyak daerah di pulau Sumatera. Ini ibarat tsunami yang melanda bagian dalam pulau Sumatera.
Doa dan bela sungkawa mengiringi para korban bencana banjir di Sumatera. Bukan hanya korban jiwa manusia dan harta benda, rusaknya alam yang terjadi juga jadi sumber kepedihan bagi saya.
Memang bencana ini mulai mengungkap banyak hal lain juga. Mulai muncul banyak pertanyaan apakah ini bencana alam, atau bencana karena ulah manusia. Sudah mulai jadi polemik dan masuk wilayah politik juga. Ini juga bukan peristiwa pertama, sudah berulang... Mudah-mudahan peristiwa ini mengubah kesadaran kita semua.
Saya pikir keduanya sedang terjadi, alam memang sedang membersihkan dirinya. Manusia juga bagian tak terpisahkan dari alam. Jadi bencana yang besar ini sepertinya memang proses yang harus terjadi ketika alam semesta sedang berbalik vibrasinya - menuju ke vibrasi dan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Bencana seperti ini tidak hanya terjadi di Sumatera, sejak berbulan bahkan tahunan sebelumnya sudah banyak sekali bencana terjadi di seluruh dunia dan membawa korban jiwa dan harta di mana-mana. Beberapa tokoh yang memahami tentang proses ini menyebutnya sebagai purging, proses pembersihan dari banyak hal yang secara enerji sudah tidak lagi selaras dengan tingkat kesadaran baru yang sedang meningkat ke tingkat yang lebih tinggi.
Terkait kesadaran, saya ingin menyoroti tentang polemik yang muncul akibat begitu banyaknya batang pohon yang hanyut di bawa banjir. Sebelumnya tersembunyi, tidak terlihat, sekarang terlihat mengapung di permukaan sungai, di bantaran sungai dan aliran air setelah banjir mulai surut. Batang-batang kayu tebangan yang sekarang muncul di tengah kesadaran kita.
Di luar motif yang melatari pelakunya, yang saya soroti adalah keserakahan. Mengerikan... Sebelumnya tersembunyi, sekarang segalanya muncul ke permukaan kesadaran kita. Dari situ, kita semua lah yang juga merasakan akibatnya. Entah apa yang bisa menyadarkan para pelakunya, tentang dampak dari keputusan-keputusan mereka yang tidak berkesadaran. Menebangi pohon, merusak hutan dan akhirnya juga membawa bencana yang sedemikian besar ke tengah kehidupan masyarakat di sana.
Dalam konteks yang lain, obrolan tentang ini juga berkali-kali muncul di ruang bincang di tim Semi Palar - bagaimana kita perlu mendidik anak-anak kita untuk bisa berkata cukup. Karenanya di Semi Palar, disadari atau tidak, kesederhanaan jadi nilai (value) yang kita berusaha terus jaga. Dalam suasana peradaban yang masih sangat materialistis dan dipenuhi rasa cemas berkekurangan - belajar berkata cukup dan mensyukuri apa yang kita punya adalah kekuatan besar yang bisa kita tumbuhkan dalam diri kita dan anak-anak kita. Sermoga kita, bangsa kita belajar dari peristiwa yang sedang terjadi, kalau tidak, segala kerusakan, korban dan lain sebagainya akan sirna sia-sia... Salam.